Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
176. Tidak terkejut


__ADS_3

"Mas?" Zahira mendongak wajah tampan yang menghembuskan nafas hingga ke wajahnya itu.


"Hem." Anggara menunduk, sehingga keduanya saling menatap.


"Apa kau tidak suka?" Zahira kembali bertanya, ia berpikir jika Anggara sedang memikirkan perihal hamil. Aneh sekali, bukankah belakangan dia yang sangat ingin Zahira kembali mengandung anaknya.


"Suka Sayang, tentu saja aku bahagia jika di dalam sini ada anakku! Anak kita." Anggara mengecup lembut kening halus Zahira. Menghadirkan rasa nyaman dan membuatnya memejamkan mata.


Anggara masih setia menatap wajah yang tertidur dalam pelukannya, wajah cantik, halus, damai dan sungguh sempurna. Anggara mencintainya, menggilainya, selalu memujanya, sulit di bayangkan jika ia sampai kehilangan Zahira, istri yang teramat sangat ia cintai. Hatinya selalu bergetar jika menatap wajah cantiknya, suaranya, kelembutannya, membuat Anggara selalu tergila-gila, ingin selalu dekat tak berjarak dengan dirinya.


"Aku mencintaimu Sayang, sungguh aku tak bisa jauh apalagi kehilanganmu." Anggara mengecup keningnya berkali-kali.


Radit benar, jika laki-laki yang sudah jatuh cinta akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Hati selalu gelisah membayangkan betapa indahnya bercinta dengan dirinya. Anggara tersenyum mengingat masa-masa dulu ia juga seperti itu, bahkan mendengar suara pelan dari bibir merah Zahira, ia seakan mendapat sengatan listrik yang membangkitkan hasrat laki-laki yang selama ini tidur panjang tanpa terusik. 'Istriku luar biasa.' ucap hati Anggara.


*


Awal pekan yang sangat sibuk, pergi di jam lebih pagi dan pulang lebih sore. Begitulah biasanya yang dialami banyak orang di tengah kota yang padat.


Radit sudah tiba di kantornya dengan pakaian rapi tampan dan wangi, begitulah pria muda itu selalu menjadi pusat perhatian. Langkah tegap dan tubuh yang gagah, juga wajah yang menggoda, membuat pegawai wanita semakin bersemangat dalam bekerja, berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian seorang Direktur muda Raditya.


"Selamat pagi Pak!" sekretaris muda menyapa Radit.


"Selamat pagi." jawabnya singkat.


"Ada tamu yang sudah menunggu sejak Tiga puluh menit yang lalu di ruangan meeting." ucapnya lagi.


Radit mengernyitkan keningnya, "Siapa?"


"Seorang wanita." sekretaris Radit menunduk sopan.

__ADS_1


Radit berjalan menuju ruangan meeting, ia heran jika itu rekan bisnis maka harusnya tidak masuk ke ruang meeting. Radit membuka pintu ruangan itu.


Wanita itu menoleh, rambut panjang bergelombang dengan dress selutut, tubuh putih dan berisi.


"Merry." tidak terkejut.


"Apa kabarmu Radit?" ucapnya lembut.


"Mau apa kau datang kemari?" Radit duduk berjarak, namun berhadapan dengan meja besar ditengah-tengah mereka.


"Hanya ingin bertemu denganmu, kurasa kau juga ingin tahu kabarku." Merry bersikap tenang dan menebar senyum santai.


"Ya, hanya sedikit penasaran. Ku rasa seorang Daniel tidak akan membuang waktu demi seorang wanita kriminal sepertimu, jika tidak mendapatkan imbalan yang menyenangkan." Radit memelankan kalimat terakhirnya, namun penuh tekanan.


"Apa yang menyenangkan dariku?" Merry pura-pura tidak mengerti.


"Radit, aku datang untuk meminta maaf. Aku hanya sedang berusaha bangkit dari semua yang sudah membuatku hancur. Kehilangan Laura membuatku sangat terpukul, ku rasa itu semua adalah hukuman yang pas untukku. Dan sungguh, aku ingin kau juga memaafkan aku." Merry menatap penuh harap.


"Entahlah, aku tidak yakin dengan permintaan maafmu itu." Radit tak merubah posisi santainya.


"Semua orang akan berubah ketika sudah melewati hal tersulit dalam hidupnya, juga aku. Sungguh aku minta maaf, dan kau tahu sebab mengapa aku melakukan itu semua. Tidak lain karena aku mencintaimu."


"Lupakan saja, aku sedang tidak suka mendengar kata cinta. Apalagi jika disertai kebohongan." Radit membuang muka, malas sekali mendengar ungkapan palsu.


"Radit, beri aku kesempatan untuk kembali dekat denganmu."


"Tidak!"


"Hanya berteman, seperti saat kita masih sekolah. Terkadang aku butuh rasa nyaman untuk melupakan semuanya, dan hanya kudapat ketika aku -"

__ADS_1


"Cukup, pergilah dan jangan datang lagi." Radit benar-benar bosan mendengarkan ocehan tak berguna Merry.


"Radit!"


"Merry, saat masih sekolah itu adalah masa dimana aku sangat bahagia bersama Zahira, aku hanya mengenal dia dan dia hanya mengenal aku, kami hanya memiliki dunia yang indah mengarungi rasa cinta itu setiap waktu, dan dunia kami hancur ketika kau datang menjebakku. Dan kau masih berani datang padaku setelah semua yang kau lakukan?"


"Aku juga mencintaimu saat itu Radit, kau menghinaku dan tak menolehku sama sekali." Merry mengingatkan kesalahan Radit. "Tapi kau juga tahu setelahnya aku juga sangat menderita, aku kehilangan Laura dan masuk penjara, kau tidak tahu betapa menderitanya ada di dalam sana."


"Apa kau tahu rasanya menjadi gila karena kehilangan orang yang dicintai? Apa kau juga tahu rasanya koma berbulan-bulan, di tempat asing antara hidup dan mati? Apa kau tahu rasanya jatuh ke jurang yang dalam hingga menghilangkan kesadaran? Ku rasa kau hanya melebih-lebihkan penderitaanmu." Radit beranjak.


"Ku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Merry berdiri menghadang Radit.


"Apa yang bisa kau perbaiki? Bahkan semua sudah hancur tak bersisa. Dan itu karena dirimu!" Radit menunjuk dada Merry, ia melangkah meninggalkan ruangan itu meski Merry sempat menahan lengannya.


"Radit!" Merry mengejar hingga keluar, ia setengah berlari.


"Radit, tunggu!" Merry berhasil meraih bahu Radit meskipun laki-laki muda itu menyingkirkan tangannya dengan tak suka.


"Apalagi?"


"Aku mohon maafkan aku. Aku janji akan membuatmu kembali bersama Zahira jika itu yang kau inginkan. Asal kau mau memaafkan aku, aku akan meyakinkan Zahira-"


"Jangan pernah mendekati Zahira lagi! Lebih baik kau menjauh dan tidak ikut campur tentang hidupnya. Karena jika kau menyentuhnya sedikit saja, aku pastikan orang yang akan menghabisi mu adalah aku." ucap Radit geram, bisa dikatakan itu merupakan ancaman.


Merry terdiam dengan wajah tak percaya, bahkan di saat Zahira sudah menikah dan punya anak, Radit masih memendam perasaan padanya. "Sebenarnya apa yang di miliki wanita itu, sehingga banyak laki-laki yang menginginkannya."


Sedangkan di kantor Anggara, Beberapa asisten sedang duduk berdiskusi tentang saham perusahaan mereka. Juga Dua asisten andalan Anggara, Ricky dan Ricko yang saat ini tampak menjelaskan perkembangan saham.


"Kita harus waspada dengan pengusaha baru yang lumayan berpengaruh akhir-akhir ini. Dia bukanlah pembisnis sejati yang hanya menciptakan dan menjual, tapi menikung dan menipu sudah biasa bagi mereka. Ingatkan semua Direktur PT dan manager cabang kita agar selalu waspada dan tidak tertarik untuk menjalin kerjasama dengan iming-iming keuntungan besar, bisa jadi mereka sedang menyusun rencana untuk menjatuhkan dan merebut saham. Mereka bukan hanya licik, tapi cara kerja mereka mirip seperti rentenir. Jadi, jangan sampai kalian menerima uang yang akan menyulitkan kalian, baiknya tidak menjalin kerja sama baru, lanjutkan saja semua yang sudah kita jalani selama ini. Hati-hati dan tetap awasi relasi kalian, mereka bisa saja berkhianat."

__ADS_1


__ADS_2