
"Aku harap kau tidak menyumpahi aku agar cepat mati!" ucap Anggara tiba-tiba.
Radit menoleh dengan heran. "Mengapa harus berpikir seperti itu? Apa kau merasa aku sedang menyumpahimu? Bahkan aku berpikir untuk pergi."
"Jika dia jodohmu, dia akan kembali padamu walau entah kapan waktunya. Asalkan jangan merebutnya dariku." Anggara sedikit menunjukkan wajah tak suka.
"Aku rasa kau juga merasa khawatir dengan adanya diriku, walau bagaimanapun aku adalah suami pertamanya." Radit menyombongkan diri.
Anggara memicingkan matanya. 'Mengapa bocah tengil ini tahu apa yang sedang aku pikirkan, jika terus dibiarkan maka akan benar-benar menjadi saingan.' Anggara membuang pandangannya, malas sekali harus mengagumi anak kemarin sore.
Radit tersenyum penuh arti, ternyata benar apa yang sedang ia pikirkan bahwa pria tua itu sedang mati-matian menutupi rasa cemburunya jika sedang berkumpul seperti saat ini. Itu membuat Radit semakin yakin jika jauh di dalam hati Zahira masih ada namanya, yakin saja suatu saat ia akan kembali dan mengambil perhatiannya. 'Hah, aku rasa percaya diri itu penting!' Radit tertawa di dalam hati. "Besok aku akan pergi sebelum subuh." Radit melanjutkan obrolan yang sempat hening dengan diamnya Anggara. Pria itu benar-benar pintar menghindari percakapan yang akan mengarah pada ketidak nyamanan. Diamnya menampakkan ketenangan. "Aku harap ketika aku pulang kau tidak melarangku untuk bertemu dengan anak-anakmu."
"Aku tidak melarang, asal kau tidak pulang untuk bertemu istriku." ucapnya seolah bercanda.
"Tentu kau lebih tahu, bukankah kau dulunya seperti aku, mengintip kebahagiaan istri orang dengan mencintai anaknya. Jadi jangan salahkan takdir akan membalasmu, aku hanya sedang memainkan peran yang sesungguhnya aku tidak suka. Jadi harap bersabar!" Radit setengah mengejek.
"Kau tahu menjadi diriku saat itu tidak enak, jadi mengapa harus kau ikuti?"
"Kau pikir aku punya pilihan?" tanya Radit mendebat.
"Tentu saja, kau bisa memilih wanita lain yang lebih cantik dari istriku!"
"Apa saat itu kau juga bisa berpaling? Bahkan kau bisa memilih banyak wanita cantik dan seksi, kau masih muda dan kaya, uangmu berlimpah! Wanita mana yang tidak menyukai dirimu?"
"Kau juga sama!" jawab Anggara tak suka masa lalunya di ungkit bocah tengik seperti Raditya.
"Aku berbeda, saat itu aku melakukan kesalahan, ternyata menikmatinya malah membuat aku menyesal seumur hidup." Radit mengusap rambutnya hingga kusut.
__ADS_1
Anggara tertawa melihat bocah itu sungguh masih labil, namun ia akui jika cintanya tidak main-main. Seperti dirinya dulu mencintai wanita yang usianya sedikit lebih tua darinya, membuat Anggara tidak berani mengutarakan isi hatinya dengan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya wanita yang ia cintai memilih orang lain. Sungguh ia merasa bodoh, namun kembali lagi pada Allah Yang Maha Kuasa. Perkara jodoh tentulah rahasia-Nya, seperti saat ini ia kembali bertemu Zahira.
"Dan bedanya aku tidak mau melakukan kesalahan sepertimu, ku harap kau tidak melakukan kesalahan yang sama nanti. Jika hatimu tidak yakin maka jangan pernah menjalaninya, karena menyesal akan lebih menyakitkan dari pada terlambat."
"Aku tahu." Radit menarik nafas sejenak, meski berat ia harus bisa.
Radit masuk lebih dulu meninggalkan Anggara, langkahnya tidak terburu-buru malah semakin melambat ketika melihat wanita cantik itu masih tertidur pulas di sofa kesayangannya.
Dulu, Radit akan mengangkat tubuh rampingnya dengan sangat bahagia, hati yang tak karuan karena mengagumi kecantikan saudara sekaligus wanita tercinta.
Dulu, Radit akan menggodanya ketika sudah bangun dan mengatakan tubuh ramping itu semakin berat. Mendengar rengekan tak suka jika di katakan gendut.
Bibir merah itu tertarik sedikit, senyum tipis tergambar jelas, dengan mata yang mulai berembun. Hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh, rasanya kehilangan orang di depan mata itu menyakitkan sekali.
Baiknya semua kenangan indah itu tidak terbalut dengan tangis, dan baiknya kerinduan yang merajam itu tak selalu diratapi penuh penyesalan. Mungkin, masih ada harapan.
Ketika dia ingin selalu ikut kemana Radit pergi, bahkan tak segan memeluknya erat, kemanjaan seorang Zahira yang sejak lama membuat Radit tak kuasa menahan, karena ia lebih dulu tahu jika mereka bukan saudara. Zahira bermanja ria dengan sikap semaunya, tapi Raditya menanggapinya dengan cinta sepenuh jiwa.
"Zahira, aku tidak kuasa menahan semua kesedihan ini." Radit menyandar di balik pintu yang baru saja di tutup, lemas tubuhnya hingga merosot dilantai yang dingin. Seumur hidupnya hanya di habiskan dengan Zahira, berharap sisa hidupnya juga masih ada kesempatan bersama Zahira.
*
"Mas!" Zahira membuka mata dengan mengerjab indah.
Namun tak ada jawaban dari pria dewasa itu, bibir tipis dan seksi itu masih tertutup rapat menandakan ia sedang tertidur pulas.
Zahira Beranjak dari ranjang besar itu keluar dengan mengelus perutnya, sepertinya dia ingin makan atau haus.
__ADS_1
"Mama!"
Zahira melihat Ayu juga David duduk di sofa dengan menyandar.
"Oh, Sayang kau sudah bangun?" Ayu memaksa untuk tersenyum.
Zahira mengurungkan niatnya ke dapur, duduk sejenak dengan menyandar di bahu Ayu. Hari Kerja seperti ini tentu mereka akan bangun lebih pagi, begitu juga Anggara pasti sebentar lagi akan bangun dan pulang untuk bekerja.
Entah mengapa suasana menjadi hening, sibuk dengan pikiran masing-masing walaupun bagi Zahira tidak aneh, ia hanya malas bicara karena nafasnya masih tertinggal di ranjang. Dia malas bangun semenjak kandungnya menginjak usia tujuh bulan.
"Sayang! Aku harus bekerja. Kau ikut pulang atau masih ingin di sini?" Anggara menanyainya pelan, duduk di samping Zahira dan memeluknya.
"Hem, aku ikut pulang saja." jawab Zahira beranjak.
"Bu! Jam tangan Mas Radit ketinggalan ini!" seorang ART memperlihatkan jam tangan milik Raditya.
"Di simpan di kamarnya saja Bi, lagi pula mungkin dia sudah di pesawat." jawab Ayu dengan wajah sendu.
"Pesawat?" tanya Zahira bingung.
Ayu menatap wajah bingung Zahira, ia memang belum mengatakan jika Radit sudah berangkat ke Malaysia sebelum subuh. Dan bisa dikatakan jika Radit tidak ingin melihat Zahira sebelum pergi.
"Radit sudah pergi?" tanya Zahira dengan wajah sedih.
"Ya." Ayu hanya mampu berkata itu dengan senyum memaksa.
Zahira tidak mau bertanya atau mengucapkan apa-apa, entah mengapa ia sedih ketika Radit pergi tanpa berpamitan padanya. Ada sesak yang sama saat dulu masih kecil ketika Radit meninggalkan ia pergi bermain, Zahira akan menangis kehilangan. Tapi tidak! Sekarang sudah berbeda, Zahira sudah menikah dan Radit mantan suami yang tidak boleh ditangisi. Hanya merasa kehilangan seorang saudara.
__ADS_1