Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
111. Saham


__ADS_3

Di pagi yang sedikit mendung, semua orang sibuk berangkat bekerja, gedung-gedung besar mulai terpenuhi dengan banyak orang, tak terkecuali gedung kecil, toko dan sebagainya, semua orang sibuk dengan pekerjaannya.


Pagi itu adalah awal semangat bagi Raditya, pria muda itu akan memimpin dan mengendalikan perusahaan mulai hari ini, tentu saja dengan bantuan Ayu dan beberapa asisten andalan ibunya.


Tapi di rumah yang lain malah sebaliknya, pria yang sudah beruban itu tampak murung dengan kening mengkerut, tangan besarnya sesekali terangkat untuk memijat pelipisnya yang memang sudah membutuhkan pijatan sesuai usia. Tapi kali ini bukan hanya sekedar pijatan di pelipis itu, melainkan pijatan dana yang tidak sedikit. Saham andalannya kini sudah di tarik habis oleh pemiliknya, ia enggan berangkat ke kantor karena sudah pasti keributan dan kekhawatiran akan terdengar menggema di ruangan rapat.


Perusahaannya terancam bangkrut, bahkan ia sedang berhutang dengan Anggara. Selama ini terlalu lengah terbuai dengan uang yang banyak, ia tak pernah menghitung berapa banyak saham Anggara di perusahaannya, dan ternyata Anggara menariknya lebih cepat dari dugaan, juga jumlahnya lebih banyak dari perhitungan.


"Aku harus bagaimana?" ucapnya pelan.


Pria itu sedang berpikir keras, tapi kemudian ia beranjak dari duduknya. Berdiam di rumah bukanlah pilihan yang baik.


Tiba di kantor miliknya, Anwar begitu terkejut dengan kehadiran beberapa rekan kerja sesama media. Wajah-wajah mereka sama kacaunya dengan Anwar.


"Kenapa kau lama sekali, kami menghubungi tapi ponselmu malah tidak aktif." salah satu dari mereka langsung berbicara padanya.


"Aku- sedang pusing." jawabnya tak yakin dengan jawabannya sendiri, pria itu masuk melewati semua rekan kerjanya. Entah apa yang mengundang mereka sehingga datang serentak di kantor Mars Media.


"Anwar kita perlu bicara." mereka bahkan mengikuti Anwar menuju ruangan pribadinya.


"Ada apa?" tanya Anwar setelah duduk di kursi kebesaran.


"Anggara menarik semua sahamnya di perusahaan kami." jawab pria berkepala botak itu sudah tidak sabar.


"Apa? Jadi bukan hanya aku?" tanya Anwar semakin terkejut.


"Kami semua." sahut yang lain lagi.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya salah satu dari mereka.


"Apa kalian melakukan kesalahan?" seorang pria yang masih muda duduk dan bertanya dengan mengintimidasi.


"Aku tidak." jawab seorang yang sejak tadi belum bicara.


"Kau?" tanya pria itu pada pria botak.


"Aku juga tidak." jawabnya terlihat lemas.


"Kau?" tanya pria itu lagi, kali ini pada Anwar.


"Tidak." jawabnya, tapi terlihat tidak meyakinkan.


"Dia tak akan melakukan ini jika salah satu dari kita tidak membuat masalah." ucapnya mengangkat kaki ke atas meja, sepertinya hanya dia yang paling santai dari yang lain.

__ADS_1


"Jangan sok tahu, aku jadi curiga jika sebenarnya kaulah yang sedang bermain di belakang kami." pria yang sejak awal berbicara itu manjadi kesal dengan sikap pemuda itu.


"Oh, ternyata ada yang marah." dia beranjak dari duduknya. "Justru akulah yang paling tidak bersalah di sini. Kalian pikir aku tidak tahu, salah satu dari kita adalah orang yang sedang ingin menjatuhkan Anggara. Jangan bermain-main dengannya jika tidak ingin mengemis di jalanan memakai kaleng roti bekas. Tentu bukan aku orangnya, dan jika ada yang ikut terlibat, maka bersiaplah menjadi mantan Direktur." ucapnya beranjak, ia malas harus berbicara banyak dengan rekannya yang sudah tua dan lelet.


"Kau mau kemana?" tanya pria botak bernama Santoso itu.


"Mau ke kantor Anggara, ada apa?" tanyanya dengan santai.


"Aku ikut." Santoso berlalu, ia merasa lebih berguna ikut dengan yang muda daripada yang tua dan meragukan.


*


"Apa sudah ada yang datang?" tanya Ricky pada sekretarisnya.


"Belum, tapi yang menelpon ada beberapa kali." jawab pria muda berkaca mata itu.


"Jangan di jawab." tegas Ricky.


"Pak, ada yang ingin bertemu." sekretaris wanita menemui Ricky.


"Biarkan dia masuk." Ricky tengah bersiap dengan gaya santainya.


"Selamat pagi Tuan Ricky." pemuda itu begitu pintar menyapa dan memuji Ricky.


"Kau menarik saham tanpa memberi tahu, bagaimana kami tidak datang kesini." jawabnya santai.


"Benar juga, ya sudah pulanglah!" perintahnya tanpa merasa bersalah.


Pria botak itu melongo dibuatnya, ia jadi bingung dengan semua permainan bos besar itu.


"Ayo kita pulang." ajak pria muda itu pada rekannya.


"Tapi bagaimana perusahaan kita?" tanya pria itu semakin bingung.


"Biarkan saja, jika tidak di kembalikan berarti kau harus ikhlas, lagi pula itu bukan uang kita." jelasnya semakin membuat pria itu ingin menangis.


"Tuan Ricky, tolong jangan seperti ini." dia memohon pada Ricky.


"Kau cengeng sekali, nanti setelah urusanku selesai aku akan memikirkannya lagi." Ricky senang melihat wajah tua yang menyedihkan itu.


"Oh tuhan." ucapnya benar-benar ingin menangis.


"Sudah, mereka banyak urusan." pria muda itu merangkul rekannya dan segera pergi.

__ADS_1


"Aku akan jatuh miskin." ucapnya lagi masih terdengar oleh Ricky.


"Tidak, itu hanya sementara." rekannya yang masih muda itu menenangkannya.


"Apa dia adalah korban?" tanya sekertaris Ricky.


"Korban sementara." jawabnya tertawa.


Tapi tak lama setelahnya terdengar beberapa orang yang datang, salah satunya adalah Anwar.


Ricky tersenyum sinis.


"Selamat pagi Tuan Ricky." sapa ketiganya menunduk hormat.


"Selamat pagi." jawab Ricky singkat, ruangan yang tadi terasa sejuk kini berubah dingin mencekam.


"Kami ingin menanyakan perihal saham yang anda tarik tiba-tiba." ucap pria tegap pemilik sebuah stasiun televisi.


"Aku merasa beberapa orang dari kalian sedang mencari informasi tentang pemilik perusahaan ini. Kalian sebenarnya ingin menjatuhkan donatur yang sudah menghidupi kalian selama bertahun-tahun, dan itu sudah kami selidiki." jawab Ricky melirik Anwar.


"Tapi bukan aku Tuan Ricky." jawab pria itu lagi.


"Tapi nantinya kau akan terlibat." jawab Ricky yakin sekali.


Pria itu semakin bingung, ia bahkan tidak mengetahui hal itu.


"Kalian berdua pulanglah, aku masih butuh waktu untuk menyelidiki kalian berdua." Ricky memintanya pulang.


"Aku perlu bicara denganmu." Ricky menatap tajam Anwar.


Detik-detik berikutnya hening, hingga suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan dengan aroma mahal ciri khas seorang penguasa. Anggara masuk dengan gagah, lalu duduk berhadapan dengan Anwar.


"Selamat pagi Tuan Anggara." ucapnya pelan.


"Selamat pagi Tuan Anwar." balas Anggara.


Dia menunduk, tak berani menatap Anggara apalagi sampai berbicara, tapi kembali ia mengingat jika perusahaannya sedang kritis.


"Kau mencariku?" tanya Anggara pelan.


"Tentu saja Tuan Anggara, perusahaanku bisa gulung tikar jiak semua saham sudah kau tarik." jawab Anwar.


"Bukankah kau sudah mencari penanam modal yang lain untuk menggantikan aku?" tanya Anggara masih terlihat tenang.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya mencari rekan bekerja sama bukan penanam modal sepeti yang kau katakan."


__ADS_2