
"Aku ingin bersama Radit." Merry melepaskan tangan ayahnya.
"Merry Sandra! Tetaplah bersama Papa Nak." pinta Anwar nyaris putus asa, dan kesalnya lagi Radit malah tak menyerah mendekati Merry, pria muda itu sama sekali tidak takut dengan kecurigaan Anwar yang sudah jelas di tunjukkan olehnya. Merry tak mau mendengar, menggandeng Radit dengan bangganya.
Tentu dia masih ingat, saat setelah menjebak Radit saat itu, undangan Anggara di hotel ini membuatnya merasa kecewa, menyaksikan betapa Radit sangat memanjakan Zahira, sama sekali tak peduli dengan Merry walaupun di siang sebelumnya mereka sempat bercinta, tentu itu terjadi atas kehendak Merry semata. Dan ini adalah kesempatan kedua bagi Merry Sandra, dia berpikir tak akan pernah melepaskan Radit apapun yang terjadi, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Acara telah di mulai, tatapan kagum bercampur rasa iba ketika pemilik hotel terbesar itu membawakan sambutan, meskipun hanya sekedar ucapan selamat datang dan terimakasih, membuat semua orang bertepuk tangan semuanya kecuali Merry. Menatap bangga pada wanita muda yang sopan dan bersikap sederhana walaupun semua orang tahu jika kehidupannya bahkan melebihi kata 'mewah'.
Disisi lain Anwar tampak gelisah, ponselnya tak henti berdering, layarnya menyala meminta untuk segera di sentuh, membuat wajah tuanya semakin berkerut.
"Kau tetap disini, jangan kemana-mana sebelum Papa kembali!" pesan Anwar pada putri kesayangannya.
Merry mengangguk dengan tangannya masih tak mau lepas dari Raditya. Menikmati waktu bergandengan tanpa peduli ayahnya sedang khawatir.
Anwar berjalan menjauh dari tempat itu, mencari tempat yang aman untuk bicara, sepertinya toilet adalah pilihan pak tua itu. Dan benar saja setelah di depan toilet Anwar mengangkat ponselnya.
"Halo!"
"Kami di serang!" ucapan singkat dari seberang sana cukup membuat mata Anwar terbelalak.
"Lalu bagaimana?" Anwar tampak khawatir, satu tangan Anwar mengusap kasar wajahnya.
"Mereka menggeledah semua isi rumah." sambung laki-laki di seberang sana, hanya suaranya sedang terbatuk-batuk dan pelan.
"Mengapa kau tidak mencegahnya?" kesal Anwar membentak.
"Semuanya sudah kalah, aku sedang bersembunyi di luar kompleks, melarikan diri saat yang lain sedang berkelahi."
"Bodoh!" teriak Anwar, kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan tak ada orang yang mendengar umpatannya.
"Maaf Tuan, aku hanya berusaha memberi kabar, percuma melawan semuanya sudah kalah." panggilan terputus.
Anwar tampak geram sekali, ia memijat kepalanya berusaha berpikir cepat. Sejenak kemudian pria tua itu kembali melihat layar ponselnya mencari nomor seseorang.
__ADS_1
"Halo!"
Prang.......
Ponsel Anwar terlempar jauh, sudah dapat dipastikan pecah dan mati menghantam dinding toilet dan jatuh ke lantai akibat tendangan Jia.
Anwar menoleh terkejut, marah dan sungguh kesal. "Kau!"
"Ya! Apa kita perlu berkenalan?" Jia menatap wajah tua Anwar dengan senyum sinis, tentu sudut mata yang melirik itu bak mata pedang yang ingin membunuh.
"Anj-ing Anggara!" Anwar menghinanya dengan wajah penuh kemarahan.
"Siapa yang *nj-ing? Bagaimana dengan dirimu? Ku rasa kau lebih buruk daripada seekor *nj-ing! Penjilat, penipu, dan Bodoh." balas Jia dengan wajah mengerikan.
"Harusnya kau mengambil keuntungan dari semua ini, menjadi pemimpin dan hidup terhormat. Berhenti menjadi budak peliharaan wanita lemah itu." Anwar berusaha santai, menutupi kegugupannya.
"Hem." Jia tersenyum sinis. "Itulah bedanya *nj-ing dan manusia, kau memilih menjadi penjilat dan menipu, sedangkan aku memilih untuk jujur dan punya harga diri."
"Harga diri katamu? Hahahaha." Anwar tertawa terbahak-bahak. "Siapa yang menghargai mu, aku tidak pernah mendengarnya." Anwar kembali tertawa keras.
"Aku tidak punya waktu meladeni anj-ing peliharaan seperti dirimu." hina Anwar lagi, memancing amarah Jia.
Sementara di dalam aula besar, Merry beberapa kali menoleh mencari Anwar tapi belum juga kembali. Kegelisahannya tak luput dari pengamatan seorang wanita yang sejak tadi menahan amarahnya.
Lama tak juga kembali, sejenak kemudian ia beranjak ingin menyusul Anwar.
"Mau kemana?" tanya Radit heran, karena biasanya Merry akan merengek manja meminta untuk di temani.
"Ke toilet sebentar." ucapnya meraih tas.
Radit menatap curiga. "Mau ku temani?" Radit menawarkan diri.
"Tidak, aku bisa sendiri." tolaknya agak terburu-buru.
__ADS_1
Merry berjalan menuju Toilet pria, tapi sedikit ragu karena di sana sepi. Berpikir jika Anwar tidak pergi ke toilet, atau mungkin sedang di luar hotel menerima telepon penting. Merry berbalik meninggalkan tempat itu.
"Mau kemana?"
Suara halus itu menyapa. Kakinya tampak cantik sekali dengan hak tinggi berwarna bening. Gaunnya panjang dan elegan, semakin ke atas semakin tampak anggun dan dapat dikatakan mendekati sempurna. Tentu dia tahu siapa yang sedang menyapa dirinya, Merry memilih untuk segera pergi.
"Tunggu!" Zahira menghadangnya, lembut dan tenang, tapi menakutkan. Begitu kesan yang terlihat dari seorang Zahira.
Sedikit gugup Merry memilih menghindar, mencari tempat bersembunyi. Dia tidak mau berhadapan dengan Zahira yang kemarin sempat menghajar dan merobek pakaiannya. Merry berbelok menuju toilet wanita, sepertinya dia akan segera meminta bantu, terlihat dari tangannya memegang kuat tas kecil berwarna biru tua itu.
Langkah Zahira lebih cepat menyusul Merry ke dalam toilet wanita, sibuknya Reza Mahendra membawa keuntungan baginya.
"Kau tidak boleh masuk!" Teriak Merry ketakutan, mendorong pintu toilet menghalangi Zahira, namun entah dari mana ia mendapat tenaga, bahkan satu tangannya mampu menahan dan memaksa untuk masuk ke dalamnya.
"Tempat ini milikku, kau tak punya hak melarangku." ucap Zahira pelan, tapi tatapannya menusuk tajam.
Merry ingin kabur, ia tidak ingin satu ruangan dengan Zahira, mencoba berlari namun Zahira menarik gaun Merry dan membelakangi pintu keluar.
"Aku ingin keluar, aku tidak mau bersama wanita gila sepertimu!" teriaknya kembali berusaha menerobos Zahira.
"Tenanglah, kita belum selesai." Zahira mendorong kembali tubuh Merry.
"Dasar gila! Apa yang kau mau?" kesalnya dengan nafas naik turun.
"Aku ingin membunuhmu, seperti kau menghabisi suamiku!" ucap Zahira semakin membuat Merry ketakutan.
"Tidak." Merry mundur kali ini, wajahnya pucat dan memeluk tas di dada. Tangannya bergetar membuka tas dan ingin menghubungi seseorang.
"Tidak akan ada yang bisa menolongmu Merry Sandra! Kau sendirian sekarang." Zahira semakin mendekat dan meraih tasnya.
"Papa!" teriaknya keras sekali.
Sedangkan di luar Anwar sedang menghindari serangan Jia. Wanita berusia 28 tahun itu tampak beringas menyerang Anwar, wajah laki-laki tua itu sudah babak belur dibuatnya, hanya tubuhnya belum apa-apa sehingga masih bisa melawan dengan tubuh yang sempoyongan.
__ADS_1
"Perlahan Pak Tua, nikmati saja setiap pukulan dariku. Dan ku yakin rasanya sangat nikmat." ucap Jia kembali menyerang, menendang dan kali ini berhasil mengunci tangan Anwar dan memelintirnya.