
Kehilangan........
Jika seorang bijak mengatakan, setiap pertemuan akan ada perpisahan. Itu benar....
Kata orang, setiap perpisahan yang terjadi, maka akan ada pertemuan yang baru.
Ya, mungkin sebagian dari mereka yang berpisah berharap akan ada pertemuan yang baru setelahnya. Tapi untuk sebagian orang pula, mereka tak menginginkan pertemuan lain setelah kehilangan orang terbaik dalam hidupnya.
Jika waktu bisa diulang...!
Kata-kata yang paling sering di ucapkan ketika merindukan orang yang telah hilang.
*
Rumah Kediaman Anggara.
Rumah pribadi itu kini penuh dengan banyaknya orang yang sudah menunggu kedatangan jenazah Anggara, sebagian besarnya adalah relasi dan para Direktur Perusahaan cabang, Manager dan Asisten serta Sekretaris Anggara. Mereka menunduk hormat ketika mobil Mewah dengan Ambulance memasuki Rumah besar itu. Kini di luar tak hanya keamanan dan para bodyguard yang berjaga, tapi Polisi dan Banyak pula Militer, rekan Anggara saat masih menjadi Militer kala itu.
Kepergian yang mengejutkan, menghebohkan dunia bisnis dan juga hiburan, ia tak hanya terkenal dengan kekayaan tapi juga banyaknya artis dan model yang terlibat dalam banyak produknya.
Kini yang menjadi sorotan adalah Zahira yang lemas, sembab dan tidak bisa berhenti menangis. Wanita kesayangan Anggara! Ya, semua orang tahu itu, dia begitu istimewa hingga berita kematiannya di sebabkan karena melindungi istri tercinta. Begitulah Dunia, semua akan menjadi heboh karena kekayaan, kisah cinta yang mengharukan, juga kebahagiaan yang terlihat sempurna, atau kisah kriminal yang melenyapkannya. Berita itu dinikmati hampir setiap masyarakat, menjadi bahan cerita hangat, kekaguman juga rasa iba.
Pintu ruangan besar itu terbuka! Jenazah Anggara di bawa masuk untuk segera di mandikan dan disholatkan, kemudian akan di makamkan hari ini juga.
Ruangan mewah itu menjadi saksi, kisah cinta yang di mulai ketika ia kembali dari rumah sakit Penang Malaysia, ketika masuk dengan menggenggam tangannya, ketika berada di awal anak tangga, dan Anggara menggendong tubuh kecilnya. Hangat dan nyaman! Juga setelah itu, berbicara banyak hal dengan keinginan hidup bersama hingga menikah di ruangan mewah ini pula, ikrar janji suci sehidup semati, menjaga dan bertanggung jawab atas semua kebaikan dan keburukan, menerima apa adanya. Dan kini, peraduan akhir raga yang sudah tak bernyawa itu juga di ruangan besar ini. Sebentar lagi, tubuh gagah itu tak akan bisa dijumpai, dia akan pergi menuju peraduan terakhir.
Zahira terduduk lemas di tengah ruangan mewah itu, tangisnya tak terdengar, tapi wajah sendu dan air mata tentu selalu setia.
__ADS_1
"Zahira." Ayu mendekatinya bersama Bibi, ibu asuh Anggara itu kini juga terlihat pucat dan sedih. Wanita yang sudah nenek-nenek itu merasakan kehilangan yang luar biasa.
"Bibi bawa susu Non." ucapnya mengusap linangan air mata di wajah keriputnya. "Harus kuat kalau mau ikut mandiin jenazahnya Mas Anggara." ucapnya lagi, berhasil membuat Zahira menatap wajahnya.
"Aku yang akan memandikan suamiku Bibi." lirihnya.
"Ya, minum ya Non." rayunya pelan, Bibi tahu jika Zahira tidak makan, atau dia tak punya kekuatan untuk menelan makanan.
Proses yang menyentuh, hingga sholat yang diikuti ribuan orang di rumah besar Anggara. Juga di pemakaman, banyaknya manusia tak terhitung datang dan mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya konglomerat Anggara.
Mendung, tak hanya langit tapi juga hati seorang istri sedang mendung, gelap, tak tau arah, kehilangan dan merindukan. Tubuh lemasnya masih bersimpuh di onggokan tanah pemakaman, Bermacam-macam bunga menumpuk bahkan sudah tinggi menggunung diatas makam Anggara, wangi semerbak aroma bunga segar itu menyentuh hidung Zahira. Air mata itu tak juga berhenti.
Anak-anak masih terlalu kecil untuk merasakan kehilangan, mereka tak tau apa-apa, tapi harus juga merasakan duka.
"Ibu! Hari sudah gelap, hujan akan turun dan Ayah sendirian." ungkap Sadewa menatap langit di atas sana.
"Ayah sudah pergi menuju Surga." jawab Zahira masih enggan beranjak, ribuan orang sudah mulai pulang, hanya menyisakan orang terdekat dan banyak bodyguard tetap berjaga.
"Kapan kita menyusul Ayah." ucap Satria meneteskan air mata, entah dia sedang merasa kehilangan, atau dia sedang menutupi apa yang sebenarnya dia sangat mengerti, jika ayahnya sudah tak ada.
"Nanti, setelah anak-anak Ibu selesai dengan tugas di dunia ini, kita masih punya banyak tugas yang belum selesai, salah satunya melanjutkan perusahaan Ayah dan membantu banyak orang." jawab Zahira berusaha tegar.
Mereka mendongak wajah Zahira, sepertinya mereka tertarik. "Apa sekarang tidak ada yang membantu mereka?" tanya Satria dengan mata bening tajam terlihat serius.
"Ya, karena tugas Ayah sudah selesai. Kalian harus melanjutkannya." jawab Zahira lagi.
"Aku akan melanjutkannya."
__ADS_1
"Aku juga ibu!" Sadewa menyahut, memeluk Zahira dengan wajah halus itu menempel di pipi Zahira, keduanya hanya memiliki Zahira saja.
"Zahira, hujan akan segera turun." Ricky mendekat, ia melihat jika Zahira sudah terlalu lama di sana.
Zahira mendongak, benar saja jika mendung teramat gelap, tak hanya air yang akan turun tapi langit pun seperti segera runtuh.
Zahira kembali mengelus pusara suaminya. "Aku pulang Mas, tenanglah di sana. Aku yakin kau mendapat posisi terbaik disisi Allah. Tunggu aku." tangisnya kembali pecah. Tubuh lemah itu nyaris terjatuh dan segera di pegang Jia, juga Ayu.
Zahira berdiri perlahan bersama Dua jagoan itu di kiri dan kanan. Puluhan bodyguard Anggara mendekat termasuk yang juga terluka dan memaksa keluar dari rumah sakit untuk mengikuti proses pemakaman Tuannya.
"Nyonya! Maafkan kami tidak bisa menjaga Tuan Anggara dengan baik. Kami bersalah." ungkap mereka menunduk.
Zahira menarik nafas, ia tidak menyesalkan penjagaan, hanya dasarnya seseorang memang menginginkan kematiannya, dan Anggara menggantikan posisinya. "Tidak perlu merasa bersalah, jika ada yang bersalah disini, itu adalah aku. Orang itu menginginkan kematian ku, dan suamiku menggantikannya." ucapnya pelan dan sedih.
"Kami akan menemukan wanita itu, walaupun sampai ke ujung dunia." ungkap salah satu bodyguard yang terluka.
"Ya." jawabnya singkat, tubuh ramping itu sudah sangat lemah.
Kembali ke rumah utama, menikmati suasana duka, juga kenangan yang selalu menghuni Jiwa. Biarlah...
Senja yang gelap, hujan turun dengan sangat lebat, membuat hati Zahira semakin pedih.
"Non, makanlah sedikit." panggilan Bibi membuyarkan lamunan nya, Bibi kembali mendekati Zahira dengan piring makanan dan buah.
Zahira tak menjawab, tapi kini mata beningnya fokus melihat sosok laki-laki tampan yang sangat di kenalnya.
"Radit!" panggilnya membuat anak-anak yang duduk dipangkuan Radit juga menoleh.
__ADS_1