Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
165. Wanita itu siapa


__ADS_3

"Tidak semudah itu Sayang. Jika itu bisa membereskan semua masalah maka sejak lama aku sudah melakukannya. Paman Daniel bukanlah orang yang bisa di ajak bernegosiasi, dia tidak mengenal kata sepakat apalagi janji. Dia tidak pernah menikah tapi memiliki banyak wanita cantik dan rata-rata adalah gadis muda bahkan masih Sekolah Menengah Atas. Dia menyukai hiburan dan kesenangan dunia, dia tidak segan menjerat siapa saja yang menurutnya bisa menguntungkan dan menghabisi seseorang seperti mengambil nyawa kelinci."


"Tapi aku takut terjadi sesuatu pada kita Mas." jawab Zahira dengan wajah sendu.


"Aku akan selalu melindungi kalian dengan nyawaku. Kau tidak perlu khawatir lagi pula Jia akan segera kembali." Anggara mengelus pipi halus Zahira, mengecup keningnya memberikan kenyamanan.


"Bagiku uang bukanlah segalanya, bahkan jika kau berikan seluruhnya aku masih punya perusahaan Ibuku juga aset-aset perkebunan dan Cafe yang pasti cukup untuk kita hidup bersama membesarkan anak-anak kita Mas. Bahkan aku siap tinggal di daerah perkebunan yang mendamaikan daripada kita harus selalu berlari dan menghindar dari ancaman Paman Daniel."


"Sayang, persoalannya tak sesederhana itu. Dia seorang pembisnis gelap, tidak seperti kita yang menjual barang dan mencari keuntungan, dia bahkan membisniskan wanita-wanita cantik, perjudian dan semua yang berhubungan dengan kesenangan. Jika aku memberikan semua hartaku padanya, maka dia akan menguasai semua bisnis dan mengubahnya menjadi banyak kehancuran, nasib banyak orang juga di pertaruhkan, wanita, karyawan rendah, panti asuhan, sekolah swasta yang kakekku dirikan, semuanya akan berubah menjadi tempat-tempat haram yang menghancurkan masa depan banyak orang. Dia akan menjerat semuanya agar masuk dalam bisnisnya dan kesenangan yang menyedihkan. Perlahan tapi pasti dia akan menjadi manusia paling keji dan tidak terkalahkan jika sudah memiliki semua hartaku. Bahkan lupa jika suatu saat dia juga akan mati." jelas Anggara dengan masih menangkup wajah cantik Zahira.


"Bolehkah aku egois jika yang terpenting adalah kita terbebas dari manusiawi seperti dirinya?" ucap Zahira berusaha mencari jalan keluarnya.


"Tidak sayang."


"Mas." Zahira memeluk Anggara erat, sungguh ia sedang takut dan bingung.


"Kau tidak akan menyangka yang sudah dia lakukan di belakang kita, saat ini dia sedang berhubungan erat dengan Anwar, bahkan sudah memberikan jaminan atas kebebasan dia dan putrinya, hanya saja Ricky masih bertahan dan menuntut. Entah jika sebentar lagi, mereka bisa saja melakukan sesuatu yang menyalahi aturan untuk membebaskan Merry."


"Apa hubungannya dengan Merry?" tanya Zahira semakin tak percaya.


"Anwar memiliki hubungan kerjasama dengannya. Tapi sepertinya ada hubungan yang lain, aku tidak tahu."

__ADS_1


Mereka berbicara dengan saling menatap, menikmati wajah masing-masing dengan banyak kekaguman. Sesekali kecupan hangat dari Anggara jatuh di wajah cantik itu seakan saling mengingatkan jika mereka akan selalu bersama.


"Apapun yang terjadi aku ingin selalu bersamamu." ucap Zahira.


Anggara tersenyum manis, mungkin karena sedang berpikir sehingga tidak membalas ucapan mesra dari Zahira.


*


Ditempat lain, seorang wanita bertubuh tinggi semampai dengan gaun panjang bercadar sedang dari Jepang ke Indonesia, wanita itu tampak cantik dan anggun dengan busana panjang warna pink, tangan lentik dengan ujung kukunya rapi dan juga dicat dengan warna senada. Penampilan berbeda, ia sedang mengurus penerbangannya di sebuah bandara menuju Indonesia.


Mata indahnya terlihat mempesona dengan sesekali melirik ke kiri dan ke kanan ia terus melangkah dengan indah. Hingga Sepuluh jam kemudian.


Wanita itu turun dari pesawat langsung menaiki sebuah taksi menuju sebuah pusat perbelanjaan terdekat untuk membeli ponsel dan menghubungi seseorang.


Sambungan ponsel terputus dan berganti sebuah pesan masuk ke dalam ponsel baru miliknya. Wanita itu tersenyum kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya.


"Apa kau menyukainya?" tanya Anggara di halaman rumah baru duduk bersama Zahira dengan Dua anak mereka bermain bersama bodyguard tampan dari jepang.


"Semua yang ada padamu aku menyukainya, juga rumah ini, aku menyukainya asal bersamamu." Zahira merayunya.


"Istriku Sayang, kau pandai sekali membuat aku bahagia. senyum lebar Anggara terukir sempurna. Pria itu tahu jika masih terselip kekhawatiran di dalam hati istrinya. Setiap waktu, memperhatikan wajah istrinya adalah kebiasaan dan kesenangan tersendiri, sangat intens memperhatikan semua bahkan hanya sekedar gerakan jari lentik Zahira, memahami apa yang dia inginkan, dia sukai dan dia tidak suka. Seorang yang masih sangat muda, wanita Dua puluhan yang tentu saja sangat menginginkan belaian dan perhatian, nutrisi penting untuknya adalah kasih sayang setelah makanan.

__ADS_1


Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah, seorang wanita turun dari mobil dan langsung berbicara dengan petugas keamanan di depan rumah Anggara.


"Siapa dia mas?" Zahira menatap heran dengan wanita bercadar itu bisa langsung masih ke dalam rumah dengan tanpa di awasi bodyguard lain. Dan ia juga melenggang ringan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh Zahira atau yang lainnya.


Anggara tidak menjawab, pria berusia matang itu beranjak dan mengikuti wanita bergaun warna pink itu masuk ke dalam rumah tanpa mengajak Zahira.


"Mas!" Zahira merasa ada yang aneh, ia ikut berdiri dan mengikuti mereka masuk ke dalam rumah dengan hati yang menebak-nebak siapakah wanita itu.


Anggara masih tak menoleh seakan tidak peduli dengan Zahira, terus saja melangkah sedikit terburu-buru hingga wanita itu berhenti di ruang tamu.


"Akhirnya kau pulang juga." Anggara tersenyum terus melangkah pelan mendekati wanita semampai itu. Mata Anggara tak lepas dari wajah yang tertutup cadar itu, senyumnya bangga dan penuh makna.


Tangan wanita itu terulur memberikan sebuah kertas putih bertuliskan tinta perak.


Anggara meraihnya pelan, melihat kertas di tangan lentik dan indah itu dan membacanya tanpa suara, mereka tidak tahu jika Zahira ada di balik pintu menyaksikan suaminya mendekati seorang wanita di rumahnya sendiri. Tentu dia sedang kacau namun belum memperlihatkan reaksi.


"Harusnya kau sudah pulang satu bulan yang lalu? Aku tidak menyangka mereka bahkan mengawasi kita dengan sangat detail sekali." ucap Anggara masih tanpa jawaban dari wanita bercadar itu.


Zahira menatap nanar ke arah mereka, dari postur tubuhnya jelas sekali jika wanita itu cantik dan bersih, jarinya saja sangat indah di pandang mata. Apakah dia adalah wanita simpanan Anggara? Zahira benar-benar ingin tahu, emosinya sudah mulai menguasai.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau bisa lolos!" Anggara menatap tubuh wanita itu dari atas hingga kaki. "Apakah kau terluka?" Anggara menatap nya dengan khawatir.

__ADS_1


"Maasss!!!!"


Zahira masuk dengan mendorong kasar pintu tempat ia menguping. Mata beningnya penuh amarah mendekati Anggara juga wanita bergaun pink itu. Dadanya naik turun dengan wajah memerah tangan lentiknya mengepal ingin meninju seseorang.


__ADS_2