Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
29. Malam Jum'at


__ADS_3

"Sayang, apa sebaiknya kita makan malam di luar saja?" tanya Radit di malam itu, mereka baru saja selesai sholat isya.


"Ini malam Jum'at, apa tidak sebaiknya kita habiskan berdua?" Zahira melingkarkan tangan kecilnya di tengkuk Radit.


"Ah, apa kali ini istriku sedang meminta?" Radit mengernyitkan hidungnya, membalas pelukan Zahira dari pinggang hingga merengkuh seluruh tubuh kecil itu.


Zahira tak menjawab, entah mengapa kali ini Zahira yang memulai permainan, jari-jari lentik itu mulai berkeliaran membuat Radit kegirangan. Tak biasanya gadis cantik yang selalu terkesan pemalu itu kali ini menjadi lebih agresif, bahkan dia memulai berjinjit menyambar memeluk suaminya. Radit begitu bahagia malam ini mendapat perlakuan istimewa dari istrinya, mata yang sipit itu semakin berbinar penuh kebahagiaan sudah tak sabar menanti hal apa lagi yang akan di lakukan Zahira.


"Sayang aku akan menghabisi mu malam ini." bisik Radit membalikkan keadaan, menyerang Zahira penuh semangat, terkadang pelan dan terkadang sedikit kasar. Dan pada akhirnya permainan itu sudah tak bisa diatur lagi, Radit begitu menggila dan tak memberi waktu Zahira bahkan hanya untuk menyebut namanya.


"Radit kau benar-benar menghabisi ku!" ucap Zahira dengan suara terputus-putus, rasa yang melambung bersamaan itu begitu membuat lupa segalanya.


"Kau luar biasa sayang, aku tidak akan pernah melepaskanmu." Radit semakin memeluknya, belum habis keringat itu mengucur, keduanya kembali memulai dari awal. Kali ini memulai dengan lembut, sengaja mempermainkan Zahira yang tak henti memanggil namanya, kali ini gadis itu yang menggila, rasa yang di ciptakan Radit dengan santai dan tersenyum penuh kemenangan itu membuatnya tak ingin mengakhiri waktu begitu saja.


Terlalu asyik membuat Zahira menjerit hingga akhirnya dia larut dan terjebak permainannya sendiri. Hentakan itu berubah kasar dan tidak terkendali, wajah tampan yang tadi terlihat bangga dan manis kini penuh dengan seringai buas yang ingin segera mengalahkan.


"Radit pelan-pelan." ucap Zahira, tapi kata-kata itu malah membuat Radit semakin beringas hingga akhirnya berakhir dengan pelukan yang begitu erat, pelepasan yang entah kesekian kalinya menabur benih-benih cinta di lahan yang luas dan subur, berharap Zahira segera mengandung dan memberinya seorang Raditya junior.


"Berapa kali sayang?" bisik Radit dengan nafas yang menderu serta tatapan nakal.


"Aku tidak tau." jawab gadis itu tersenyum, tubuh kecil dan berisi itu masih berada di bawah Kungkungan Radit yang sudah bermandi keringat.


"Aku sungguh mencintaimu Zahira sayang." Bisiknya lagi, membenamkan wajah tampannya di leher yang wangi yang begitu membuat nyaman.


"Aku juga sangat mencintaimu Radit."balas Zahira begitu terdengar merdu.


Radit mengecup kening Zahira lalu melepaskannya, menelentangkan tubuh lelahnya di samping Zahira dan menarik nafas sebanyak-banyaknya.


"Aku sangat berharap kau hamil bulan ini." ucapnya dengan menghembuskan nafas kasar, matanya terbuka menatap langit-langit kamar yang luas itu.


Zahira memeluknya, "Kau akan menjadi ayah." ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aku akan sangat bangga jika kau mengandung anakku, kau akan gendut dan akhirnya melahirkan bayi yang begitu menggemaskan seperti wajahmu ini." ucapnya menunjuk wajah Zahira yang begitu halus, wajah itu terlihat begitu lega, gurat kebahagiaan selalu ia saksikan setiap kali selesai melakukan hubungan percintaan itu.


"Kau sangat menginginkannya?" Zahira memainkan telunjuk lentiknya di sekitar pipi Radit.


"Tentu sayang, kau adalah ibu yang sangat-sangat sempurna untuk anakku, rahimmu ini begitu aku inginkan untuk menabung benih sebanyak-banyaknya." Radit mengelus perut Zahira, lalu kemudian menutupi kembali dengan selimut.


"Semoga Allah mengabulkannya." jawabnya pelan dan tersenyum manis.


"Malam ini aku ingin membuatmu bahagia, labih dari biasanya." Radit kembali membelai wajah yang ada di sampingnya.


"Aku selalu bahagia jika berada di sampingmu Radit." bisiknya menggoda Zahira.


Malam itu terlewati dengan saling memuji, saling berbagi, melengkapi dan saling membahagiakan. Hingga pagi menjelang, rasa lelah masih saja menggelayut ditubuh keduanya, terlalu bersemangat hingga lupa otot-otot sudah tegang beralih dan bergeser dari posisinya.


"Aku tidak akan bekerja hari ini." Zahira menarik selimut semakin menutupi bahu hingga lehernya.


"Aku juga malas sekali sayang. Tapi_" Radit tampak berpikir.


"Aku ada praktek nanti siang di rumah temanku. Ah rasanya malas sekali." Radit berbalik dan kembali memeluk Zahira.


"Kau selesaikan saja, ini sudah tanggal dua puluhan, bukankah awal bulan nanti kau akan ujian." Zahira mengelus pipi suaminya.


"Aku ingin bolos saja hari ini." ucap Radit kembali menutup matanya.


Zahira tidak melarang, tidak juga memaksa Radit untuk pergi sekolah. Karena dia juga sedang merasakan lelah yang sama, kedua orang pengantin baru itu tetap dengan posisinya saling memeluk hingga mata hari sudah beranjak semakin tinggi.


Ponsel Radit berbunyi, membuat pria itu membuka mata dan meraba meja kecil di dekat ranjang mereka.


"Halo." Radit menjawabnya dengan malas.


"Kau tidak masuk?" ternyata Vino yang menghubunginya.

__ADS_1


"Aku kesiangan, semalam aku tidak bisa tidur." Radit menjawabnya, sambil tersenyum menatap Zahira yang ikut membuka mata.


"Apa yang kau lakukan sehingga membuatmu tidak bisa tidur?" Vino jadi penasaran.


"Hanya sedang terlalu lelah." jawabnya lagi, tertawa kecil.


"Apa nanti sore kau bisa datang?" ucap Vino, ia begitu berharap.


"Emmm." Sejenak ia berpikir. "Baiklah, kirimkan alamatnya kepadaku." jawab Radit kemudian.


"Siap." jawab Vino, suaranya terdengar senang dan langsung mengakhiri panggilannya.


Radit meletakkan ponselnya, dan memeluk Zahira kembali.


"Kau akan pergi?" tanya Zahira terdengar halus.


"Sebentar saja sayang, setelah sholat Jum'at. Apa kau mau ikut?" Radit menatap Zahira penuh harap.


"Tidak Radit, kau pergi sendiri saja. Jika aku ikut kau tidak akan belajar, lagi pula kau tidak akan lama." jawab Zahira.


"Baiklah sayang." Radit mengecup keningnya.


Sore itu, Radit sudah bersiap untuk pergi ke rumah Merry untuk melakukan praktek percobaan sementara bersama empat rekan lainnya. Jika boleh jujur ia sungguh malas untuk pergi, tapi sedikit merasa tak enak hati dengan teman yang lainnya.


"Sayang aku pergi sebentar. Baik-baik di rumah, tunggu aku pulang." ucap Radit setengah berbisik sambil mencuri ciuman di pipi sebelah kirinya.


"Iya Radit sayang, aku mencintaimu." jawab Zahira begitu mesra, tangan kecil itu menyelip di pinggang Radit seraya menghantar Radit menuju mobilnya.


Kecupan mesra di seluruh wajah tak lupa Radit berikan, lalu kemudian berlalu dengan senyum cerah di wajahnya.


Sesampainya di rumah mewah tiga lantai itu, Mobil Radit langsung di persilahkan masuk. Merry menyambut dengan senyum mengembang di bibir merahnya, sepertinya kali ini ia sengaja berdandan agar terlihat lebih cantik di hadapan Radit.

__ADS_1


__ADS_2