Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
143. Awal kecelakaan


__ADS_3

Dengan berbagai macam pikiran Vino melajukan mobilnya menuju apartemen Merry, ia berpikir selama ini jika Radit dan Merry hanya sebatas saling menghargai, tapi entah mengapa kali ini ia merasa mereka berbeda. Vino jadi memikirkan sesuatu, bagaimana dengan istri sah Radit? Apa karena seorang anak yang belum jelas, Radit lebih memilih Merry daripada istrinya? Vino memijat kepalanya sambil mengemudi, rasanya ingin segera sampai agar tidak penasaran dengan segala macam pikiran.


Ternyata tak hanya Vino saat itu yang datang ke apartemen, tapi juga Zahira, wanita cantik itu menutup pintu mobilnya dan segera menuju lantai Enam tempat Merry tinggal selama beberapa bulan terakhir.


"Sebaiknya aku datang belakangan, mungkin menjadi penonton lebih menguntungkan di saat ikut berperan tidak di hargai." gumam Vino sendiri.


Vino berdiri di dekat mobil putih itu, ingat jika Merry pernah meminta ia untuk menyingkirkan Zahira. 'Jika Zahira tiada maka Radit akan menyalahkan Merry, dialah penyebab hancurnya keluarga dan pernikahan Radit, aku akan membujuk Radit untuk membuang wanita yang senang memanfaatkan orang itu."


Vino mundur beberapa langkah, ia melihat kiri dan kanan. 'Sepertinya tak ada orang, aman!' Vino mulai membungkukkan badan, ia juga mengatur posisi tidur miring dengan mata mengawasi sekitar, tangannya mencoba meraih sesuatu di bawah mobil Zahira. Lama pria itu meraba, namun sepertinya ia kesulitan atau mungkin karena konsentrasinya terpecah dan takut ada orang yang melihat.


Hingga tangannya berhasil meraih sesuatu dan menariknya kuat, ia sedang berusaha keras sehingga tidak sadar jika seseorang sedang berdiri di dekatnya dengan tangan berkacak pinggang.


Vino tersentak, ia mengurungkan aktivitasnya yang belum berhasil. Vino beranjak dari posisinya, dengan mata tak lepas dari wanita berhijab juga menatap tajam padanya.


Beringsut mundur, karena sepertinya wanita berhijab itu tidak hanya diam, ia sedang bersiap untuk menyerang. Di lihat dari gerakannya wanita itu bisa berkelahi, vino berbalik dan berlari, wanita itu mengejarnya hingga lumayan jauh namun tidak berhasil menemukan Vino.


Lama bersembunyi kemudian ia mengendap-endap ke apartemen dan menuju lantai Enam tempat Merry berada. Dan betapa kecewanya Vino saat melihat Radit dan Merry sedang bercinta bahkan terlihat sangat menikmati, ternyata Radit tak lebih dari orang munafik yang bisanya hanya menyakiti orang lain.


Dia seolah tidak peduli, tapi pada akhirnya menjadikan Merry tempat kembali, katanya hanya mencintai Zahira tapi ternyata kini dia dan Merry sedang bercinta, sungguh dia adalah pembohong.


Vino turun dari apartemen itu dengan perasaan kecewa, marah dan kesal tapi jika langsung marah dengan Radit maka rahasianya akan terbongkar. Vino melajukan mobilnya, namun tak sengaja ia melihat mobil Zahira berada tepat di depan mobilnya. Dengan pikiran yang kusut, Vino berpikir jika menghabisi Zahira akan membuat Radit benar-benar tersiksa, dan mungkin saja menyalahkan wanita yang sudah membuatnya bodoh itu. Vino mengikutinya hingga jauh, dan sampai pada jalanan yang sepi, sekuat tenaga ia memacu gas dan mengarahkan mobilnya pada mobil Zahira, sehingga menabrak dengan keras dan mobil itu kehilangan kendali, tak hanya sekali tapi berkali-kali, Hingga mobil itu rusak parah, dan terhempas ke pembatas jurang. Vino berbalik dan meninggalkan tempat itu, dari kaca mobil ia melihat mobil putih itu meledak hebat.


Malam harinya, Vino mendengar kehebohan atas terbakarnya mobil Zahira, menewaskan pengemudi yang merupakan istri Raditya. Hatinya bergetar dengan sejuta sesal karena melakukan itu tanpa berpikir lagi, gelisah dan bersalah kali ini Vino tidak tahan dengan ketakutannya sendiri. Ia segera pergi setelah memesan taksi, ia harus segera bertemu dengan Merry.


"Vino!" seru Merry saat ia membuka pintu apartemen.

__ADS_1


Vino segera masuk dan mengunci pintu, nafasnya memburu dengan wajah takut.


"Merry, aku sudah menghabisi Zahira." ucapnya serius, wajahnya begitu dekat dengan wajah Merry.


"Kau melakukannya?" tanya Merry tak percaya.


"Ya! Seperti yang kau mau." ucap Vino berusaha tenang.


"Tapi?"Merry kehabisan kata-kata, ia juga takut jika sampai orang lain tahu maka habislah mereka berdua.


"Vino, aku takut ada yang mengetahui semua ini. Aku takut ada yang melihatmu." ucap Merry sudah tidak mampu menutupi ke khawatirannya.


"Aku menabraknya di jalanan sepi, mana ada yang melihatnya!" Vino masih berpura-pura tenang.


Vino semakin gugup tak mampu lagi berpura-pura tenang. Apalagi saat ini mobilnya juga sedang berada di bengkel karena ikut penyok ketika terlalu keras menabrak mobil Zahira.


"Aku harus bagaimana?" tanya Vino bingung.


"Kau harus segera pergi dari kota ini." jawab Merry yakin.


"Tapi Merry, bagaimana denganmu, anak kita?" Vino semakin tidak bisa berpikir jernih, kesalahan yang ia buat malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, niat hati ingin menyingkirkan Radit, malah menjauhkan dirinya sendiri dari Merry.


"Aku akan baik-baik saja, yang terpenting kau jangan sampai tertangkap polisi." Merry meyakinkannya.


"Aku harus kemana?" tanya Vino menatap sendu pada kekasihnya itu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu!" Merry ikut pusing memikirkan pertanyaan Vino.


"Merry, beri aku uang untuk melarikan diri malam ini, aku tidak mungkin meminta pada ibuku tanpa alasan."


"Aku tidak punya uang, uang dari Radit hanya tinggal Lima Belas Juta, itu juga masih untuk Dua Minggu." Merry memijat kepalanya.


"Merry berikan aku sepuluh juta, jika tidak kau juga akan ikut terpenjara bersamaku." Vino memohon.


"Tidak Vino, aku tidak mau!" Merry ketakutan.


"Aku juga tidak mau kau melahirkan di penjara, biar aku saja yang pergi jauh asal kau tetap bebas dan melahirkan anak kita." Vino membujuk Merry.


"Baiklah, aku akan meminta uang dengan Papa." Merry mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia harus berpikir dengan baik.


Vino mengangguk, pria itu duduk di ranjang empuk Merry. Ia membiarkan gadis itu keluar untuk menemui ayahnya. Hingga satu jam kemudian ia kembali dengan tas yang berisi.


"Vino, ini uang Tiga puluh juta. Pergilah dan jangan kembali lagi, juga jangan menghubungi aku dalam waktu yang lama." Merry mendekati Vino yang menyandar di ranjang empuknya.


"Aku akan pergi, tapi Dua tahun setelahnya aku akan kembali untuk bertemu anak kita. jangan ganti nomor ponselmu, aku akan tetap menghubungimu walau tidak tahu kapan waktunya." jelas Vino.


"Tidak Vino, aku tidak mau di penjara, jadi jangan hubungi aku dalam waktu Satu atau Dua tahun ini." jawab Merry takut.


"Tenanglah, lagi pula kau hanya memintaku untuk menghabisi Zahira, dan aku pelakunya." Vino menenangkan Merry sambil meraih uang Tiga ikat itu.


"Mengapa kalian sampai melakukan hal itu?" tiba-tiba seseorang mengejutkan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2