Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
183. Jangan pernah meninggalkan


__ADS_3

"Mas!" Zahira memekik, ia ditarik seseorang dan Anggara menahannya.


"Lepas?" ucap Anggara geram.


Laki-laki itu tertawa dan membuka masker juga topinya. "Jangan takut, ini Paman mertuamu." ucapnya dengan senyum licik.


"Lepaskan istriku, aku tidak rela kau menyentuh milikku." Anggara berkata dingin.


"Ah, keponakan. Kau hanya belum tahu betapa indahnya berbagi. Kau akan merasakan sensasi berbeda." Daniel tertawa keras.


Anggara maju dan meraih tangan Daniel, memaksanya melepas lengan Zahira. "Kau tidak pernah punya istri, jadi kau tidak paham betapa berharganya seorang istri, belahan jiwa." tegas Anggara, menggenggam tangan Zahira begitu erat, menyembunyikan di balik tubuh gagahnya.


"Kalau begitu berikan istrimu, aku akan menikah hari ini juga." ucapnya senang.


Jangan bermimpi di pagi hari, karena saat kau bangun kepalamu akan terasa pening." jawab Anggara.


"Ah, kau akan melarikan diri setelah menghancurkan perusahaan baruku?" tanya Daniel dengan sinis.


"Kau memang selalu mengikuti jaman Paman! Kau yang memulai, tapi ketika ku balas kau malah berteriak bahwa kaulah yang tersakiti." Anggara juga tersenyum sinis.


"Hahaha." Daniel tertawa keras hingga perut buncitnya ikut bergoyang. "Berikan istrimu, aku tidak akan mengganggumu untuk selamanya. Soal anak-anak, aku tak masalah membesarkannya dan membuatnya sehebat dirimu dan diriku." Daniel kembali tertawa.


"Kalau begitu, langkahi dulu mayatku." Anggara menendang perut laki-laki yang membuatnya sangat emosi, ia tak suka istrinya di jadikan bahan negosiasi.


Mereka saling menendang dan memukul, perkelahian masih seimbang, hingga akhirnya Anggara berhasil membuat Daniel terjatuh. Tapi kemudian keadaan berbalik, Anggara terjatuh membuat Zahira sangat panik.


Jia melepas pakaian panjangnya dengan sekali hentak, gaun tipis yang sengaja di atur untuk menutupi pakaian khas dirinya. Ia maju lebih dekat dengan Daniel.


"Kau pasti sangat sibuk mencariku?" ucap Jia tersenyum sinis.


"Hoh, kau sengaja bersembunyi?" tanya Daniel. Pria itu sedikit terkejut dengan adanya Jia, ia takut Jia mengalahkan dan merebut senjata curian yang dimilikinya.


"Aku bahkan sangat dekat denganmu." Jia melirik tajam, tapi seringai meremehkan jelas terlihat di wajahnya.

__ADS_1


Daniel mundur, pelan dan perlahan sepertinya ia akan melarikan diri.


"Mau kemana Paman Daniel?" Anggara menghadang Daniel dan mulai menyudutkan laki-laki itu, mau tak mau mereka kembali saling memukul.


Tapi perhatian Jia terpecah saat anak-anak di serang beberapa orang, Ayu juga David melawan namun tetap saja Jia tidak bisa diam.


Di tengah perkelahian hebat itu, Radit baru saja datang dan melihat Zahira berdiri sendirian dengan wajah takut menyaksikan Anggara. Namun kemudian Anggara berhasil memukul Daniel hingga lemas. Anggara segera mendekati Zahira dan meraihnya.


"Kita pergi Mas!" Zahira menarik tangan Anggara.


"Ya." jawabnya masih dengan nafas naik turun, tapi ia begitu terkejut ketika Daniel membidik ke arah mereka dengan benda seperti cerutu. Anggara mendorong Zahira hingga hampir terjatuh bersama Radit. Beruntung pria itu menangkap tubuh ramping Zahira.


Jia kembali menyerang Daniel, menghajarnya tanpa ampun hingga tak berdaya, pria itu babak belur dan Jia berhasil merebut senjata curian milik Daniel. Namun Daniel tak putus asa, ia kembali meraih dan membidikkan pada Jia.


Dor!


Anggara melepaskan peluru dari senjata api yang sudah sangat lama ia simpan, senjata pribadi yang sudah sangat lama ia tidak menggunakan, entah mengapa hari ini ia membawanya di kantong jas terbaik milik Anggara. Mungkin memang Tuhan sudah menghendaki Daniel habis di tangannya, impas dengan nyawa ibunya 39 tahun yang lalu. Mulai saat ini tak ada lagi kejahatan keji dari seorang Daniel.


Begitulah ucap hati Anggara melihat Daniel tergeletak tak bernyawa. Ia berbalik dengan hati lega, ia tak perlu khawatirkan apapun, Zahira dan anak-anak akan baik-baik saja sekarang. Tidak perlu keluar negeri dan menjauh dari rumah mereka, rumah yang penuh dengan kenangan dan kebahagiaan bersama Zahira, juga anak-anak.


"Sayang." Anggara membentangkan tangan ingin memeluk Zahira, ia benar-benar ingin pulang dan menghabiskan waktu dengan tenang.


"Mas." ucapnya lirih, Zahira sangat lega dengan berakhirnya Daniel. "Apakah kau akan di tahan polisi?" tanya Zahira dengan wajah cemas.


"Kita membela diri Sayang." jawab Anggara tenang, ia memeluk erat tubuh ramping itu, mengecup pucuk kepalanya dengan sejuta kelegaan hari ini setelah berbulan-bulan ia takut sesuatu yang buruk datang karena Daniel yang tak pernah menyerah.


"Kita tidak akan pergi?" tanya Zahira terdengar merdu.


"Tidak, kita akan pulang." Anggara tersenyum hangat, melonggar pelukannya dan melangkah menuju mobil yang lain.


Tapi di kaca mobil sebelahnya Anggara melihat seorang wanita membidik Zahira dengan senjata api. Anggara menarik Zahira hingga membentur pintu.


"Ahh!" Zahira menahan sakit di bahu juga lututnya bersamaan dengan suara tembakan. Zahira berbalik menatap suaminya.

__ADS_1


Hening.


Tangan halus Anggara memegang sebelah dadanya, ia menunduk dan melihat jika tangannya berdarah.


"Maaaass!" Zahira menjerit histeris, segera mendekat dan memeluk Anggara. Di kaca mobil ia melihat sosok seseorang yang sudah berbalik. Ia ingin berteriak keras, tapi tangan Anggara memegang kuat bahu Zahira.


"Sayang." ucap Anggara menahan sakit.


"Kau tertembak Mas!" tangisnya pecah. "Kita ke rumah sakit! Jiaaa!! Jiaaaaaa!" panggilnya kencang.


Anggara menggeleng dengan masih bertopang pada tubuh Zahira. "Tidak!" ucapnya lagi menahan sesak dan sakit.


"Kau harus di obati, aku tidak mau kehilanganmu!" ucapnya ketakutan.


"Aku -" ucap Anggara terputus.


"Aku mencintaimu Mas." ucap Zahira merengek sedih, hanya diangguki Anggara, ia menatap wajah cantik itu dengan sendu, berusaha tetap berdiri dengan tangan Zahira menopang dan memeluknya.


Anggara mengangkat jari dan menyentuh wajah Zahira.


"Aku punya kabar bahagia." ucap Zahira pelan dengan air mata menetes, mendongak wajah tampan yang begitu tegang menahan sakit. "Aku hamil Mas!" ucap Zahira dengan air mata membanjir di wajahnya kali ini, membentuk aliran sungai yang begitu deras.


Wajah tampan Anggara berubah sedih, air matanya menetes jatuh di pipi Zahira, terasa hangat namun menyakitkan, hingga tubuh tinggi dan gagah itu ambruk, Radit dan David langsung membawanya masuk ke mobil dan membawa ke rumah sakit.


"Kita akan ke rumah sakit." ucap Zahira menenangkan Anggara yang kini tidur di pangkuannya.


Anggara memutar wajahnya menghadap perut Zahira, ia tidak mampu bicara atau bergerak lebih banyak. Mata cokelatnya mulai menutup.


"Mas, kau harus bertahan demi aku, demi anak kita!" ucap Zahira menyentuh pipi Anggara dengan air mata menetes di wajah tampan itu.


Mata cokelat itu terbuka sedikit, genggaman tangannya tak lagi membalas.


"Kau tidak boleh pergi. Kau sudah janji akan menuruti semua mau ku! Kau sudah janji Mas!" teriak Zahira menggoyang tubuh Anggara berkali-kali.

__ADS_1


__ADS_2