
"Bagaimana denganmu? Kelakuanmu bahkan melampaui pria brengsek." Radit sangat geram melihat gadis itu tersulut emosi.
"Aku memang salah, tapi coba kau pikirkan bagaimana jika aku hamil? Aku tidak mau menanggungnya sendirian." ucapnya setengah berbisik namun penuh penekanan.
"Itu salahmu, aku tidak mau tahu." jawabnya dingin.
Radit berlalu meninggalkan Merry yang masih berdiri dengan penuh emosi. Tangannya mengepal kuat, kali ini ia benar-benar tidak akan menyerah. Sungguh dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.
Satu bulan sudah berlalu, hari itu adalah hari akhir semester mereka setelah mendapatkan hasil dari ujian. Libur dua Minggu sudah di depan mata membuat Radit begitu bahagia, ia sedang memikirkan tempat yang bagus untuk berlibur bersama Zahira. Radit sudah selesai dan akan bersiap pulang ke rumah untuk menemui Zahira.
"Aku perlu bicara serius denganmu." Merry menghampirinya dengan wajah aneh menurut Radit.
"Aku harus pulang menemui istriku." jawab Radit, ia melangkah pergi terburu-buru menuju mobilnya.
Merry mengikut di belakang hingga tiba di parkiran, Radit masuk ke dalam mobil dan Merry juga ikut masuk di dalamnya.
"Apa kau sudah gila?" bentak Radit pada gadis itu.
"Aku hamil!" ungkapnya dengan hasil tes kehamilan ia letakkan di dada Radit.
Seperti mendapat tembakan mendadak Radit begitu terkejut, sungguh ia tidak ingin mendengar kata-kata itu. Perlahan Radit melihat benda kecil yang terjatuh di pangkuannya, mengambilnya dengan tangan bergetar dan menatap dua garis berjejer di tengah benda mirip seperti lidi itu.
"Kita harus menikah Radit." ucap Merry lagi dengan menangis.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Radit menggeleng dan membuang benda itu sembarangan. Sejenak ia diam lalu kemudian meremas rambut lurusnya dan membentur-benturkan kepalanya di alat kemudi yang tadi dipegangnya.
"Tidak Merry, aku tidak yakin itu anakku. Aku hanya ingin memiliki anak dari istriku bukan denganmu. Lagi pula kau yang menjebakku, aku tidak akan bertanggung jawab atas kesalahanmu." tegas Radit dengan emosi.
"Tapi ini anakmu Radit!" pekiknya tertahan.
"Aku tidak yakin Merry."
__ADS_1
"Kau harus yakin kita melakukannya dan kau melepaskan milikmu di dalam sana." Merry hampir kehabisan kata-kata.
"Aku tidak mau anak darimu!" bentaknya lagi.
"Kau harus mau, ini darah dagingmu." ucap Merry lagi.
"Tidak, sekali lagi ku tegaskan tidak!" Radit tak mau kalah.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahu istrimu, ibumu dan ayahmu." ancam Merry dengan wajah dingin dan penuh amarah.
"Jangan kau coba menyentuh istriku, aku bisa menghabisimu jika itu sampai terjadi." Radit juga ikut mengancam.
"Kau pikir aku bodoh?" Merry menyeringai licik.
"Apa lagi?" Radit semakin marah.
"Di kamarku terdapat CCTV yang mengarah jelas di tempat tidur, Dan itu terlihat sangat bagus sekali. Aku pastikan istrimu menerima rekaman itu secepatnya." Merry merasa menang dan segera membuka pintu mobil.
"Oh baiklah." Merry mengambil ponsel dari tasnya dan menekan beberapa tombol.
Ponsel Radit berbunyi dan ia segera melihat isinya. Dua bola matanya membulat sempurna menyaksikan film pendek yang baru saja di terima dari ponsel Merry.
"Kau sudah gila!" Radit menatap jijik pada gadis itu.
"Aku memang gila, jadi ku harap kau pikirkan lagi keinginanku." ucap Merry, dengan tenang dia melangkah keluar dan melenggang menuju mobilnya. Matanya melirik Radit sekilas, tatapan kemenangan itu begitu membuat Radit lemas dan semakin marah.
Sedangkan di tempat lain.
"Ini yang anda minta." pria berkaca mata itu menyerahkan sebuah disk yang di bungkus dengan kertas.
"Terimakasih." jawabnya singkat. Pria berkacamata itu langsung meninggalkan ruangan besar itu.
__ADS_1
"Mau di putar sekarang?" Asisten pribadi Anggara angkat bicara.
Anggara menggerakkan telunjuknya tanda setuju, dan tak lama setelahnya laptop di hadapan keduanya menyala.
"Dia di jebak!" Anggara bergumam, wajahnya tampak terkejut.
"Benar. Menurut informasi yang ku dapat dari anak buahku, wanita itu sangat menyukai Radit, dan kalau tidak salah Radit pernah menghina atau membandingkan dirinya dengan Zahira sehingga gadis itu nekat melakukannya." jelasnya sangat yakin.
"Aku rasa Zahira akan terluka kali ini." ucap Anggara pelan.
"Kau ingin aku bagaimana?" tanya asisten bernama Ricky.
"Kita lihat saja, aku tidak bisa melampaui urusan pribadi mereka. Walaupun aku takut Zahira terluka tapi tugasmu hanya mengawasi Zahira saja, cegah jika terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya." tegas Anggara pada Ricky.
"Harusnya kau memanfaatkan kondisi ini." ungkapnya dengan ragu-ragu.
"Tuhan akan mengurus semua dengan baik, dan jika Dia memberi aku kesempatan sekali lagi, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku janji padamu." ucap Anggara tersenyum pada asistennya itu.
"Aku harap begitu, agar perusahaan raksasa ini tidak hanya di bagikan pada panti asuhan dan orang-orang licik yang menanti reruntuhan hartamu." Ricky berlalu dengan senyum penuh harapan.
Anggara tertegun mendengar ucapan asistennya itu, ada benarnya jika ia segera menikah dan punya anak. Seluruh hartanya akan jatuh pada putra atau putrinya kelak, dan semoga istrinya adalah wanita yang benar-benar ia tunggu dan sudah pasti dia akan merasa istimewa memiliki istri dan anak dari wanita sholehah. Hartanya akan sangat berguna jika ditangan orang yang tepat, tidak dengan wanita yang mengincar hartanya untuk bersenang-senang saja.
Tangan berjari indah itu terangkat memijat batang hidungnya, sedikit tertawa dengan pikiran konyol yang ada di otak kepalanya. Bukankah mengharapkan istri orang itu adalah dosa, tapi sungguh hatinya tak bisa berdusta bahwa Zahira adalah wanita terbaik untuk di jadikan istri juga ibu dari anak yang akan mewarisi seluruh hartanya.
Tapi jauh di dalam hatinya, mengesampingkan rasa suka dan harapan yang aneh itu, dia juga merasa bertanggung jawab atas Zahira karena ibunya adalah penyelamat bagi Anggara. Tanpa Revalia Az-Zahra mungkin saat ini Anggara hanyalah tinggal nama. Wanita cantik dan berakhlak baik itu begitu meninggalkan kesan bagi Anggara, tak hanya rasa cinta namun kekaguman atas sikap dan tutur katanya membuat Anggara berpikir tak ada wanita lebih baik dari dirinya. Dan itu terjadi hingga saat ini setelah dua puluh tahunan sejak ia SMA.
*
"Assalamu'alaikum." Radit masuk dengan salam untuk Zahira, namun tak ada jawaban, atau mungkin Zahira sedang di kamarnya.
Radit berjalan menuju lantai dua di mana kamar mereka berada. Pintu tak tertutup rapat, sudah pasti Zahira ada di sana sehingga Radit membuka pintu dan ingin segera memeluk istri tercinta, tapi Radit begitu terkejut saat mendapati Zahira memegang ponselnya dengan mata tak berkedip dan wajah yang serius, Radit merebut paksa ponsel itu dari tangan Zahira.
__ADS_1
"Radit!" Zahira menatapnya dengan sangat terkejut.