
"Mau banget Bu, asal setia." jawab wanita itu kegirangan.
Obrolan mereka semakin ramai, Zahira pun ikut tertawa tapi tidak dengan Radit. Bayangan kesalahan bersama Merry kembali membuat pria itu tak bisa menikmati kebahagian sepenuhnya, walau cintanya sepenuh hati untuk Zahira tapi sebagian ingatannya sudah terbagi meski ia tak menginginkannya.
Entah sampai kapan ia mampu bertahan dengan gejolak perasaan yang begitu membuat gelisah, jika harus menunggu anak itu lahir lalu berpisah sungguh itu terlalu lama. Dan, bagaimana dengan anak itu seterusnya? Apakah selamanya bisa menutupi hal itu dari Zahira, rasanya itu tidak mungkin. Bagaimana jika Zahira tahu? Ah lagi-lagi pertanyaan itu membuat Radit sakit kepala.
"Sayang kita masuk ke kamar saja." Radit lelah harus berpikir dan berpikir, mungkin menghabiskan waktu bersama Zahira adalah cara yang tepat untuk menghilangkan stress yang di alaminya.
Hari-hari Radit terasa sangat lama dan menyiksa, satu bulan memiliki istri dua membuat Radit banyak berpikir dan tubuhnya sedikit kurus. Harusnya tak ada masalah hanya menikahi dan tidak perlu membagi waktu, tapi satu hari Merry menghubunginya itu menjadikan nyali Radit menciut hingga satu bulan tentu saja dia takut ketahuan.
Dan hari ini sudah dua bulan semenjak hari pernikahannya dengan Merry, Radit ingat jika harus mengisi rekeningnya untuk memenuhi kebutuhan istri kedua.
"Merry, aku sudah mengisi ATM-mu."
"Hari ini aku cek ke dokter kandungan, aku ingin kau mengantarku." jawaban Merry di seberang sana.
"Sepertinya aku tidak bisa, aku harus menemani Zahira." jawab Radit menolak.
"Tapi ini anakmu Radit, aku tidak mungkin pergi sendirian tanpa suami." ucapnya lirih di ujung kalimat.
Radit menarik nafas dalam-dalam, ingin menolak namun rasanya tidak tega membayangkan ada anaknya di dalam sana. "Baiklah." jawab Radit pasrah.
Siang itu mereka memilih klinik di pinggir kota untuk menghindari bertemu dengan orang-orang yang mungkin mengenali mereka. Radit menemani Merry masuk ke klinik, ia terlihat bahagia.
"Kehamilan pertama?" tanya dokter muda itu tersenyum ramah.
"Iya dok." jawab Merry bahagia menoleh Radit di sampingnya.
"Kita lakukan USG ya!" Dokter itu menyiapkan alat dan meminta suster juga menyiapkan tisu.
Merry meminta Radit mendekat dan menggenggam tangannya, kali ini wanita itu merasa menjadi istri paling bahagia, mengandung anak dari pria tampan yang di cintainya, saat periksa juga di temani oleh suami seperti pasangan selayaknya, rasanya itu indah sekali.
"Ini bayinya Mama ya, calon Papa juga lihat ini, yang di tengah ini bayi anda, belum bisa di lihat dengan jelas tapi sudah ada detak jantungnya. Usianya tiga bulan!" Dokter mengakhiri ucapannya namun masih memutar-mutar alat USG di perut Merry.
"Dok, saya masih sering mual walaupun sudah tiga bulan." Merry menjelaskan keluhannya.
__ADS_1
Dokter itu melepas alat USG dan mengusap perut Merry dengan tisu. "Itu biasa Mama, calon Papa harus lebih perhatian untuk memberikan rasa nyaman. Menjaga mood ibu hamil sangat bagus untuk perkembangan bayi, jangan stress, ibu hamil harus selalu bahagia." jelas dokter itu lagi, duduk sambil menulis obat mual dan Vitamin, dan memberikan kertas bertulisan itu pada Radit.
"Terima kasih Dok." Radit mengambilnya, lalu kemudian kembali membantu Merry turun dari ranjang.
"Jangan lupa makan yang banyak." tambah dokter muda itu lagi dengan ramah.
"Terimakasih, kami permisi." Merry keluar menuju kasir untuk menebus obat bersama Radit.
"Apa kau ingin makan sesuatu?" Radit melihat mata istri keduanya itu tak henti melihat banyak penjaja buah-buahan dan berbagai makanan di pinggir jalan tak jauh dari klinik.
"Kau mau menemaniku?" tanya Merry dengan wajah pucat dan lembut.
"Iya." jawab Radit.
Entah mengapa semenjak hamil gadis itu jadi lembut dan manis, wajahnya terlihat bersih, matanya teduh, dan tubuh yang saat ini mulai berisi menjadi daya tarik tersendiri di mata Radit.
Senyum manisnya mengembang, matanya menatap penuh cinta. Sungguh ia berharap Radit bisa jatuh cinta padanya, apalagi dengan hadirnya anak itu dalam perutnya ia berharap akan mengikat dia dan Radit selamanya. "Terimakasih."
"Kau mau makan apa Merry?" Radit melihat banyak sekali aneka makanan di beberapa gerobak pinggir jalan itu.
"Bakso saja boleh?" tanya Merry menatap Radit dengan ragu.
"Aku pesan satu, yang pedas." Merry langsung duduk memesan satu porsi pedas.
"Kau pesan sendirian?" tanya Radit ikut duduk di sampingnya.
Merry menoleh seakan ia tak percaya dengan sikap pria di sampingnya.
"Ah, pesan satu lagi pak, yang sedang saja." Merry langsung berteriak pada penjual bakso. Hatinya sungguh bahagia dan tak akan pernah melewatkan momen makan berdua ini.
"Kenapa harus pedas?" tanya Radit lagi, mata sipitnya sedikit melirik.
"Agar rasa mualku berkurang, aku sering makan-makan berkuah dan pedas di apartemen untuk menghilangkan mual." jawabnya polos.
"Aku takut perutmu sakit!"
__ADS_1
Hah!
Merry semakin tercengang mendengar ucapan Radit hari ini, entah ada apa dengan pria itu, apakah dia sudah jatuh cinta?
"Ah, emm sejauh ini tidak." jawab Merry ragu-ragu. "Sebenarnya ada dua cara untuk menghilangkan mualku, tapi itu sungguh tak mungkin ku dapatkan, makanya aku lebih suka makan pedas." tambahnya lagi.
"Cara apa?" tanya Radit penasaran.
"Di_"
"Ini pesanannya, silahkan di makan."
penjual bakso itu datang mengantarkan pesanan mereka sekaligus menghentikan percakapan yang mulai menghangat.
"Terima kasih." ucap Merry langsung menyibukkan kedua tangannya dengan garpu dan sendok. Ibu hamil itu begitu bernafsu melihat makanan bulat-bulat kenyal itu, sesekali bibir mungilnya menyeruput kuah pedas dan berwarna coklat hitam sebab bercampur dengan kecap.
"Boleh aku mencoba milikmu?" Radit penasaran dengan rasa yang ada di mangkok Merry.
"Tidak boleh, kau punya sendiri." Sungutnya sambil mengunyah.
Radit tak percaya mendengar jawaban itu, persis seperti anak kecil yang takut sekali makanannya di minta atau di habiskan. 'Apa sebab dia sedang mengandung?' Radit tampak berpikir.
"Sedikit saja masa tidak boleh." bujuk Radit lagi.
"Tidak." jawabnya sedikit menjauhkan mangkuknya.
Radit semakin gemas melihat kelakuan istri keduanya itu, dalam keadaan normal dia tak mungkin bersikap seperti itu. " Baiklah, jika tidak boleh aku tidak akan menemanimu makan lagi." ancamnya.
Merry tampak berpikir. "Sedikit saja." ucapnya pelan.
Radit semakin geli mendengarnya, mengambil sendok dan menyendok sedikit kuahnya. "Astaga Merry, ini bukan makanan." Radit melepaskan sendok dan meminum air putih sebanyak-banyaknya.
Merry tak peduli dan terus melanjutkan makannya hingga habis.
Hingga selesai mereka kembali masuk ke mobil Radit dan mulai melaju pulang.
__ADS_1
"Oh iya, tadi kau bilang ada dua cara menghilangkan mualmu?" Radit masih penasaran.
"Untuk apa kau tahu?" Merry balik bertanya, satu tangannya mengelus-elus perutnya yang belum membuncit, hanya tampak sedikit penuh.