
Lama berbicara di telepon, meski hanya sekedar bercanda dan bercerita, cukup membuat keduanya merasa dekat.
"Mas, aku ingin istirahat." Zahira sudah mulai mengantuk.
"Oh, tentu Sayang. Aku-pun ingin tidur, perbedaan waktu tak membuatku bisa bertahan di siang hari." jawabnya juga merasakan hal yang sama.
"Ya, kau juga harus bersiap untuk nanti malam."
"Tidak juga." ucap Reza terdengar santai.
"Selamat siang, assalamualaikum Mas." Zahira mengucapkan salam terlebih dulu, atau pembicaraan melalui telepon itu akan menjadi lebih lama lagi.
"Ya Sayang. Wa'alaikum salam." jawab Reza Mahendra, terdengar lega setelah berbicara banyak, sedikit melepas rindu.
Jika Zahira langsung menuju kamarnya dan langsung tidur, berbeda dengan Reza Mahendra. Pria itu masuk ke kamar namun ibunya menyusul.
"Ada apa Mama? Aku mengantuk." ungkap Reza meraih bantal dan mulai tidur.
"Mama hanya ingin memberikan pakaian ini, untuk kau pakai nanti malam." jelas Nyonya Carolina menggantung pakaian di urutan paling depan, lalu menutup kembali lemari pakaian di kamar Reza Mahendra tersebut.
"Oh, ku rasa terlalu berlebihan. Mereka bukan orang yang terlalu spesial." Reza berkata sambil memejamkan matanya.
"Tetap saja harus tampil lebih baik, kau putraku yang baru sekali ini mereka melihatmu tentu harus terlihat istimewa." Nyonya Carolina berbicara namun sepertinya Reza sudah tak mendengar.
Hingga malam pukul 7:00 malam waktu London.
"Memangnya seperti apa rekan bisnis Mama sehingga kita harus terlihat sangat rapi? Bukankah di malam hari seperti ini tak perlu terlalu formal?" Reza masih saja protes dengan keinginan ibunya.
"Di sini dan Indonesia jelas berbeda Sayang." ucap Nyonya Carolina terdengar sangat bahagia juga sedikit merayu putranya.
__ADS_1
"Ku rasa biasa saja dan sama saja." hanya bisa menurut, mana tahu jika menurut bisa sedikit melunakkan hati Nyonya Carolina yang masih saja egois.
Perjalanan hanya sekitar 30 menit, jarak antara Cafe dan apartemen Nyonya Carolina memang tak terlalu jauh, mereka sudah sampai.
Nyonya Carolina berjalan menggandeng Reza Mahendra dengan sangat bangga, tentu karena putranya sangat tampan, tinggi, gagah dan terlihat menggoda bagi banyak wanita-wanita cantik. Nyonya Carolina yakin jika pertemuannya dengan orang yang di sebut rekan bisnis itu akan berlangsung dengan baik, dan berhasil sesuai rencananya.
"Itu dia." Nyonya Carolina menunjuk Meja khusus yang sudah berisi dua orang, pria dan wanita berusia lima puluhan tampak mesra, tampan dan cantik masih terlihat jelas meskipun mereka tak lagi muda. Mereka menyambut kedatangan Nyonya Carolina dengan senyum mengembang.
"Selamat malam Nyonya." begitu Nyonya Carolina menyapa wanita yang lebih muda daripada dirinya, namun terlihat sangat terhormat. Bisa di pastikan mereka bukanlah orang sembarangan.
"Selamat malam Nyonya Carolina." jawab mereka bergantian, mata wanita berambut kecoklatan itu melirik Reza Mahendra yang baru saja tersenyum dan menundukkan sedikit kepalanya.
"Ini putraku satu-satunya, namanya Reza Mahendra." Nyonya Carolina memperkenalkan Reza Mahendra dengan sangat bangga.
"Oh, kau tampan sekali." puji wanita berambut kecoklatan tersebut. Terdengar fasih berbahasa Indonesia.
"Terimakasih Nyonya." Reza tersenyum sopan. Tentu sikap penuh wibawa sebagai pemimpin terlihat jelas dari sosok Reza Mahendra. Itu mebambah nilai plus untuknya.
Beberapa menit berlalu. Kedua wanita itu sibuk memesan makanan juga minuman untuk mereka semua. Bahkan mereka memesan satu porsi lagi untuk seseorang yang belum datang.
"Kau pasti sangat sibuk di Indonesia sehingga tidak pernah datang kemari?" pria berwajah tampan ala timur tengah itu memulai obrolan dengan Reza Mahendra, sikapnya santai dan sederhana, begitu kesan yang dilihat Reza Mahendra.
"Iya Paman, aku sibuk mengelola perusahaan di sana. Aku pernah datang kemari namun hanya beberapa hari dan setelahnya kembali lagi ke Indonesia. Pekerjaan membuatku tak bisa pergi terlalu lama." jelas Reza Mahendra.
Obrolan yang seimbang, membuat keduanya terlihat dekat hanya dalam hitungan menit. Tentu hal itu tak luput dari lirikan kedua wanita di samping mereka.
Nyonya Carolina dan wanita rekannya juga melirik jam tangan, mereka tampak sedikit gelisah.
"Sayang, coba kau saja yang menghubungi putri kita." pinta wanita tersebut.
__ADS_1
"Owh, aku sampai lupa." pria itu menghentikan obrolan mereka sejenak, meraih ponsel dan mencoba menghubungi seseorang.
"Tidak di angkat, mungkin sedang menuju kemari." jelas pria itu lagi dengan tetap tenang. Tapi berbeda dengan dua wanita di samping mereka. Nyonya Carolina melirik Reza lalu melirik teman di hadapannya.
"Siapa yang sedang kita tunggu?" tanya Reza sedikit penasaran dengan sikap semua orang.
"Putriku." jawab pria itu dengan tersenyum, sikapnya selalu sopan dan santai, tapi penuh wibawa dan, senyumnya mengingatkan Reza dengan seseorang.
Reza menoleh ibunya.
"Kita memang sedang menunggu seseorang yang sangat cantik dan baik sekali. Kau pasti menyukainya." jelas nyonya Carolina memuji putri kedua rekannya tersebut.
Cukup mengejutkan bagi Reza Mahendra, ia paham sekarang. Ternyata pertemuan makan malam ini bukanlah pertemuan dengan rekan bisnis melainkan perjodohan. Ya, seperti yang di katakan Zahira, ibunya sudah memilih wanita yang lebih baik daripada Zahira, tapi menurut Reza Mahendra tak ada yang lebih baik daripada Zahira, dan perjodohan ini hanyalah membuang waktu saja.
"Ah, tunggu sebentar. Ponselku berbunyi." Reza beranjak sambil merogoh kantong jasnya. Membuka layar ponsel menuju lobi.
"Reza!" ternyata Nyonya Carolina menyusul dengan terburu-buru, ia tahu jika Reza sedang marah Kecewa karena ia sudah di bohongi tentang pertemuan dengan keluarga gadis yang akan di jodohkan padanya.
Reza tak mau mendengarkan, ia terus berjalan cepat.
"Reza! Tunggu. Mama perlu bicara denganmu!" Nyonya Carolina mengejar setengah berlari, juga sedikit berteriak.
"Apalagi Ma?" kesal Reza berbalik setelah ibunya berhasil menarik jas yang di pakainya.
"Kau harus bertemu dengannya! Dia jauh lebih baik daripada Zahiramu itu. Dan satu lagi, dia masih gadis."
"Mama! Gadis ataupun sudah punya anak bagiku sama saja, bahkan ribuan gadis di luar sana sudah tidak memiliki kegadisannya lagi. Dan bagiku tak ada yang lebih baik dari Zahira, jadi jangan berharap aku akan menerima perjodohan konyol ini." Reza benar-benar marah.
"Reza! Kau belum melihat betapa mengagumkan gadis itu, aku yakin 100% kau akan jatuh cinta setelah melihatnya nanti!" Nyonya Carolina masih berusaha.
__ADS_1
"Kalau begitu Mama saja yang menemuinya. Aku tidak tertarik!" geram Reza Mahendra meninggalkan ibunya tanpa menoleh, tak peduli bagaimana ibunya memanggil dan berteriak. Reza benar-benar kecewa dengan Nyonya Caroline yang tidak juga mengerti bagaimana perasaannya kepada Zahira.
Ya, Zahira yang baik, cantik dan tulus, begitu yang selalu di ingat Reza Mahendra. Dia sangat menyenangkan, tutur kata yang halus sangat menggetarkan jiwanya ketika berbicara, matanya yang bening tak terukur kedalamannya, bagaikan magnet yang menarik untuk menyelam hingga ke dasar yang paling gelap, jatuh dalam pesonanya, larut dalam kelembutan sikapnya.