Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
99. Bisnis baru


__ADS_3

"Kau sedang apa?" Merry mendekati Radit yang sedang membuka beberapa berkas dengan laptop menyala.


Mempelajari tentang struktur pariwisata, aku ingin memulai bisnis baru tanpa campur tangan Papa dan Mama." Radit menoleh sejenak, ia tak melihat putrinya.


"Oh. Itu bagus." Merry duduk di sebelahnya.


"Dimana Laura?" tanya Radit masih sibuk dengan laptopnya.


"Di kamar, dia sedang tidur." Merry menyandar di kursi, setia menemani Radit bekerja.


"Istirahatlah jika Laura sedang tidur, bukankah semalam kau terbangun hingga beberapa kali." ucap Radit.


"Kau benar, aku lelah sekali. Tapi aku bahagia bisa bersamamu, dan melihatmu semangat bekerja seperti ini." Merry memujinya.


"Aku sudah punya istri dan anak, aku tidak bisa bergantung dengan Mama selamanya." ucap Radit dengan nafas berat, hatinya sedang bergemuruh hebat mengingat kesalahannya di akhir pernikahan dia malah tak memberi uang untuk Zahira. Tak menyangka takdir begitu kejam membuatnya menyesal di akhir cerita.


"Bukankah kau punya dua perusahaan besar, mengapa tidak meminta salah satunya. Bukankah memulai dari nol itu butuh proses dan tenaga yang banyak." ucap Merry memberi saran.


"Perusahaan Kontraktor itu milik Zahira, bukan milikku." jelas Radit masih terlihat serius dengan banyak berkas di tangannya.


"Lalu sekarang siapa yang mengelolanya?" Merry sungguh penasaran, tapi satu pertanyaan terjawab di dalam hatinya. Pantas saja wanita itu memiliki gaya dan aura yang tak kalah dengan anak-anak pengusaha lainnya, bahkan terlihat berkelas walaupun gaya hidupnya tidak berlebih-lebihan.


"Papa." jawab Radit singkat.


"Lagi pula dia sudah tidak ada Sayang, siapa lagi kalau buka Papa, lalu dirimu." jawabnya tersenyum manis sekali.


"Entahlah, aku bahkan tidak sanggup datang ke sana." jawab Radit lagi, tangannya berhenti sejenak dari aktivitasnya.


"Aku siap membantumu Radit." Merry mengusap bahu Raditya yang selalu terlihat gagah.

__ADS_1


"Kau boleh membantuku, tapi tidak untuk semua milik Zahira." jawab Radit balas tersenyum, ia tak ingin Merry berharap dengan apa yang bukan miliknya. Entah mengapa Radit merasa tak suka istrinya itu membahas perihal Zahira.


"Apapun itu, aku hanya ingin membantu." Merry kembali tersenyum lembut pada Raditya.


Radit melanjutkan pekerjaannya, ia sedang sangat fokus tak mau di ganggu apalagi sampai pikirannya terpecah dengan yang lainya.


Hari-hari berlalu, tak hanya Radit yang larut dalam kesibukannya, tapi juga Anggara dan Zahira sedang larut dalam kebahagiaan yang nyata.


Hampir dua bulan Radit sibuk dengan kantor baru, juga perekrutan pegawai juga hal-hal besar hingga kecil lainnya, pria muda itu masih penuh semangat bahkan boleh di bilang semangatnya sedang menggebu. Dia tidak akan mengulangi kegagalan itu lagi, sekolah yang kacau, Zahira yang sudah pergi, itu semua karena dirinya, karena ke bodohnya. Berharap dengan sibuk bekerja dia tak akan menjadi pria lemah yang penuh penyesalan, perlahan ia akan melupakan semuanya, tapi tidak untuk cintanya.


Senja itu tak membuat ia segera pulang, hatinya sedang bersedih dengan segala kenangan manis bersama Zahira. Dia begitu cantik untuk si lewatkan di setiap senja mereka selalu bersama dengan sejuta kemesraan akan tercipta dengan sendirinya. Wajah cantik dan suara selalu menggoda, juga wangi tubuh yang tak pernah hilang dari setiap tarikan nafasnya, seakan masih menempel dengan abadi di rongga hidung pria muda itu. Hingga saat ini, dia masih merindukannya, suaranya, tawanya, rengekan manja dan kelembutan sikapnya. Semua itu masih begitu nyata, semakin menguasai hati, bahkan tak terganti walaupun memeluk dan mencium Laura. Hanya sejenak anak kecil itu bisa menghibur walau tak bisa menghilangkan luka.


"Entah mengapa di senja ini aku semakin merindukanmu Zahira." ucapnya lirih.


"Belum pulang?" suara seseorang menyapa.


Radit sengaja memilih Akbar untuk bekerja sama dan akan selalu menemaninya. Sepupunya itu juga sedang belajar membuka usaha, sangat tepat sekali jika mereka berdua bekerja sama dalam segi keuangan dan pengalaman.


"Kau masih merindukan istrimu." Akbar tersenyum melihat wajah adik sepupunya yang selalu bersedih.


"Tentu saja, aku sangat mencintainya." jawab Radit masih menatap langit yang jauh.


"Terkadang kita harus berpisah untuk bertemu, lalu bertemu untuk berpisah. Entah yang mana akan lebih dulu kita temui, yang pasti hidup akan terus berjalan. Kita tidak bisa memilih salah satunya, setiap pertemuan akan ada perpisahan entah itu meninggalkan duka atau meninggalkan suka, dan kau sedang mendapatkan duka. Tapi yakinlah setelah duka akan ada bahagia, tak selamanya malam menjadi gelap, hanya akan ada batas waktu yang setelahnya tak 'kan ada yang mampu menghadang matahari. Sudah pasti terang akan datang dengan kisah dan cerita yang baru, begitu pula dirimu." Akbar menepuk pundak Radit.


"Aku bahkan tak mampu berdiri jika mengingat kesalahanku sebelum kepergiannya." mata pria itu kembali berembun.


"Semua akan berlalu." ucap Akbar tersenyum.


"Besok kita akan ke puncak B, kita akan mengajak beberapa orang menginap di sana untuk mempertimbangkan pembangunan wisata beserta Vila di sana. Yang ku dengar di sana berdiri banyak Vila dari yang murah hingga yang berkelas, termasuk milik pamanku." Akbar bercerita.

__ADS_1


"Anggara?" tanya Radit sedikit tertarik, tentu jika Anggara sudah membangun Vila di sana berarti lokasi itu sudah terkenal.


"Iya, itu sebabnya aku merekomendasikan tempat itu untuk kita bangun bersama. Yakinlah kita tidak akan rugi." Akbar begitu yakin.


Tentu saja Akbar yakin, karena Anggara adalah saudara sepupu ayahnya. Pria itu sudah sangat berpengalaman dalam bisnis dan tidak pernah gagal karena otaknya yang terkenal jenius sejak masih balita.


"Terserah kau saja." Radit percaya jika Akbar juga tak mungkin mau rugi.


"Pulanglah, besok kita akan berangkat di pagi hari." Akbar memberinya sedikit semangat.


"Kau juga." jawab Radit tersenyum.


"Aku masih bujangan, tak ada masalah aku pulang atau tidak." Akbar menggoda saudara sepupunya.


"Ku rasa sama saja." Radit tersenyum dan meraih barang-barangnya untuk di bawa ke mobil.


"Tentu berbeda, mungkin Dua ronde untuk menginap satu malam agar tidak merasa terlalu lama di tinggalkan." Akbar semakin menggodanya.


"Ada-ada saja." Radit tak mau menanggapi saudaranya yang berbulu di wajah itu.


Hari yang mulai gelap membuat Radit sedikit melaju lebih cepat, ia ingin segera pulang, sholat dan istirahat.


"Sayang, kau pasti lelah sekali." Merry menyambutnya dengan hangat.


"Tidak juga, dimana Laura?" Radit tak melihat istrinya menggendong Laura.


"Ada di dalam, dia tidur sejak sore." Merry meraih tas dan melepas jas yang di pakai Radit.


"Aku mandi dulu." Radit menuju kamarnya segera mandi dan sejenak kemudian keluar dengan wajah yang lebih segar.

__ADS_1


"Merry?" dia terkejut saat keluar mendapati istrinya sedang menunggu dengan penampilan terlihat menggoda.


__ADS_2