Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
234. Bersama Mama


__ADS_3

Ayu melirik kearah Zahira, melihat bagaimana Reza Mahendra selalu ingin menempel membuatnya khawatir. Lalu kemudian menoleh Radit, namun sepertinya putra semata wayangnya itu tutup mata, tak mau melihat apalagi ikut campur. Ayu menarik nafas berat, tentu dia tahu jika itu semua dia lakukan karena tak mau bermusuhan lagi dengan Zahira.


"Nyonya Zahira, mari kita lakukan pemeriksaan." Amelia sudah selesai dengan makannya.


"Baiklah." Zahira meninggalkan Reza yang selalu memandangi dan memberikan perhatian lebih. Entahlah, sesekali dia risih, namun sesekali juga menikmati kebersamaan mereka.


"Nanti aku akan menyusulmu." ucap Reza.


"Untuk apa kau menyusulnya? Kau tidak sedang hamil." malah mendapat jawaban ketus dari sepupunya sendiri, membuat pria tinggi itu menggaruk kepala.


"Makanlah dulu." Ayu menunjuk beberapa potong daging yang sudah matang.


"Terimakasih." Reza mengambil piring tak hanya Satu, tapi Dua dan memberikannya kepada David.


"Terimakasih." David tersenyum ramah.


Reza duduk berdekatan dengan David.


"Bagaimana bisnis kalian?" tanya David, tentu dia mengetahui jika Radit, Reza dan perusahaan Anggara sedang menjalin kerjasama.


"Lancar, sedang dalam tahap pelaksanaan." jawabnya memotong makannya.


"Syukurlah." David juga melanjutkan makannya.


"Tuan David, apa aku boleh bertanya sesuatu yang sedikit pribadi?" tanya Reza terlihat ragu.


"Ya, silahkan saja." David membuka kedua telapak tangannya meskipun ada sendok di tangan besarnya tersebut.


"Aku sedang mendekati putrimu. Apa, jika aku melamarnya kau akan menolakku?" Reza menatap ragu.


David tersedak.


"Maaf!" Reza meraih air putih miliknya dan mendekatkan kepada David.

__ADS_1


"Tidak masalah." David masih mengatur nafas dan menenangkan dadanya.


"Maaf, mungkin aku memang terbiasa untuk tidak berbasa-basi." ucapnya lagi.


David kembali menarik nafas, dan tersenyum setelahnya. "Kau tahu putriku seorang janda, memiliki Dua orang putra dan sedang mengandung yang ketiga. Itu tidak mudah bagimu, tidak mudah bagi keluargamu juga untuk menerimanya." David mengatakan hal yang sama seperti yang Zahira katakan.


"Aku benar-benar ingin menikahinya. Dan soal orang tuaku, aku akan mempertemukannya kepada Zahira secepat mungkin." Reza berbicara dengan sangat yakin.


"Aku minta padamu, untuk membicarakan semua itu lebih dulu kepada orangtuamu, katakan tentang Zahira jangan sampai ada yang kau tutupi, baru kau mempertemukan mereka. Jujur saja, aku tidak mau putriku di tolak, apalagi sampai menyakiti hatinya." lanjut David lagi dengan penegasan.


"Aku mengerti." jawab Reza tanpa keraguan.


"Ya." David mengangguk.


Tentu saja David tak akan tinggal diam jika ada yang menginginkan putrinya, tak hanya menjaga fisik tapi juga perasaan Zahira. Walaupun hatinya masih berharap kedua anaknya bersatu, tapi jika Zahira sudah memilih maka tak ada larangan baginya, yang terpenting putrinya bahagia.


Tak lama kemudian Amelia keluar dengan membawa peralatan dokter di tangannya.


"Nyonya, kandungan putri anda melemah. Dia tidak boleh bekerja dan jangan terlalu banyak bergerak untuk sementara. Aku harus pulang mengambil beberapa obat untuknya, jika beberapa hari ke depan Nyonya Zahira masih merasa nyeri maka harus di rawat di rumah sakit."


"Lalu sekarang?" Ayu menjadi sangat khawatir.


"Biarkan dia istirahat. Jia akan mengambil obat bersamaku." ucapnya melangkah menuju mobilnya. Ayu segera masuk ke dalam untuk bertemu Zahira.


"Sayang." Ayu mendekati Zahira yang saat ini menyandar di ranjang.


"Aku takut Mama. Aku takut tidak bisa menjaga kandunganku, ini satu-satunya titipan Mas Anggara, keinginan untuk memiliki anak perempuan." Zahira memeluk kandungannya.


"Mama tahu. Dan kau harus istirahat total." jawab Ayu mengelus lengannya.


"Aku benar-benar tak bisa apa-apa tanpa Mas Anggara." ucapnya sedih.


"Kau hanya masih terlalu sedih, tentu setelah ini kau akan semakin dewasa. Banyak bersabar, jangan terus bersedih karena itu juga penyebab kandunganmu menjadi lemah. Dia juga bersedih di dalam sana." Ayu menyentuh perut Zahira.

__ADS_1


Wajah Zahira menjadi sendu, dia sedang berpikir jika penyebabnya adalah kesedihan yang berlarut-larut semenjak kehamilan Satu bulan. Kehilangan Anggara membuatnya menggila dalam tangis, sengaja mencari waktu sendirian dan menikmatinya hingga puas.


"Kau tahu Sayang, ibu hamil itu di tuntut untuk selalu bahagia agar bayi di dalamnya juga merasakan bahagia. Sejujurnya dari awal Mama takut hal seperti ini terjadi, tapi Mama juga tak bisa berbuat apa-apa, karena bahagiamu adalah Anggara."


Zahira menatap wajah Ayu dengan kembali mengalir air mata, tentu saja yang di katakan Ayu itu benar,. bahagianya adalah Anggara.


"Tapi, Anggara sudah terbebas dari rumitnya dunia seperti kita Nak. Dia sedang menunggu di tempat yang aman. Dan tugasmu adalah mendidik dan menjaga anak-anaknya agar mendapatkan tempat yang aman pula saat menunggu hari pengadilan. Itulah kenapa dia memilihmu, karena dia tahu kau akan menjaga anak-anaknya dengan baik, seperti ibumu yang sangat menyayangimu juga mencintai ayahmu. Dan kisah mereka selalu membuat Anggara iri hingga akhirnya menemukanmu sudah dewasa, dan Tuhan menjodohkan kalian." Ayu mengelus rambut Zahira, seperti biasa sentuhan itu membuat Zahira tenang.


"Apakah dia sangat mencintai Ibu?" tanya Zahira masih penasaran.


"Ya, tapi karena ibumu lebih tua darinya dan Anggara tidak berani menyatakan perasaannya saat itu, hingga akhirnya dia kembali dari tugas militernya dan ibumu sudah memilih ayahmu." Ayu tersenyum mengenang kisah mereka, dia adalah saksinya.


Zahira tersenyum membayangkan bagaimana suaminya saat itu. "Rencana Allah sungguh indah Ma, karena kekagumannya dengan ibu membuatnya begitu menjaga dan menyayangiku, hingga akhirnya mencintaiku dengan sangat."


"Ya, dia memilihmu Sayang, sekalipun ada banyak wanita cantik di luar sana, dia selalu menjaga diri untuk tidak terlibat perasaan ataupun masalah dengan mereka. Dan ternyata dia menjaga cintanya itu hanya untukmu." Ayu tertawa mengingat bagaimana Anggara sangat jarang tertawa, hanya sedikit tersenyum dan lebih banyak diam. Berbeda jika sudah bersama Zahira, dia bahkan tertawa lepas dengan mata berbinar penuh cinta.


"Tentu saja, dia hanya mencintaiku." Zahira tertawa senang, nafasnya sangat lega mengingat cinta Anggara yang luar biasa.


"Kau seperti ibumu, pemilik cinta banyak pria. Bahkan ada yang sampai menangis menggila karena dirinya." Ayu terkekeh.


"Siapa?" tanya Zahira penasaran.


"Seorang tentara, yang juga berkorban perasaan untuk ibumu." jelas Ayu lagi.


"Ibuku sangat hebat, bahkan Mas Anggara sampai tak mau menikah gara-gara terlambat memilikinya." Zahira jadi tertawa.


"Tuhan sudah mengaturnya Nak, begitu juga dirimu. Semua belum berakhir, kau masih muda dan banyak sekali pria yang menginginkanmu." ucap Ayu.


"Siapa Mama?" Zahira menggeleng pelan.


"Reza Mahendra, dan banyak lagi anak-anak pengusaha yang mulai menanyakan tentangmu termasuk kepada Mama." jawab Ayu tersenyum.


"Tadi siang Reza Mahendra menyatakan perasaannya padaku Mama." ungkap Zahira menatap Ayu serius.

__ADS_1


__ADS_2