
" A.... Tidak seperti itu." Zahira berbalik dengan terkejut, ia menjawab dan menunduk.
"Apa aku sudah terlalu jahat, sehingga kau menjadi takut dengan kehadiranku?" Radit masih ingin bicara.
Zahira menggeleng, ia tidak mampu menjawab sekilas menatap wajah tampan itu penuh penyesalan dan kesedihan.
"Aku minta maaf Sa-, Zahira." ucapnya lega, bahkan masih ingin memanggilnya sayang. Sungguh sayang, sangat sayang.
"Aku tidak menyalahkanmu. Aku juga wanita yang tidak sempurna."
"Kau sempurna Zahira, akulah yang egois, menginginkan banyak hal, memaksakan kehendak ingin memiliki semuanya, pada akhirnya aku kehilangan segalanya."
Radit mendekati Zahira, meski berjarak dan Nurul ada di tengah-tengah mereka.
"Sudahlah, semua sudah berlalu." jawab Zahira berusaha tersenyum, jika saja tak pernah terjadi pernikahan, maka sudah pasti saat ini mereka akan berbicara serius dengan duduk berdekatan. Perpisahan membuat jarak yang begitu tinggi untuk mereka berdua.
"Andaikan Allah memberikan jodoh pada kita lagi, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." suaranya terdengar sedih. Radit masih berharap memiliki Zahira.
"Sebaiknya tidak membahas itu." Zahira kebingungan mendengar ungkapan yang menjadikan suasana serba salah, takut Anggara mendengar, atau memang kata-kata seperti itu tidak layak di ungkapkan di saat-saat seperti ini.
"Apa hidangannya sudah siap?" suara David mendekat bersama Anggara.
"Sudah." Nurul segera menjawab dengan gugup, takut pembicaraan Zahira dan Radit menjadi masalah.
"Mari kita makan, selagi masih hangat." Ayu tersenyum mengajak semua duduk di kursi yang sudah tersedia.
Radit tersenyum menutupi kecanggungan di hadapan yang lainnya, juga Zahira yang lebih mendekat dengan Nurul, ia tidak ingin Anggara salah paham.
Suasana hangat seharusnya terus tercipta disaat kedua anak mereka berkumpul, tapi tidak untuk malam ini. Zahira duduk terpisah dengan di apit kedua wanita di kanan dan kirinya, Ayu dan Nurul. Juga Anggara lebih memilih duduk bersama sahabatnya David. Sedangkan Radit berada diantara Ayu juga David.
"Sayang, kau masih menyukai ayam tepung?" Nurul sedang meraih piring lebar berisi beberapa potong ayam goreng tepung, ia ingat betul jika itu adalah makanan kesukaan Zahira.
"Masih Umi." jawab Zahira tersenyum lebar.
"Bukan Zahira jika tidak menyukai ayam tepung Umi." Radit menyahut, satu tangannya menusuk Satu potong ayam dengan garpu.
__ADS_1
"Kau juga menyukainya!" ucap Zahira tak suka selalu ayam tepungnya di buat bahasan.
"Sejak kecil kalian menjadikan itu sebagai cemilan." Ayu ikut bicara, kenangan masa kecil itu benar-benar tak bisa di lupakan olehnya.
Radit tersenyum tipis, matanya terus menatap wanita hamil yang duduk berjarak satu orang darinya. 'Dia masih saja terlihat cantik, selalu cantik meskipun sekarang sudah menjadi gendut. Harusnya aku yang membuatnya gendut!'
Radit menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, pikirannya sering berkeliaran jika sudah menatap wajah Zahira.
"Uhuk...uhughh..!"
"Radit!" Nurul menoleh dengan suara Radit yang tersedak makanan.
"Kau sudah dewasa tapi masih tersedak." David menambahkan air ke dalam gelas yang sudah di teguk habis oleh Radit.
Senyum tipis terbit di sela makanan yang masuk ke dalam mulutnya. 'Itu hukuman untuk laki-laki yang suka melirik istriku.' gumam Anggara di dalam hati.
"Rasanya sakit sekali." Radit kembali meneguk air putih di hadapannya.
"Tak bace doa lah tu!" Nurul tertawa dengan menghadap Radit.
"Baca Umi. Cuma doanya terlalu panjang." jawab Radit menanggapi gurauan Nurul.
"Aku rasa dia tidak sedang berdoa, melainkan sedang melamun." Ayu menyahut, keramaian di meja makan itu membuat ia ingin ikut berbicara.
"Aku benar-benar berdoa!" Radit jadi tertawa di sela batuknya.
"Doa ape pula? Rase-rase, umi tak pernah ajarkan doa makan yang panjang sangat." Nurul tertawa, kembali fokus dengan piringnya.
Sedikit mengurangi kecanggungan, diiringi derai tawa dari David dan semuanya. Kecuali Anggara juga Zahira, saling melirik dan mencuri pandang, tak biasa dengan jarak sejauh itu di meja makan. Terlebih lagi Anggara, melihat mulut mungil itu sedang makan dengan lahap, ingin sekali melayaninya, mengambilkan makanan yang ia suka, air putih atau jus yang biasa menjadi penutup saat ibu hamil itu sudah selesai makan.
"Alhamdulillah." ucap Zahira lirih, menyandar puas, tentu karena perutnya sudah terisi penuh.
"Ini Sayang." Anggara sudah tidak tahan untuk tidak angkat suara, melihat ekor mata Zahira masih memandangi gelas jus mangga sudah tersapu bersih, pria dewasa itu menyodorkan miliknya.
Zahira tampak ragu, melihat semua orang sedang memandang ke arahnya.
__ADS_1
"Ambillah, aku tahu kau masih haus." Anggara tersenyum penuh kasih sayang.
"Terimakasih." Zahira mengambilnya, tersenyum malu, pada akhirnya di minum juga.
"Apa tidak kembung?" Radit juga tidak tahan untuk tidak bicara meskipun matanya tetap fokus pada makanan.
"Ibu hamil tidak mengenal kembung, atau sakit perut karena makanan. Mereka butuh makanan yang enak, asal enak di lidah maka itu baik di makan." Ayu menjelaskan.
"Betul tu." Nurul ikut menyahut.
Hingga beberapa saat setelah makan malam, mengobrol sejenak untuk melepas rindu, Zahira dan Nurul tampak serius dengan cerita tentang kecelakaan.
"Umi, bisakah ikut dan menginap di rumah Zahira? Menemani Zahira sehari saja." pinta Zahira pada guru sekaligus pengasuhnya.
"Jangan sekarang Sayang, Umi masih ada keperluan yang lain, saudara jauh Umi sedang berada di rumah sakit Jakarta. Selain nak jumpe engkau, Umi nak tengok beliau." jawab Nurul halus.
"Zahira masih rindu." ucap Zahira memohon.
"Umi usahakan ye, tapi tak boleh janji." Nurul memberi sedikit harapan.
"Baiklah." Zahira menghembuskan nafas pasrah. Ia ingin sekali bercerita lebih banyak bersama Nurul.
"Yang penting buat Umi, kau selalu bahagia Sayang. Dan Umi yakin itu sedang kau rasekan, semoga selalu bahagia."
"Terimakasih Umi." jawab Zahira halus.
"Sayang, ini sudah malam, sebaiknya kita pulang sebelum kau mengantuk." Anggara mendekati Zahira. sedikit membungkuk dan mengelus bahunya.
"Iya." Zahira menurut, ia beranjak dari duduknya, berpamitan dengan ketiga orang tuanya, David, Ayu juga Nurul.
"Hati-hati Sayang." Ayu sedikit berteriak ketika Zahira sudah akan masuk ke dalam mobil bersama Anggara, pria itu ikut tersenyum hormat.
"Terimakasih atas undangan makan malam ini, jangan lupa datang berkunjung ke rumah kami." Anggara menunduk hormat.
"Tentu." David menjawab dengan senyum pula, melambaikan tangannya ketika mobil mewah itu berlalu dari halaman.
__ADS_1
Mereka semua masuk, kecuali Radit yang terpaku di luar, entah kapan ia sudah berada di sana.
Bohong jika ia sudah bisa ikhlas, bahkan rasa ingin memiliki itu semakin kuat. Hatinya bergemuruh hebat membayangkan betapa mesranya mereka di dalam mobil itu, duduk berdua dengan tatapan penuh cinta. Sudah dapat di bayangkan jika Zahira akan menyandar manja, di dalam pelukan Anggara, sungguh menyebalkan.