
"Aku ingin tahu, daripada kau makan makanan pedas seperti tadi!" Radit menunjuk ke belakang arah gerobak bakso tempat mereka makan berdua.
"Tapi itu lebih sulit." Merry menunduk.
"Katakan saja." Radit mulai tak sabar.
"Itu_"
"Apa?" Radit berhenti dan menatap wajah gadis itu serius.
Merry menjadi gugup sekali, dalam keadaan sadar ia menatap wajah tampan Radit sedekat ini, ia semakin tak mampu berbicara.
"Apa?" tanya Radit lagi.
"Di peluk olehmu." jawabnya menunduk.
Radit menautkan kedua alisnya, tapi tidak ada kebohongan di wajah gadis itu, bahkan ia menunduk dan tidak berani menatap wajah Radit.
"Kenapa menunduk? Bukankah kemarin kau berani memulai duluan?" Radit masih memperhatikan istri keduanya, ada rasa kesal namun ada rasa yang lain yang sulit di ungkapkan.
Gadis itu diam tak berani menatap, tangannya sibuk mengelus perutnya yang mulai berisi. Terlihat jelas di mata Radit bahwa wanita itu begitu menyayangi anak di dalam perutnya, apa secinta itu Merry padanya? Akhir-akhir ini pikiran seperti itu sering kali menggoyahkan perasaannya.
Radit kembali melajukan mobilnya hingga satu jam lebih mereka tiba di apartemen Merry. Keduanya masih saling diam dan tak memulai bicara hingga Radit akan segera pulang setelah mengantar Merry masuk ke dalam.
"Radit." panggilnya.
Radit menoleh, wajah cantik dan lesu itu tampak ingin sekali di manja.
"Ada apa?" jawabnya pelan.
"Bolehkah aku memelukmu?" pintanya ragu dan sendu.
__ADS_1
Radit tak menjawab, hanya menatap tajam dan lama. Hingga akhirnya pria itu kembali masuk dan mendekat, dengan tiba-tiba tangannya meraih dan memeluk Merry begitu hangat.
Lama Merry menikmati pelukan itu, air matanya menetes membasahi baju Radit di bagian dada kiri, rasa haru, cinta, sayang, sedih dan rindu semua melebur menjadi satu. Lama kelamaan isakan tangisnya semakin jelas, bahunya berguncang dalam pelukan Radit.
"Maaf." ucapnya terbata-bata. "Maafkan aku Radit, jika aku tau dari awal kau sudah menikah aku tidak akan mendekatimu dan mengganggu hidupmu. Tapi sungguh rasa cintaku begitu besar hingga aku sulit untuk menahannya." Merry masih menangis pilu.
"Sudahlah, yang terpenting kalian sehat hingga melahirkan." jawab Radit mencoba menekan gejolak di dalam hatinya, rasa kesal, marah dan tidak terima itu sungguh masih ada, namun tak ada gunanya mengabadikan rasa itu.
Semua sudah terjadi, Radit mencoba berdamai dengan diri sendiri.
"Aku tau Radit, maka dari itu aku tak akan menuntut banyak hal darimu. Aku akan berusaha untuk tidak merepotkanmu lagi." Merry melonggarkan pelukannya menatap wajah Radit dengan masih berlinang air mata.
"Walau bagaimanapun juga disini ada anakku, jika kau butuh aku kau bisa menghubungiku." ucap Radit menenangkan Merry, tangannya menyentuh sedikit perut Merry.
Sentuhan hangat itu membuat Merry merasa nyaman dan menahan tangan radit lebih lama, menyandarkan kembali kepalanya di dada bidang Radit dan menikmati wangi di dada itu. Seakan terhanyut dan lupa segalanya Radit memutuskan untuk kembali menemani Merry sejenak membiarkan gadis itu tidur dengan memeluk dirinya. Menatap wajah cantik yang sedang mengandung anaknya begitu damai dan tenang, hembusan nafas pelan dan bibir mungil itu terlihat menggoda.
Radit tersenyum tanpa sadar, menyaksikan wanita yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan dirinya hingga menjemput kehamilannya. Iseng ia membuka ponsel gadis itu, tak ada foto siapapun kecuali foto Merry bersama sang ayah, dan satu foto laki-laki tercintanya, Raditya.
Sesekali menahan nafasnya untuk tidak memburu, pria normal yang sudah beristri sangat mudah untuk di bangkitkan gairahnya. Termasuk saat ini, ingin sekali rasanya mengulang hal itu bersama istri keduanya, terlebih lagi istri keduanya begitu menginginkan Radit bersamanya.
Zahira!
Radit hanya mencintai Zahira saja, Radit membuang ponsel itu di atas kasur, mencoba menyingkirkan tangan gadis itu dan melihat jam dinding sudah menjelang sore, Zahira akan marah dan merajuk karena Radit pergi tanpa alasan dimana dan kemana.
Pria itu keluar terburu-buru menuju mobilnya.
*
"Assalamualaikum Mama!" Zahira sedang menghubungi Ayu.
"Wa'alaikum salam sayang." Ayu begitu bahagia mendapat telepon dari anak sekaligus menantu.
__ADS_1
"Apa Radit ada di sana Ma?" tanya Zahira tanpa basa-basi, sungguh ia jenuh di saat akhir pekan Radit malah pergi lama, tak biasanya Radit seperti itu, bahkan jika bekerja di hari Sabtu ia tak akan betah hingga sore.
"Tidak ada sayang, Mama ada di rumah. Apa Radit mengatakan akan bekerja hari ini?" tanya Ayu, terdengar suara mertua sekaligus ibunya ikut penasaran.
"Tidak Mama, tadi dia mengatakan hanya ingin keluar bersama teman sekolahnya, mungkin sebentar lagi Radit pulang."
"Nanti mama telpon ke kantor sayang, mungkin dia ada di sana." Ayu mencoba menenangkan Zahira.
"Iya. Assalamualaikum Mama." Zahira mengakhiri panggilannya setelah mendapat jawaban dari Ayu.
"Sayang!" suara Radit terdengar di dekat telinganya, rupanya sejak tadi pria itu sudah ada di belakang Zahira.
"Kau darimana saja?" Zahira mengerucutkan bibirnya, seperti biasa gadis itu akan merajuk.
Tentu saja merajuk, itu sebab ia tidak tahu kemana suaminya pergi, bayangkan jika dia sudah tahu!
"Aku ke rumah temanku sayang, kebetulan tadi ramai sekali jadi merasa tidak enak meninggalkan mereka pulang." Radit mengucapkan kata-kata yang meyakinkan di depan Zahira. Di tambah lagi dengan sikap yang selalu hangat, mana mungkin pria romantis dan selalu memanjakan istrinya akan berselingkuh? Begitu Zahira selalu berpikir, Radit sungguh-sungguh menyayanginya.
"Oh, tapi ponselmu tadi tidak aktif." Zahira menunjuk ponsel Radit, yang memang Radit perlihatkan dalam keadaan mati.
"Low baterai sayang." ucapnya lagi memeluk dan mengecup pipi mulus istrinya, menghirup aroma wangi yang tak pernah ia temukan di mana-mana.
"Aku malas selalu menunggumu jika sedang keluar, kau selalu lama." Zahira masih sedikit merajuk.
"Lain kali aku tak akan lama. Atau kau mau ku ajak bertemu teman-temanku?" tawar Radit dengan meyakinkan.
"Tidak, temanmu laki-laki semua." jawabnya pelan, tentu saja membuat Radit sangat senang.
Sore yang cerah mereka habiskan bersama, bercerita, bercanda dan bermanja-manja. Begitulah kebahagiaan itu selalu mereka nikmati seakan waktu berjalan sangat cepat jika sudah berdua.
Malam panjang pun tak ketinggalan mereka habiskan bersama, wanita cantik sempurna begitu membuat Radit tak pernah melepaskan istrinya walau hanya sekejap saja. Namun, entah mengapa kali ini terselip nama lain yang mengganggu kebahagiaan mereka, sekelebat bayangan ibu hamil yang sedang tidur nyenyak di pelukan Radit itu kembali terpampang jelas saat Radit akan memejamkan mata.
__ADS_1