
Mata bening Zahira berbinar menerima sentuhan hangat itu, tangannya memeluk erat dengan satu di pinggang dan satu di tengkuk Anggara membiarkan suaminya bergerak bebas mencari sesuatu penuh tantangan, entah kapan mereka sudah memposisikan diri di ranjang empuk itu dengan begitu pas dan nampak indah sekali.
"Ada yang mengetuk pintu." ucap Zahira melepaskan bibir merahnya dari Anggara.
"Biarkan saja." Anggara kembali melanjutkan pagutan hangatnya, pria itu enggan beranjak dari aktivitas nikmat mereka.
"Emmh, mungkin penting!" Zahira berusaha melepaskan diri dari kungkungan Anggara, tangan lentiknya sedikit mendorong dada yang kembang kempis kesulitan mengatur nafas.
"Mengganggu saja." Anggara beranjak dari posisi mesranya, meraih kaos yang masih terlipat rapi dan memakainya segera. Wajah tampan itu terlihat kesal harus menahan sesuatu yang sudah memberontak, membuat Zahira terkekeh geli melihatnya.
"Ada apa?" tanya Anggara kesal sekali, setelah menutup pintu kamar itu lagi dan melihat seorang bodyguard pria yang tadi terus-terusan mengetuk pintu.
"Ada yang datang, pria muda itu mengaku keponakan Anda." ucapnya menunduk.
"Dimana dia?" Anggara melangkah menuju tangga.
"Dia sedang bertengkar dengan Nona Jia." ucapnya sedikit ragu, pria itu bodyguard baru.
Anggara menoleh, mengernyitkan keningnya heran.
"Aku hanya bertamu! Kenapa kau malah melarangku masuk?" tanya pria muda itu pada Jia.
"Karena kau bukan orang yang biasa datang kemari, aku wajar curiga padamu. Lagi pula kau terlihat seperti penjahat dengan bulu-bulu di wajahmu, itu mengerikan." ucap Jia geram dan menatap tak suka.
"Penjahat bagaimana? Apa matamu sudah minus?" balas pria itu pada Jia.
Jia menatap tajam padanya, ingin sekali ia memukul wajah orang yang sok tampan itu.
"Mengapa menatapku begitu? Apa kau menyukaiku?" tanya pria itu lagi.
"Melihatmu saja aku ingin muntah." jawab Jia membuang muka.
"Akbar?" panggil Anggara heran keponakannya itu datang setelah sekian lama tak memperlihatkan batang hidungnya.
"Om, dia malah mengusirku!" Akbar menunjuk Jia.
"Itu karena dia sok akrab dengan Nona Muda." jawab Jia tak mau tersudutkan.
"Sudah ku bilang dia temanku, kau malah tak percaya." Akbar merasa menang dengan kehadiran Anggara.
"Kau memang pantas di curigai setelah lama tak muncul malah datang dan sok akrab dengan istriku." Anggara berkata sambil mengajak Akbar duduk di ruang tamu yang luas itu.
__ADS_1
"Aku hanya rindu, apa aku tidak boleh datang kemari?" tanya Akbar masih melirik Jia yang agak jauh darinya.
"Rindu pada siapa?" tanya Anggara menatap Akbar yang matanya mencuri pandang pada bodyguard wanita di depan pintu.
"Tentu saja padamu." Akbar pura-pura serius berbicara dengan Anggara.
"Dasar bocah." gumam Anggara.
"Aku sudah dewasa, Om tega sekali masih menganggap ku bocah." bicara dengan wajah merajuk.
"Jangan-jangan kau di suruh sepupumu itu untuk memata-matai aku dan istriku." ucap Anggara menyelidik.
"Aku sudah dewasa bisa membedakan benar dan salah, untuk apa aku memata-matai orang yang sudah menikah." jawabnya menyandar.
"Baguslah, asal tidak membicarakan aku di belakang." Anggara masih menatap Curiga.
"Om harus percaya padaku, aku bukan penjilat." Akbar jadi kesal.
"Baiklah aku percaya." Anggara menyandar, ia tak berniat mencurigai keponakannya, hanya saja ia sangat kesal kedatangan Akbar mengganggu aktivitasnya bersama Zahira.
"Apa kabar Ayahmu?" tanya Anggara kemudian.
"Papa baik-baik saja, dia belum pulang dari luar negeri." jawab Akbar lelah.
"Di apartemen, terkadang juga di rumah. Rasanya lelah sekali tinggal sendirian." keluh Akbar.
"Kalau begitu menikah saja agar kau tidak kesepian." usul Anggara, itu membuat hati Akbar bahagia.
"Aku belum memiliki wanita yang pas untuk ku nikahi." Akbar tersenyum, kembali mata hitamnya melirik Jia, tapi wanita itu terang-terangan membuang muka.
Sungguh pemandangan itu membuat Anggara mengulum senyum, ternyata dugaannya tak meleset jika keponakannya itu sedang mengincar Jia. "Kau menyukainya?" ucap Anggara pelan.
Akbar tersenyum, tangannya naik ke atas kepala dan menggaruk tidak gatal di sana, wajahnya terlihat senang tapi sikapnya serba salah.
"Kalau begitu silahkan berjuang, semoga berhasil. Beruntung jika dia menyukaimu, jika tidak kau akan habis di hajar olehnya." Anggara tersenyum mengejek, ia berlalu naik ke atas.
"Om mau kemana?" tanya Akbar lagi.
"Aku tidak perlu menemanimu bukan?" Anggara tak menoleh lagi.
Akbar kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bahkan wanita itu tak meliriknya sama sekali. Sungguh ia tidak tahu bagaimana cara mendekati Jia.
__ADS_1
*
Sedangkan di tempat lain Radit baru saja tiba di rumah Anwar, pria muda itu mengetuk pintu dengan rasa tak karuan, namun lamanya di perjalanan membuat Radit sedikit bisa mengendalikan diri, ia harus hati-hati agar tidak terjadi masalah baru. Jika mencelakai Zahira saja mudah baginya, bukan tidak mungkin ia juga akan melakukan kejahatan yang lain.
"Radit? Kau menyusul ku?" Merry terkejut tapi juga senang sekali Radit menjemputnya.
"Ya, aku menjemputmu." jawab Radit.
"Masuklah, aku akan melihat Laura tadi dia masih tidur." Merry tersenyum meraih tangan Radit dan memintanya duduk di sofa.
"Dimana Ayahmu?" Radit melihat di ruangan itu tak ada siapa-siapa.
"Papa ada di dalam." Merry meninggalkan Radit, menuju kamarnya sekaligus memanggil Anwar untuk bertemu Radit.
Radit melihat pria tua itu melangkah menuju ruang tamu tempat Radit berada, wajah tua itu sungguh menjengkelkan jika mendengar cerita Anggara, ia menutupi kejahatan Merry yang sudah berusaha melenyapkan Zahira. Dada lebarnya terasa panas dengan nafas memburu, tangan kokohnya mengepal erat namun tertahan.
"Ada angin apa kau datang kemari?" tanya Anwar pada menantunya yang selalu arogan
"Tidak ada angin ataupun hujan, hanya terkadang kabut asap yang tipis bisa mengundang seseorang untuk datang." jawab Radit berusaha tenang, tapi matanya menatap tajam di wajah tua itu.
"Hanya asap yang tipis untuk apa kau pedulikan, bukankah tungku di rumahmu cukup hangat." Anwar ternyata mengerti dengan maksud Radit.
"Kau tahu, asap yang tipis bisa jadi karena apinya sedang menyala." Radit tersenyum sedikit.
"Aku tidak mengerti maksud bicaramu itu?" Anwar tidak ingin terlihat bersalah, ia lebih memilih untuk berpura-pura tidak mengerti.
"Jangan menutupi bangkai yang telah mengering, karena akan lebih sulit untuk membersihkannya. Dan jangan kau pikir kucing yang polos tidak kenal dengan bau busuk yang tersisa." Kali ini Radit menatap sinis.
Wajah Anwar berubah pucat, ia sedang berpikir jika Radit sudah tahu sesuatu.
"Apa alasanmu berselisih dengan Anggara?" tanya Radit ingin Anwar mengaku.
"Hanya urusan saham." jawab Anwar singkat.
"Lalu mengapa harus sampai mengincar Zahira, apa kau sedang ingin mencelakainya seperti yang Merry lakukan saat itu? Ingat jika putrimu sudah berhutang Satu nyawa!" geram Radit dengan merapatkan giginya.
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like , vote, dan komentarnya. Terimakasih.