Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
286. Serba salah


__ADS_3

Akhir pekan kemudian, rumah dua lantai milik David tampak ramai dengan suara dua putra Anggara, kehadiran mereka menghangatkan suasana, meramaikan dan mengusir kesepian David dan Ayu sebagai orang tua yang bersedih karena putra semata wayangnya tak bisa memiliki keturunan. Sedihnya terbayarkan dengan kepulangan Zahira walau harus berbagi waktu tiga hari di akhir pekan, tiga hari awal pekan di rumahnya, anak-anak tak boleh jauh dari kenangan bersama ayah mereka, begitulah Zahira tidak melupakan pria yang mencintainya hingga ajal menjemput.


"Hari ini Pamanmu akan pulang." ucap Ayu kepada anak-anak.


"Aku ingin mengajak Paman bermain di pusat perbelanjaan milik Ayahku, bersama Ibu." Satria mendekat dan berkata kepada Ayu, memamerkan dua buah gigi depan yang besar.


"Ya, besok hari Minggu?" jawab Ayu memeluk Satria dari belakang.


"Yeah!" Satria mengepalkan tangannya dan mengangkat ke atas.


"Apakah kau menyayangi pamanmu?" tanya Ayu mendekatkan wajahnya di atas pundak satria.


"Ya, Aku suka, aku menyayanginya." jawab Satria menoleh wajah Ayu.


"Bagus, mulai sekarang kita akan selalu bersama." Ayu tersenyum senang.


"Seandainya Ayah masih ada." Sadewa menyahut, wajahnya tenang tapi terdengar sedih.


Ayu menoleh anak laki-laki yang sejak tadi duduk di sampingnya.


Sebuah tangan kokoh memeluk Sadewa, tak melepaskannya dan mencium bahunya lumayan lama.


Sadewa menoleh hingga wajah mereka bersentuhan. "Paman sudah pulang?" ucapnya tersenyum sedikit khas Anggara.


"Ya, Paman pulang setelah membayar kepergian ayahmu."


Radit memeluknya semakin erat, menyalurkan rasa yang dalam, berkecamuk namun tak terungkap. Sadewa persis seperti Anggara, perasa dan penyayang. Pandai menutupi perasaan, tak mau merepotkan, tak mau terlalu bermanja-manja, tapi hatinya ingin di sayang.


Sadewa tak menjawab, hanya nafasnya terdengar lega setelah tarikan yang panjang.


"Kau tidak memelukku?" Satria yang selalu bersikap dingin dan pencemburu itu mendekat.


"Tentu saja." Radit memeluk keduanya, Ayu memgusap-usap pundak kokoh Radit dengan penuh kasih sayang.


"Mandilah Sayang, kau pasti belum mandi." Ayu sedikit menepuk pundak Raditya.


"Baiklah, sekalian Paman ingin melihat apa yang sedang dikerjakan Ibu kalian, jangan-jangan dia belum bangun?" Radit melepaskan kedua putra Anggara tersebut.


"Mungkin saja." Satria tampak berpikir, apalagi sejak tadi ibunya belum terlihat.


Radit terkekeh geli, kedua putra Zahira selalu membuatnya gemas.


Di balkon lantai dua, tempat menyenangkan yang tak berubah sama sekali semenjak Zahira masih kecil.


Dulu Zahira kecil menggunakan kursi jika akan melihat pemandangan di pagi hari, lalu setelah sekolah dasar ia sedikit berjinjit. Hingga saat ini kedua tangannya bisa bertopang di atas tembok yang halus, tempat itu masih saja menyenangkan.


"Ku pikir kau belum bangun?"

__ADS_1


Suara Radit terdengar sangat dekat, membuat Zahira menoleh dan menatap heran.


"Cepat sekali kau sudah tiba di rumah, bukankah Om Ricki mengatakan pukul delapan?"


"Tidak, Paman Abi datang lebih dulu dan sudah tidak sabar memiliki menantu. Jadi dia sengaja menjemput Jia dan aku lebih awal."


"Begitu." Zahira mengangguk.


"Baiklah." Radit masuk ke dalam kamarnya, mengingat tujuan utamanya adalah mandi.


Beberapa hari kepulangan Raditya membuat suasana menjadi lebih hangat, tak ada lagi permusuhan, tak adalagi perdebatan, tak ada lagi sedih dan kemerahan, semua itu sudah hilang bersama hilangnya nyawa seorang yang selalu menjadi penyebab kehancuran.


Seperti keinginan kedua anaknya, menghabiskan malam akhir pekan yang menyenangkan di sebuah pusat perbelanjaan milik Anggara.


"Ibu, aku lelah." suara rengekan Satria dan Sadewa.


"Kalau begitu kita pulang." Zahira memeluk keduanya.


"Apa masih bisa berjalan?" Radit menggoda Sadewa yang sudah terlihat malas.


"Dia mengantuk." Satria menunjuk Sadewa.


"Baiklah, Paman akan menggendongmu. Tapi ingat ini adalah terakhir kalinya." Radit mengajar tubuh Sadewa dan memeluknya.


"Apakah aku sangat berat?" Sadewa masih tertarik untuk mengobrol.


"Biar aku saja yang membuka mobilnya." Zahira meminta kunci mobil Radit.


"Di saku jaketku." Radit meminta Zahira mengambilnya.


"Apa tidak bisa kau saja yang mengambilnya?" Zahira merasa sungkan.


"Ini jaket bukan celana." jawab Radit, walaupun pada akhirnya dia merogoh dan mengambil kuncinya.


Zahira hanya mengambil kuncinya dan membuka pintu.


'Lihat saja nanti, aku akan membuatmu membukanya sendiri.'


Radit tersenyum tipis penuh arti.


"Dia benar-benar tidur." Radit melirik Sadewa dan Satria memeluk pinggang Zahira di kiri dan kanan menyembunyikan wajahnya di perut sang ibu.


"Iya." Zahira sedikit melihat spion, mata mereka bertemu.


"Aku akan membawanya." ucap Radit setelah sampai di rumah, menggendong Sadewa lebih dulu, masuk ke kamarnya yang sengaja berada di lantai dasar.


"Maaf, mereka merepotkanmu." Zahira merasa tak enak hati, Radit harus mengendong mereka berulang kali.

__ADS_1


"Tidak masalah."


Zahira mengikut di belakang hingga masuk ke kamar, menyelimuti keduanya dan memastikan mereka nyaman.


"Aku harap mereka akan tinggal di sini hingga mereka besar." ucap Radit menatap wajah damai keduanya.


Zahira menutup pintu kamar anak-anak, kemudian melangkah naik ke lantai dua.


"Kau akan bosan dengan ulah mereka jika mereka terus berada di sini hingga dewasa." jawab Zahira kemudian.


"Aku tidak memiliki yang lain selain mereka Zahira." jawab Radit menoleh Zahira seraya menaiki anak tangga beriringan.


Zahira menghentikan langkahnya.


"Apakah kau tidak ingin berobat dan mencoba?" tanya Zahira pelan.


Radit berlalu menaiki tangga lebih dulu.


"Radit!" Zahira menyusulnya, takut pria itu merasa tersinggung.


Hingga berada di depan kamar mereka.


"Darimana kau tahu?" tanya Radit berdiri di depan pintu kamarnya.


"Aku membaca laporan medis atas namamu, semuanya lengkap disimpan oleh suamiku." jawab Zahira ikut berdiri tak mau melewati Radit.


Radit membuang pandangannya, tak mau melihat wajah Zahira yang mendadak membuat kecewa.


"Kau kembali karena itu."


Zahira tak bisa menjawab, tapi sedikit memahami bahwa Radit tak ingin dikasihani.


"Jika iya maka pulanglah, jangan korbankan kebebasanmu hanya untuk mengasihani aku, Papa ataupun Mama."


"Tidak seperti itu, selama ini aku tidak tahu dan baru saja mengetahui semuanya. Kalian menutupinya dariku, termasuk suamiku."


"Lalu?" Radit menghadap Zahira dan memandang wajah yang serba salah itu.


"Aku benar-benar ingin pulang." ucap Zahira pelan, dia tak akan menyerah.


"Sekali lagi ku katakan jika alasannya hanya kasihan maka pulanglah." Radit berkata tak kalah pelan, tapi penuh tekanan.


"Kau mengusirku?" Zahira sedikit kecewa, apalagi dengan adanya anak-anak. Hatinya sedikit merasa nyeri, takut kehadirannya tidak di terima seperti dulu.


"Tidak, hanya aku tak mau menjadi beban untukmu." Radit menarik nafas dan berusaha tidak terlalu kecewa.


Zahira menunduk dan berlalu masuk ke kamarnya, posisi yang sudah pernah berpisah membuat keduanya serba salah.

__ADS_1


__ADS_2