Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
293. Saingan abadi


__ADS_3

"Tidak, hanya sudah ada saingan abadi di dalam hatimu. Meskipun tak bisa menang darinya tapi paling tidak aku menang di sekitarmu. Aku ingin memilikimu hingga selamanya." Radit menatap wajah Zahira lebih dekat.


"Kau juga ada di hatiku." jawab Zahira pelan.


"Ya." bisik Radit menikmati wajah cantik yang sedikit lelah, sepertinya hari ini Zahira sangat sibuk.


"Kita pulang." Radit meraih tas Zahira, juga tangannya.


"Ini tas wanita." Zahira mengambilnya kembali dari tangan Radit.


"Memangnya kenapa jika itu tas wanita. Apa aku tak cukup gagah untuk membawa tas sekecil itu." Radit menutup pintu ruangan Zahira setelah mereka keluar.


"Justru karena kau gagah, akan memalukan membawa tas wanita seperti ini." Zahira terkekeh geli.


"Dulu saat kita masih sekolah aku sering membawakan tasmu, apalagi saat kau lelah dan menangis." Radit merangkul bahu Zahira, menutup lift yang menuju lantai dasar.


"Aku cengeng sekali saat itu." Zahira menertawai dirinya sendiri.


"Kau memang cengeng dan manja, dan aku membiarkan kau seperti itu. Aku menyukainya." ucap Radit pelan, menikmati suasana di dalam lift berdua.


"Akhirnya aku tak bisa apa-apa, dan tak bisa jauh dari Papa dan Mama, juga dirimu." jawab Zahira pelan.


"Itu yang ku inginkan, agar kau tidak bisa jauh dariku, dan kita tak bisa berpisah selamanya." ucapnya dengan senyum manis sekali.


"Setelah ku pikir-pikir, aku selalu merepotkan mu sejak kecil. Apa kau tidak muak selalu menjadi orang yang selalu lelah karena aku."


"Tidak, malah aku ingin merasakan yang lelah itu lagi bersamamu."


"Radit, aku tidak sedang bercanda." Zahira mendorong Radit agar sedikit menjauh.


"Aku juga tidak bercanda." Radit malah semakin merangkulnya, hingga lift terbuka dan keduanya berjalan keluar menuju mobilnya.


Sedangkan di rumah Ayra, di sana tampak ramai dengan kedatangan kedua orang tua Ayra. Juga Ayu dan David sengaja menyambut kedua orang tersebut.


"Adikku masih cantik seperti dulu." ucapan Alisa yang merupakan seorang dokter, ibu dari Ayra, wanita itu memeluk Ayu dengan erat.


"Kakak juga cantik, dan seksi." bisik Ayu menggodanya.


"Ah tentu saja tidak, semuanya sudah berpindah pada yang muda." Alisa menunjuk Ayra putrinya.


Sejenak istirahat lalu kemudian mereka makan bersama.


"Kau tidak makan?" tanya Alisa kepada putrinya.


"Aku masih kenyang Mama." jawabnya sedikit gugup, membuat ibunya sedikit berpikir.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera makan, karena ada banyak hal yang perlu kita bicarakan setelah ini." Ayu menengahi keduanya, tentu seorang dokter bisa dengan mudah mengetahui wanita yang sedang mengandung.


Hingga beberapa saat kemudian, ketiga wanita tersebut mengobrol bersama di lantai dua. Menikmati suasana hangat yang sudah puluhan tahun tak terasa.


"Jika sedang seperti ini aku jadi ingat Aldo dan Reva adikku." ucap Alisa mengenang masa muda mereka.


"Pria yang sangat suka berdebat dan membuat orang kesal." kenang ayu pada sosok ayah Zahira.


"Benar."


Keduanya tertawa, tapi sejenak kemudian Alisa kembali melirik Ayra, memperhatikan wajah dan semuanya.


"Aku perlu bicara denganmu Kak, berdua." Ayu mengajak Alisa ke kamar di dekat balkon.


"Ada apa?" tanya Alisa khawatir.


"Duduklah dan dengarkan, jangan marah atau kesal sebelum selesai." Ayu mendudukkan Alisa di ranjang.


"Ya, tapi aku merasa ada hal yang buruk." Alisa mencoba duduk tenang.


"Kak, sebenarnya kedatangan Ayra kemari bukan tanpa alasan." ucap Ayu pelan.


"Maksudmu?" tanya Alisa semakin tidak tenang.


"Apa?" Alisa membulatkan matanya, juga mulut yang setengah terbuka. "Bagaimana bisa?" ucapnya lagi hampir menangis.


"Itu bukan keinginannya! Dia tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang sedang mabuk, dan akhirnya hal itu terjadi."


"Lalu bagaimana? Putriku bagaimana?" kali ini Alisa menangis.


"Dan beruntungnya pria itu ada di sini dan sudah bertemu dengan Ayra. Saat ini mereka sedang merencanakan untuk menikah. Jadi kau tak perlu khawatir." Ayu mengusap bahu Alisa.


"Ya Tuhan, putriku menanggungnya sendirian, aku sama sekali tidak tahu." Alisa masih menangis.


"Jangan marah padanya, dia tak tahu apa-apa." ucap Ayu lagi.


"Aku ingin bertemu dengan pria itu." ucapnya kemudian.


"Ya. Kau pasti akan bertemu."


Sementara di lantai dasar, malam itu Radit dan Zahira juga datang membawa anak-anak.


"Nenek!" Teriak Satria berlari memeluk Ayu yang baru saja turun.


"Cucu Nenek sudah datang." Ayu memeluk juga mencium wajah menggemaskan Satria.

__ADS_1


Juga Sadewa yang ikut mendekat, wajahnya mencuri perhatian Alisa dan Rey suaminya.


"Dia mirip sekali seperti Anggara." ucap Alisa tak berhenti menatap Sadewa.


"Benar, kau tampan sekali Sayang, boleh Opa memelukmu?" tanya Rey dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Iya Opa." Sadewa memeluk Rey lebih dulu.


"Rasanya Opa sedang memeluk ayahmu." bisik Rey pada Sadewa. "Papamu orang yang sangat baik, Opa selalu berdoa agar ayahmu bahagia. Dan ternyata bahagianya adalah bersama ibumu, dan kalian berdua." ucap Rey lagi memejamkan mata memeluk Sadewa.


"Opa mengenal Ayah?" tanya Sadewa setelah Rey melepaskan pelukannya.


"Ya, Ayahmu adalah teman kami semua, dia yang paling muda karena dia menyelesaikan pendidikannya lebih cepat." jelas Rey mengenangnya.


"Kami juga sama seperti Ayah. Kami berdua sudah kelas tiga saat ini." jelas Sadewa sangat bangga.


"Benarkah?" Rey menatap wajah Sadewa juga Satria. "Kalian masih imut sekali!" Rey terkekeh geli.


"Tentu saja, kami masih enam tahun, masih beberapa bulan lagi baru akan tujuh tahun." Satria menjawab dengan bibirnya bergerak lincah, suka berbicara dan berdebat, Rey tahu hal itu.


"Kalian hebat sekali, seperti ayahmu." Rey memeluk keduanya.


"Paman."


Radit memeluk Rey, setelah pertemuan terakhir sejak ia dan Zahira menikah saat itu.


"Maaf aku baru sempat berkunjung setelah banyak sekali yang kalian lewati." ucap Rey menepuk pundak Radit.


"Tidak apa-apa Paman. Oh, kami membawakan martabat kesukaanmu. Juga banyak makanan lainnya yang mungkin kau suka." Radit mengajak Rey duduk di sofa ruangan keluar itu.


"Terimakasih, aku memang menyukai makanan itu." Rey langsung mengambil kotak martabak yang dimaksud Radit.


Di tengah obrolan dan keseruan bersama anak-anak, tiba-tiba Ayra menuruni tangga dan melewati mereka semua.


Terdengar di ruang tamu Ayra membuka pintu dan berbicara kepada seseorang.


Dan sedikit membuat terkejut ketika Ayra mengajaknya masuk ke ruang keluarga.


"Selamat malam, maaf aku datang mengganggu." ucap Reza dengan wajah tenang, aura seorang pemimpin dengan senyum tipis membuat kedua orang tua Ayra tercengang.


"Reza Mahendra." ucap Rey, ayah dari Ayra menatap lurus pada Reza yang juga terpaku ketika beradu pandang padanya.


"Pa,, Paman." jawabnya gugup, wajah tampannya mendadak pias apalagi ketika menoleh Alisa yang juga menatap dirinya.


"Kau mengenal Papa?" tanya Ayra menyentuh lengan Reza sedikit.

__ADS_1


__ADS_2