
"Kau butuh sesuatu Nona? Aku akan keluar untuk berbelanja, kau bilang saja jika ingin membeli sesuatu." wanita berwajah dingin dengan bahu kokoh itu menawarkan.
"Sebenarnya aku ingin membeli pakaian, tapi aku lema sekali." jawab Zahira mencoba turun dari ranjang dan langsung di sambut kedua gadis muda tadi.
"Aku akan belikan, nanti tinggal pilih saja yang kau suka, yang tidak suka kau bisa kau berikan pada Raya." jawabnya menunjuk salah satu gadis berkerudung yang sedang memegang tangan Zahira.
"Uangnya _"
"Kami punya akses untuk memenuhi semua kebutuhanmu, kau tak perlu khawatir." wanita itu tersenyum sedikit dan berlalu.
"Memangnya apa yang di katakan Om Anggara?" Zahira penasaran sekali dengan tingkah ketiga orang yang baru di kenalnya itu.
"Mengurusmu Nona." jawab gadis bernama Raya, dia manis dan Sholehah.
"Jangan sungkan, kau panggil namaku saja." Zahira tersenyum senang, mendapat teman yang seumuran dan berkerudung sama seperti dirinya, Anggara memang sangat mengerti.
"Tidak bisa, kami harus memperlakukanmu dengan hormat. Kau calon istri dari tuan Anggara." gadis yang berambut pendek itu menjawab dengan tersenyum manis sekali.
"Tidak, aku masih belum berpisah dari suamiku. Kau tahu, aku sedang terpuruk saat ini, aku sedang menjalani sidang perceraian. Aku tidak punya orang tua, tidak punya saudara, teman atau siapapun yang ku jadikan tempat berbagi, beruntung ada dia yang begitu mengerti aku." jelas Zahira tak ingin kedua teman barunya salah paham.
"Tapi dia bilang akan menunggumu datang sebagai istri, artinya dia begitu mencintaimu. Kau beruntung mendapatkan hatinya. Sebelum ini dia banyak mendapat lamaran dari wanita cantik, model, artis, anak pengusaha, dan banyak lagi, tapi dia menolak dan akhirnya mengakui perasaannya padamu." Raya begitu memujinya.
"Benarkah?" Zahira tampak serius mendengarkan hal itu.
"Iya." jawab Raya jujur.
"Tidak salah dia memilihmu, karena kau memang sangat cantik." teman Raya ikut memuji.
"Aku biasa saja, sungguh aku tak memiliki kelebihan apapun." jawab Zahira lembut dan sopan.
Membuat keduanya tersenyum menyaksikan kerendahan hatinya.
Teman baru dan obrolan-obrolan ringan membuat Zahira tampak senang, ia tidak lagi memikirkan banyak hal, walau sesekali ia masih bersedih dan terkadang melamun.
Malam itu mereka makan bersama dan berbicara banyak hal, hingga wanita berwajah dingin itu menerima telepon.
"Kay, apa dia masih bersedih?" tanya bos mereka di seberang sana.
__ADS_1
"Nona sedang mengobrol, dia sedikit melupakan masalahnya." jawab wanita yang di panggil Kay oleh Anggara.
Hingga beberapa saat mereka masih mengobrol pintu apartemen di ketuk dari luar, Kay membuka pintu.
Tampak pria itu melangkah masuk dengan pakaian santai namun elegan, Aura ketampanannya semakin terpancar dan membuat para wanita gigit jari.
"Raya, besok aku akan ke kampus. Bisakah kau menemaniku?" tanya Zahira dengan suara lembutnya.
Anggara tersenyum melihat gadis itu tak memakai kerudung tapi tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena posisinya membelakangi. Anggara melihat kerudungnya di letakkan di ranjang, pria itu mengambil dan memasangnya dari belakang, menutup rambut lurus dan halus itu sempat tersentuh di lengannya.
Zahira kaget setengah mati.
"Jangan masuk diam-diam!" ucapnya kesal dan malu setelah menyadari pria itu memakaikan kerudung panjang di kepalanya.
"Aku sudah mengetuk pintu tapi kau tak mendengarnya, jadi aku masuk saja." jawab Anggara tersenyum, ketiga gadis itu pergi satu-persatu meninggalkan Anggara dan Zahira sedang berbicara.
"Kau bohong." ucapnya mengerucutkan bibir merah itu dengan tangannya sibuk mengatur hijab panjang yang melingkar di kepalanya.
"Tidak sayang, aku tidak bohong. Aku hanya sebentar memastikan kau baik-baik saja, setelahnya aku akan pulang." Anggara hanya berdiri di samping tempat duduk Zahira
"Aku tau." jawab Anggara, sungguh ia mengerti.
"Aku janji setelah semua selesai, aku akan datang padamu." ucapnya begitu yakin.
"Artinya kau mau menikah denganku?" tanya Anggara sudah tak sabar.
"Asal kau bersedia dengan semua kekuranganku, juga berjanji tidak akan memiliki wanita lain selain aku." ucap Zahira tegas.
"Tentu." jawabnya sangat bahagia.
"Tapi _" Zahira tampak Ragu.
"Apa?" tanya Anggara mendekati Zahira.
"Bagaimana jika aku tidak bisa mengandung?" Zahira kembali bersedih.
"Aku akan tetap bersamamu, kita akan berusaha untuk memiliki anak apapun caranya. Kau sehat, aku ragu jika sampai kau tak bisa hamil, percayalah kita akan memiliki anak secepat mungkin. Asal kau siap begadang hingga pagi." godanya mendekati wajah Zahira.
__ADS_1
Wajah cantik itu menunduk malu, membayangkan ucapan terakhir itu bersama pria dewasa. Bagaimana rasanya? Ah, Zahira mulai berpikir menjelajah ruang angkasa.
"Aku sedang membayangkan malam panjang itu bersamamu." bisik Anggara lagi, ia tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
"Pulanglah." Zahira berbalik membelakangi Anggara, pria itu semakin membuatnya takut, takut dosa, takut khilaf dan sebagainya.
Anggara tersenyum, ia sungguh tidak sabar menanti hari itu tiba. Akhirnya setelah sekian lama dia merasakan jatuh cinta, pada orang yang sangat di inginkan kehadirannya.
Anggara meraih tangan kecil itu, meskipun pemiliknya terkejut dan marah ia tak peduli, memberikan sesuatu di tangannya.
"Jangan kau pakai lagi mobilmu itu, aku takut membahayakan nyawamu." ucapnya menggenggam tangan kecil itu dengan sebuah kunci di dalamnya.
"Tapi, aku bisa membelinya sendiri. Ini sungguh berlebihan." Zahira menolak.
"Kalau begitu kau minta Kay saja menyetirnya, anggaplah kau sedang meminjam, sekalian dia bisa menjagamu." ucap Anggara masih menggenggam tangan Zahira.
"Jangan temui aku lagi, sebelum aku benar-benar bercerai." pinta Zahira dengan wajah serius.
"Baiklah, aku akan menahan diriku sekuat tenaga untuk tidak menemuimu." jawabnya, dia mengerti dan sungguh ia paham Zahira tak ingin melanggar pernikahannya walaupun ia sudah dikhianati.
Satu Minggu sudah berlalu, sidang kedua di tunda hingga Minggu depan lagi. Kedua belah pihak masih bersikeras yakin dengan keinginan masing-masing.
"Sasa, dimana Raya dan Kay?" Zahira tak melihat ke dua orang itu.
"Kay sedang ada urusan bersama tuan Ricky, sedangkan Raya sedang turun membeli sesuatu." jawab gadis itu, terlihat duduk santai memainkan remote control TV.
"Oh, aku akan pergi sebentar ke kantor. Tadi kak Tina meneleponku sepertinya ada yang penting." Zahira sedang bersiap memakai sepatunya.
"Aku akan menemanimu." Sasa berdiri meraih ponselnya.
"Tidak usah, aku tak akan lama, lagi pula aku tak punya musuh yang harus di takuti." Zahira tertawa.
"Benar juga." Sasa juga ikut tertawa, bukankah mereka hanya menemani saja.
"Hati-hati Nona." ucapnya dengan hormat.
Zahira pergi sendirian, hari itu dia membawa mobil ibunya.
__ADS_1