
"Suster! Bisa jawab Aku?" tanya Merry lagi, kedua suster itu memegangi tangannya juga mengatur posisi kakinya agar bisa masuk ke kursi roda.
"Anda harus ke ruangan lainnya Nona!" jawab salah satu suster itu.
"Tapi kemana? Aku ingin istirahat saja tidak mau keluar dari sini." kesal Merry terkesan di paksa oleh Dua suster muda itu.
"Kita ke ruangan ayah Anda Nona." jawab suster yang satunya lagi.
"Papa!" tanya Merry menatap heran wajah suster itu bergantian.
"Ya, sebaiknya Anda segera melihat Papa Anda." suster itu berkata lagi.
Merry menurut, hatinya sedang khawatir memikirkan ayahnya, mengapa bisa ada di rumah sakit. Segala macam pikiran muncul di kepala Merry Sandra, termasuk Radit, dia sangat ingin Radit ada di sana.
"Suster, ada apa dengan Papa?" tanya Merry sungguh khawatir.
"Anda bisa lihat sendiri Nona, ayah Anda terkena serangan jantung." salah satu suster membuka pintu ruangan Unit Gawat Darurat.
Tampak di dalam sana seorang laki-laki terbaring dengan kain putih menutup kaki hingga wajahnya. Dokter sedang menjauhkan alat-alat medis yang sepertinya baru saja di lepas dari tubuh tua Anwar. Tak ada senyum diantar para dokter dan perawat yang ada di dalam sana, semuanya menunduk dan tanpa bertegur sapa pada yang lainnya.
"Silahkan Nona." Suster yang mendorong Merry mengatur posisi kursi roda menghadap Anwar ayahnya.
"Papa!" Merry memanggilnya.
Tak ada jawaban, hanya tangan dokter terulur di bahu Merry dan mengusap pelan.
"Papa!" panggilnya semakin pelan, bergetar dan menghentikan tarikan nafasnya ketika suster membuka penutup di bagian wajah Anwar. Air matanya mengalir dengan sendirinya, hatinya sedang tidak karuan, jantungnya berdegup kencang melihat wajah pucat itu tak memperlihatkan tarikan nafas kehidupan.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Ayah Anda meninggal." Dokter laki-laki menggunakan kaca mata itu berbicara dengan menunduk sedih.
__ADS_1
"Tidak! Papa tidak mungkin meninggalkan aku secepat ini. Tidak mungkin Dok!" teriak Merry berusaha berdiri dari kursi roda tapi tak mampu dan membuatnya hampir terjatuh, bahkan tangannya tak bisa menopang diri sendiri, terjerembab di tubuh kaku Anwar.
"Papa, jangan pergi." tangisnya dengan suara mengecil menahan pilu di hatinya, sekarang dia tak memiliki siapa-siapa. Menangis pelan, merengek hingga meraung-raung. Semua dia lakukan tentunya tak akan merubah kenyataan, Anwar tidak akan kembali hidup dengan banjiran air mata.
"Papaaaa!" teriaknya menggema di ruangan UGD, beberapa suster sudah meninggalkan ruangan, hanya ada satu perawat dan satu orang dokter masih setia menemani Merry di sana.
Teringat semua kenangan di kala masih kecil, ayahnya selalu memanjakan dirinya. Besar tanpa sosok ibu, membuat Merry hanya mengenal Anwar ibu sekaligus ayah untuknya.
"Papa tidak mungkin pergi Dok! Ini pasti bohong, ini hanya mimpi dan aku sedang tidur." Merry mengusap air matanya, beberapa kali menutup dan membuka mata berusaha untuk tidak melihat pemandangan menyedihkan itu, tapi itu sama sekali tak merubah apapun. Anwar sudah meninggal, beberapa luka memar masih tampak membekas di wajah sang ayah, membuat Merry yakin jika ayahnya meninggal karena di hajar seseorang, atau bisa juga di keroyok. Dan tentu orang yang di maksud adalah orang-orang Zahira. Ya, hanya dia yang menginginkan kematian mereka. Bahkan wanita itu menggila di ketika melihat dirinya.
"Zahira! Ini pasti ulahnya." geram Merry, sejenak kemudian kembali meraung-raung menangisi Anwar. Hingga lelah, ia masih tak mau beranjak, dokter dan suster juga sudah meninggalkan dia sendiri.
...***...
"Paman!" suara khas anak kecil itu mengusik pendengaran Radit, pria muda itu sedang menikmati waktu istirahat di sofa ruang tamu rumah Anggara.
Radit membuka tangannya, juga mata sipitnya perlahan terbuka melihat hidung siapa yang sudah menempel di pipinya, terasa dingin dan halus.
"Apa aku menggangumu?" tanya Satria masih memeluk bola karet di dadanya.
"Tidak Sayang, hanya sedikit heran bagaimana bisa hidungmu dingin sekali?" Radit menarik hidung Satria.
"Aku ikut Nenek Bibi berwudhu." jawabnya memeluk Radit.
"Ah pintarnya." Radit membalas pelukan Satria. "Mengapa kau manja sekali, hem? Apa kau sering seperti ini pada ayahmu?" Radit mengelus rambut Satria yang modelnya sama seperti dirinya.
"Tentu saja, ayah akan memeluk dan menciumku. Lalu bercanda dan menggendongku setelahnya." Satria masih memeluk Radit.
"Mulai sekarang kau bisa memeluk paman jika sedang merindukan ayahmu. Paman akan selalu bersedia menjadi sasaran hidungmu yang dingin ini." Radit kembali menarik hidung Satria, gemas dan mancung seperti hidung ibunya.
__ADS_1
"Apa ibu sudah tidak marah padamu?" tanya Satria lagi, bening mata keduanya saling beradu.
"Paman rasa tidak!" jawab Radit yakin.
"Bagaimana kalau masih marah? Artinya aku tidak bisa bermain denganmu." Satria mulai berpikir.
"Jika dia masih marah, Paman akan membujuknya agar tidak marah lagi. Jika masih marah juga, Paman akan mencubit hidungnya seperti ini." Radit mengulang kembali menarik hidung Satria, keduanya larut dalam candaan, bermain dan tertawa pada akhirnya.
"Kau meninggalkanku!" teriak Sadewa berlari ke arah mereka dan ikut bergabung dengan saling menggelitik. Tawa dan teriakan anak-anak mulai terdengar meramaikan ruangan besar itu.
Zahira mengintip dari pintu kamarnya, membiarkan kedua anaknya bermain bersama Radit. Ya, tentu anak-anak rindu sekali dengan sosok ayah, mungkin bersama Radit bisa mengurangi kerinduan mereka.
Zahira teringat dengan kejadian semalam, kemudian berbalik meraih ponsel di atas meja sudut kamarnya.
"Assalamualaikum Om."
"Wa'alaikum salam Zahira." suara Ricky terdengar siap memberikan semua informasi yang akan di tanyakan Zahira pagi ini.
"Bagaimana dengan orang-orang kita, apakah mereka ada yang terluka?" tanya Zahira terdengar khawatir.
"Ada sedikit, tapi tidak terlalu parah. Hanya di beri obat dan sudah pulang ke rumah masing-masing." jawab Ricky di seberang telepon.
"Syukurlah, lalu apa ada masalah lainnya Om?" tanya Zahira masih ingin tahu.
"Tidak ada Zahira, penyerangan terakhir malah menemukan hal yang sangat mengejutkan. Di rumah Daniel orang-orang kita menemukan banyak obat-obatan terlarang. Dan semalam mereka langsung menghubungi Polisi. Orang-orang kita aman, mereka tak akan terlibat apapun. Malah sebaliknya, Anwar terlibat dalam bisnis Daniel itu. Itu yang membuatnya kaya mendadak belakangan ini."
"Artinya Anwar dan anaknya akan di hukum?"
"Anwar meninggal. Entah jika putrinya terlibat atau tidak, semua sedang di usut oleh pihak berwajib. Tentu kita tak perlu ikut campur lagi." jelas Ricky namun tak membuat Zahira puas.
__ADS_1
"Aku harus datang ke pemakaman Anwar!" ucapnya mengejutkan Ricky.