
"Tapi aku tak sepenuhnya bersalah, aku harus melihat bagaimana keadaannya." Reza mendorong seorang bodyguard yang memegang tangannya.
"Dia tidak butuh dirimu, kau sudah terlalu lancang selama ini. Kau lupa Zahira itu siapa? Jangan hanya karena dia sendirian dan sedang terpuruk sehingga kau memanfaatkan keadaannya, dengan bebas kau memerintah di dalam rumah Anggara? Ku rasa kau memang perlu disingkirkan." Ricko memang lebih di kenal kejam dan keras dari pada Ricky.
Di belakang Ricko Radit juga sedang berusaha berlari.
"Tidak,, tidak! Hanya dia!" tunjuk Radit pada dua orang bodyguard Ricko, Radit juga sedang mengelak menghindari mereka.
"Kau juga keras kepala, sebaiknya kau diamankan agar tidak memperkeruh suasana. Kau dan dia sama saja." Ricko menunjuk Radit yang terus mundur menghindari dua orang bodyguard Ricko.
"Jia tolong katakan padanya." Radit meminta tolong kepada Jia yang saat ini berdiri dengan wajah datar.
"Aku tidak ikut campur, Nyonya harus segera di bawa." Jia berlalu masuk ke dalam menemui dokter bersama Ricky.
"Jia!" Radit berharap wanita kurus itu membantunya.
"Polisi sudah ada di luar." ucap Ricko lagi, ternyata dia tidak sedang menakut-nakuti.
"Om, jangan bercanda!" Radit terus menghindari dua orang bodyguard tersebut.
"Aku tidak mau di tahan!" Reza menunjuk Ricko, yang tampak tak peduli.
Ternyata benar dua orang polisi masuk dan menuju ke arah mereka.
"Ricko! Kau sudah gila!" David membentak Ricko.
"Aku tidak gila, mereka yang membuat ulah. Tangkap dan ambil ponsel mereka." Ricko menatap geram pada kedua laki-laki yang tak pernah akur.
"Om, Zahira belum sadar dan aku harus menemaninya." ucap Radit memohon.
Ricko tak peduli, membuang muka tak mau melihatnya. Membiarkan Radit dan Reza di bawa paksa oleh polisi bersama empat orang bodyguard pribadinya.
"Dia putraku! Kau keterlaluan!" kesal David pada rekan sekaligus teman lamanya.
David meraih ponsel segera menghubungi pengacaranya, tidak mungkin membiarkan Radit di tahan sedangkan Zahira masih di belum sadar.
Tak lama kemudian mereka semua keluar dengan wajah masih menekuk.
"Bagaimana?" tanya Ricko kepada Ricky rekan sesama asisten tersebut.
"Dokter Zahira bersedia datang, kita tunggu saja satu jam dia akan tiba." jawab Ricky duduk di kursi tunggu.
"Syukurlah." ucapnya ikut duduk bersama Ricko.
"Aku tidak habis pikir pukulan Reza sekeras itu. Pelipis hingga matanya ikut membiru." jelas Ricky memijat kepalanya.
"Jelas membiru, dia laki-laki dan menguasai bela diri." Ricko menjawab dengan menyandar lelah.
__ADS_1
"Semoga tidak terjadi apa-apa." Ricky ikut menyandar.
Sementara Ayu dan Jia duduk dan memijat kepala, mereka sama-sama tidak tenang karena Zahira belum juga sadar.
"Anak-anak harus di jemput." Ayu melihat sekeliling tak ada Radit putranya.
"Dimana Radit?" tanya Ayu, sekilas melihat jam tangan karena anak-sudah waktunya pulang.
"Radit di bawa polisi." kesal David melihat rekannya yang bernama Ricko.
"Apa?" Ayu sangat terkejut.
"Dia yang meminta polisi menahannya." David menunjuk Ricko dengan kesal.
"Mengapa kau melakukannya? Dia putraku!" kesal Ayu melempar Ricko dengan tisu menggumpal ditangannya.
"Mereka hanya bisa bertengkar! Kepalaku sakit dengan kelakuan mereka." Ricko menjawabnya dengan wajah tak peduli.
"Ada-ada saja, kau pikir kita sedang bermain-main? Putriku pingsan dan kau malah membuat Radit di tahan!" Ayu memarahinya.
"Dia yang membuat Zahira pingsan! Jika suaminya masih hidup mungkin bukan hanya sekedar ditahan, tapi mereka sudah habis ditangannya!" Ricko juga kesal.
"Tapi paling tidak kau tanyakan terlebih dahulu seperti apa kejadiannya!" Ayu memijat kepalanya sendiri.
"Ya, nanti akan ku pikirkan lagi." jawabnya dengan santai.
"Minta suster mengurusnya, jangan katakan jika ibunya sedang sakit." pinta Ayu lagi.
"Ya." Jia mengangguk.
Menunggu satu jam sepertinya sangat lama, mereka berdiam dengan tanpa ada yang bicara. Hingga beberapa saat kemudian suara langkah cepat beberapa orang datang ke arah mereka.
"Dokter Ana!" Ricky berdiri lebih dulu, mengenal sosok berjas putih tersebut.
"Tuan Ricky apa kabar?" ucapnya menunduk hormat.
"Baik, terimakasih kau sudah bersedia datang." ucap Ricky dengan sangat sopan.
"Sama-sama, dimana pasien berada?" tanya wanita berambut cokelat itu.
"Mari." Ricky melangkah masuk keruangan Zahira di iringi dua orang dokter dan seorang lagi di belakangnya.
"Dia terkena pukulan di pelipisnya." Ricky menunjuk wajah Zahira yang membiru dari tulang pipi, mata hingga rambut di atas pelipisnya.
"Ini cukup keras." ungkap dokter Ana, terlihat khawatir, mengusap bagian yang membiru.
"Kami khawatir dia_" Ricky tak melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Aku akan memeriksanya." Dokter tersebut mulai bekerja dengan dua orang yang ikut bersamanya.
"Aku menunggu di luar." Ricky meninggalkan mereka.
"Apa katanya?" Ayu terlihat mengintip saat pintu dibuka oleh Ricky.
"Masih di periksa." Jawab Ricky lemas.
"Ya Tuhan, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk." Ayu menautkan tangannya sendiri.
"Aku akan ke kantor polisi sebentar, Radit pasti menggila di sana." David meninggalkan mereka, melirik Ricko sedikit.
"Tuan David." Jia memanggilnya, segera berdiri.
"Ya?" David menoleh.
"Hanya Tuan Radit, tidak untuk Tuan Reza Mahendra." ucapnya seperti biasa, datar dan dingin.
"Ya." David setuju.
"Memangnya ada apa?" tanya Ayu belum paham dengan masalah rumit anak-anaknya.
"Tuan Reza adalah pria yang menghamili Nona Ayra." ungkap Jia.
"Ayra?" Ayu sangat terkejut, ia menatap Jia penuh tanya.
"Ya, aku sudah curiga sejak awal. Tapi kemudian Tuan Radit tahu semuanya lebih dulu." ungkap Jia jujur, ia sempat melihat Ayra dan Reza bertengkar saat pertama kali mereka bertemu.
"Pantas saja Radit marah." Ayu kesal, menatap tajam Ricko yang tak jauh darinya.
Sementara Ricko pura-pura tidak melihat, ia sedang mendengarkan pembicaraan Jia dan Ayu, juga baru mengetahui penyebab bertengkar dua orang pria tersebut.
"Kau dengar! Kau malah menyeret putraku!" kesal Ayu lagi, mengomel pada teman lamanya.
"Tinggal kau telepon polisinya, aku tidak mau membebaskan putramu dan menimbulkan kecemburuan terhadap Reza Mahendra." ucapnya masih dengan santai.
"Cemburu kepalamu? Dasar tidak waras!" Ayu memarahinya.
Ricko hanya mengusap tengkuknya, merasa sedikit menyesal. Ternyata mendapat ocehan dari seorang wanita sangat memalukan.
"Dokter!" Ricky yang tak ikut campur perdebatan mereka kini beranjak melihat dokter keluar dari ruangan rawat Zahira.
"Bagaimana Dokter?" Ayu segera mendekati dokter muda tersebut.
"Tidak ada luka di dalamnya, hanya mungkin pasien sangat terkejut di sertai benturan yang cukup keras, sehingga menimbulkan tekanan pada otak dan jantungnya bersamaan." jelas Dokter Ana.
"Tapi mengapa dia belum sadar juga Dok?" tanya Ayu menatap serius.
__ADS_1