
Alangkah indahnya dunia ini jika hubungan antara menantu dan mertua sedekat itu, menerima, menyayangi, mencintai sepenuh hati. Terlihat mesra Ayu menggandeng Zahira masuk ke dalam perusahaan miliknya, di sambut sapaan hangat dari para pegawai Ayu.
"Bu Ayu, ada tamu yang sudah menunggu anda." Asisten Ayu memberi tahu sebelum ia masuk ruangan, mengurungkan langkahnya dan melangkah ke ruang tamu bersama Zahira.
"Selamat pagi Kak?" Wanita cantik dan anggun itu menyapa dan langsung memeluk Ayu, lalu kemudian tatapannya beralih pada Zahira.
Zahira tersenyum semakin membuat wanita itu terpana, menatapnya semakin dalam tanpa berkedip.
"Sayang, dia adiknya mama." Ayu memeluk Zahira dan memperkenalkan wanita yang sedang memperhatikan putrinya itu.
"Zahira tante." Zahira mengulurkan tangannya.
"Panggil aku Tante Bella Sayang." jawabnya pelan, sangat takjub memandang wajah cantik Zahira dengan langsung memeluknya.
"Apa tidak di perkenalkan juga padaku?" pria tampan yang sedari tadi duduk diam di belakang Bella ikut bicara.
"Ah, ini Akbar. Anak Tante satu-satunya." Bella memperkenalkan.
Akbar berdiri dan ingin berjabat tangan dengan gadis kecil di hadapannya. Pria dengan sedikit bulu halus di sekitar bibir merah itu menatap kagum.
"Akbar, apa kau sudah lama?" Radit masuk dengan segera meraih tangan Akbar yang sudah terulur.
"Hey, kau mengganggu saja, aku baru akan berkenalan dengan Zahira." ucap Akbar dengan sepupunya itu.
"Itu kau sudah tahu namanya, lalu apa lagi?" Radit duduk di dekat Zahira.
"Aku baru tahu ada bidadari surga yang tinggal di rumahmu." jawab Akbar melirik Zahira.
Gadis itu tak menjawab, dia menatap wajah Ayu yang juga duduk bersama tak jauh darinya. Sungguh polos, bahkan dipuji dia merasa tak enak hati.
"Dia bidadari milikku, jangan berpikir untuk mengambilnya." ucap Radit tak peduli dengan Akbar ataupun Bella.
Akbar sampai menganga lebar di buatnya. "Kau sedang bercanda?" Akbar mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Tidak." Radit menjawab dengan yakin.
"Kau ini, harusnya kau mendukungku. Aku sudah dewasa dan masih jomblo." Akbar merasa kesal dengan sepupunya itu, sedangkan Radit bersikap tidak peduli.
"Bukankah Radit masih sekolah kak?" Bella bertanya pada Ayu.
"Benar, tapi sepertinya akan berpindah ke Indonesia." Ayu menjawab apa adanya. "Lalu apa kabar suamimu, ku dengar dia sedang membuka cabang baru?"
"Iya, dia sudah lelah menjadi pengacara. Dan lagi Akbar sudah besar jadi dia bisa belajar berbisnis seperti Radit yang sudah belajar lebih awal." Bella menoleh Radit sekilas.
"Benar, kita tidak selamanya hidup dan muda. Suatu saat kita akan menua dan meninggalkan mereka, jadi kita harus mempersiapkan mereka sejak awal."
"Baiklah ini terlalu pagi untuk kami bertamu. Kakak lanjutkan pekerjaanmu, kami harus pulang." Bella beranjak dari duduknya di ikuti Akbar juga berpamitan.
"Terima kasih sudah mengunjungi ku, maaf aku tidak sempat untuk datang mengunjungimu, sungguh aku sangat sibuk." Ayu memeluk adiknya yang masih terlihat cantik itu.
"Ayo sayang, kita harus pulang." Bella mengajak putranya, yang kemudian berlalu dengan senyum manis dari Akbar.
"Sayang, mama akan rapat sebentar, setelahnya kita keluar berbelanja untuk keperluanmu." Ayu merapikan pakaiannya.
Tinggallah Radit dan Zahira masih duduk di ruang tamu. "Beruntung Mama membawamu kekantor, aku jadi bisa bertemu denganmu." Radit tersenyum manis memandangi gadis yang duduk tak jauh darinya.
"Hanya beberapa hari lagi kita akan selalu bertemu Radit." Zahira hanya menatap sebentar.
"Mama sudah menghubungi paman Rey, dia akan tiba besok. Umi Nurul besok malam juga akan tiba dan langsung ke rumahmu." Radit masih memandanginya dengan tersenyum.
"Terima kasih sudah mengurus semuanya, bahkan aku tidak tahu apa-apa." jawab Zahira.
"Kau memang tidak perlu melakukan apa-apa, aku yang menginginkanmu, aku yang akan melakukan semuanya untukmu. Kau hanya perlu menyiapkan diri untuk mencintaiku selamanya." ucapnya lagi, terdengar sangat romantis.
Zahira tersenyum, "Aku sudah siap." jawabnya tulus.
"Baiklah, aku harus belajar bekerja lebih giat lagi, karena mulai dua hari lagi aku harus menghidupi istriku yang cantik." Radit tersenyum nakal, beranjak dari duduknya melangkah keluar meninggalkan Zahira sendirian.
__ADS_1
***
Di kantor kontraktor milik Zahira, pria itu terlihat gelisah, sekali dua kali ia memandang meja di depannya kosong dan sepi. Kembali mengotak-atik laptopnya lalu kemudian melepaskannya, sungguh dia sedang tidak berkonsentrasi.
"Kemana gadis manja itu, apa dia sedang sakit sehingga tidak datang ke kantor? Bukankah kemarin dia bilang akan serius belajar?" pria itu menyandarkan tubuh gagahnya di kursi empuk itu.
Berkali-kali melihat jam tangan seakan waktu berjalan lebih lama, otaknya sudah tidak bisa di ajak bekerja hanya bertanya-tanya tentang gadis yang setiap hari mengajaknya berdebat. "Ternyata ruangan ini terasa sunyi dan sepi kalau tidak ada gadis yang menjengkelkan itu." Dia berkata sendiri, atau yang sepi itu bukanlah ruangan, tapi hati. Dia keluar meninggalkan ruangan itu.
"Pak David!" Anggara memanggil David yang sedang berjalan menuju ruangannya.
"Ada Apa?" David menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Apa hari ini Zahira tidak masuk?" tanya Anggara mendekati David.
"Oh, aku lupa memberitahumu, hari ini dia bersama istriku." David tersenyum.
"Oh, aku pikir dia sakit, karena kemarin dia menginap di rumahnya." Anggara berusaha menutupi rasa penasarannya.
"Tidak, dia hanya sedang berbelanja bersama istriku." Jawab David lagi.
"Oh." Anggara segera berbalik meninggalkan David, setidaknya sedikit rasa penasaran itu sudah terjawab.
"Anggara!" David kembali memanggil pria itu.
"Ya." Anggara berhenti dan berbalik menghadap David.
"Apa kau sedang memikirkan putriku?" David sedikit menyipitkan matanya, ia sedang memikirkan sesuatu.
"Ah, tentu saja. Ruangan besar itu akan terasa sunyi tanpa berdebat dengan putrimu yang manja, seperti burung kutilang yang suka benyanyi." Anggara tertawa.
David tertawa lalu kemudian kembali menatap Anggara serius. "Ku harap kau tidak jatuh cinta pada putriku." David sedikit bercanda.
Anggara ikut tertawa, walaupun hatinya terasa nyeri dengan ucapan itu. Ah lagi-lagi perasan itu harus muncul di tempat yang salah. Tidak kah ada waktu yang tepat untuk mencintai dan di cintai? jika ada lalu kapankah waktunya tiba? Nafas yang tadinya begitu lega mendadak terasa berat dan menyesak di dada.
__ADS_1
'Andai bisa ku bawa berlari, akan ku bawa engkau di tempat tak ada manusia selain kita berdua. Andai bisa mengatur kapan diri ini di lahirkan, aku ingin terlahir menjadi pasanganmu, mencintaimu, menjagamu hingga ajal menjemput. Zahira, haruskah aku menyesal sudah bertemu dirimu?'
Anggara kembali ke ruangannya dengan perasaan tak menentu. "Mungkin aku terlalu tua untuk mencintai gadis ingusan seperti dirimu." Anggara bicara dengan ponselnya, foto gadis itu sedang tersenyum cantik sekali.