
"Tapi aku sudah memilih Aisyah." ucap Radit tegas.
"Radit! Aku tidak kan mengulangi kesalahanku. Aku janji akan menjadi lebih baik, demi dirimu aku akan melakukan apa saja. Jika kau menyukai wanita berkerudung seperti itu, aku bersedia menjadi seperti mereka. Aku mohon beri aku kesempatan, sekali saja." Merry mendongak wajah Radit, menggenggam tangannya dan memohon.
"Entahlah Merry? Setelah apa yang kau lakukan rasanya sulit bagiku." Radit menatap wajah sendu wanita di hadapannya.
"Aku mohon! Aku hanya mencintaimu dari pertama aku mengenal cinta. Kau yang pertama menyentuhku, walaupun aku sempat gelap mata karena ingin mendapatkan dirimu dengan cara licik."
"Itu juga yang membuat aku sulit memaafkan dirimu." jawab Radit memotong ungkapan Merry.
"Radit mengertilah! Aku akan berubah." Merry meyakinkannya.
Radit menarik nafas, ia tampak berpikir. "Aku akan memikirkannya." jawab Radit melepaskan tangannya dari genggaman Merry, ia pulang dengan tanpa menoleh, mungkin hatinya sedang kembali kacau. Itu yang terlihat.
Merry benar-benar berharap, sepertinya kematian Anggara sudah cukup untuk membalas Zahira, lagi pula Radit sudah tidak memikirkan dia lagi. Merry benar-benar ingin memulai hidup baru dengan Radit, menghabiskan waktu bersama penuh kehangatan seperti impiannya. Mungkin usaha dan perjalanan yang panjang Merry akan lunas jika sekarang bisa membuat Radit memilihnya lagi. Senyum bahagia itu mengembang walaupun yang di pikirkannya masih sebuah harapan.
Sementara di rumah Anggara.
"Apa kabarmu Sayang?" tanya Ayu memeluk Zahira.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja, hanya terkadang merasakan rindu yang begitu." tersenyum getir mengingat kepergian Anggara.
"Dia mencintaimu Nak, sangat mencintaimu." jawab Ayu menggenggam hari Zahira.
"Iya, aku tak bisa membalas cintanya Mama." mendung kembali wajah cantiknya.
"Kau sudah membalasnya Nak, dia sangat menyayangimu. Mama masih ingat ketika kedua putramu lahir, dia begitu bahagia hingga menangis memeluk dirimu." Ayu mengenang masa bahagia mereka.
"Harusnya dia juga sangat bahagia ketika nanti aku melahirkan anak ketiganya ini." Zahira mengelus perutnya yang masih rata.
"Tentu saja dia bahagia. Ini titipan terakhirnya." Ayu juga memegang perut Zahira, memberi sedikit kekuatan.
"Mama benar." jawabnya tersenyum di tengah mendung di wajahnya. Membayangkan jika Anggara masih ada, mungkin rasanya akan sangat bahagia, bermanja-manja, dan meminta apa saja yang sudah pasti akan di kabulkan oleh Anggara.
"Apa Radit pernah datang?" tanya Ayu kemudian.
"Pernah, tapi aku memintanya untuk tidak lagi datang." jawab Zahira jujur.
__ADS_1
"Ya, Mama harap pembunuh Anggara segera ditemukan." jawab Ayu menatap wajah Zahira.
"Penembaknya Merry Mama! Aku melihatnya dengan mata kepalaku. Tapi sayangnya tak ada yang melihat selain aku dan Mas Anggara! Bahkan Polisi tidak menemukan bukti, hanya peluru saja yang mereka punya. Tapi aku yakin, wanita yang memakai jaket putih dan masker itu adalah Merry, aku tahu bagaimana bentuk tubuhnya, cara berjalannya bahkan aku masih ingat bagaimana tangan putihnya memegang senjata." ungkap Zahira kembali terguncang ketika mengingat kejadian yang lalu.
"Mama tahu. Kau adalah putriku, aku membesarkan dan merawatmu sejak masih bayi. Mama sangat percaya, kau tak mungkin berbohong." Ayu memeluk Zahira.
Pagi hari yang sibuk kembali dirasakan para pekerja kantoran, jalanan padat merapat, semua jenis kendaraan tampak merayap. Dua Minggu sudah berlalu semenjak kejadian memalukan di toko milik Radit, ia tak pernah datang lagi ke tempat itu.
"Halo!" Radit sedang menelepon seseorang.
"Assalamualaikum." jawaban di seberang sana.
"Wa'alaikum salam." Radit menjawab salamnya terlebih dahulu.
"Ada apa?" suara Aisyah terdengar kesal.
"Hanya ingin tahu kabarmu? Aku tak sempat datang ke sana beberapa Minggu ini, mungkin nanti sore aku bisa." jelas Radit sambil sesekali memutar alat kemudinya karena jalanan sangat lambat.
"Tidak perlu! Aku tidak suka berurusan dengan mantan istrimu yang gila itu!" jawab Aisyah kesal.
"Maafmu tidak mengembalikan harga diriku, gara-gara mantan istrimu aku terlihat seperti pel*kor!" kesal Aisyah lagi.
Radit terkekeh geli, yang di katakan Aisyah benar juga. "Baiklah, jika tidak hari ini maka besok aku akan mengunjungimu." ucap Radit lagi masih tak menyerah.
"Terserah!" jawabnya mengakhiri panggilan telepon.
Radit masih tertawa dengan kejadian hari itu, sungguh ia tak bermaksud membuat Aisyah malu, tapi Merry memang tidak berubah, bahkan semakin ganas setelah keluar dari penjara.
Hingga di sore hari, Radit langsung menuju toko elektronik miliknya. Jelas di sana sudah ada Merry melirik kedatangan mobil silver mewah itu. Merry segera keluar menyapa Radit yang baru saja turun dari mobilnya.
"Hei!" Radit menyapa sedikit, meninggalkan Merry masuk ke dalam tokonya.
"Radit!" panggilnya, Radit tak menjawab hanya menoleh sedikit.
Tak lama kemudian Radit kembali keluar dengan langkah cepat, sepertinya dia sedang terburu-buru.
"Kau mau kemana?" tanya Merry sengaja menunggu di depan mobil Radit.
__ADS_1
"Aku harus kembali kekantor, ada asistenku sedang lembur." Radit hanya meliriknya sedikit.
"Aku ikut!" Merry masih seagresif dulu, dengan gesit dia masuk kedalam mobil Radit.
"Kau ini, aku terburu-buru!" Radit menatapnya tak percaya.
"Aku ingin ikut, aku rindu padamu setelah dua minggu kau tidak pernah datang kesini." ungkap Merry tak peduli reaksi Radit.
"Kau bukan siapa-siapaku, jangan bersikap seperti simpanan." kesal Radit.
"Kalau aku hanya sekedar simpanan untukmu, sama sekali aku tidak keberatan." jawabnya lembut, Merry tahu jika melawan dan mendebatnya tak akan berhasil.
"Kau tahu, simpanan itu tidak menguntungkan untukmu." Radit menatap wajah Merry dan memperhatikan seluk beluk wajahnya.
"Aku tahu, asal bersamamu aku mau!" jawab Merry penuh harap.
"Ku rasa sikapmu membuat aku menyerah." Radit menyandar pasrah, mengurungkan pergi kekantor seperti ucapannya.
Merry tersenyum senang, memeluk Radit dengan erat sekali. Meskipun tak mendapat balasan wanita muda itu sungguh senang dengan ucapan Radit yang baru saja di dengarnya. Rasanya ia ingin melompat dan berteriak sekencang-kencangnya meluapkan hati yang teramat bahagia.
"Sudah!" Radit melepaskan tangan Merry yang memeluknya, risih dengan sentuhan yang dulu membuat hidupnya hancur. Tapi sungguh ia tak punya pilihan.
"Antar aku pulang." pinta Merry merengek manja.
Radit memejamkan matanya lelah, lagi-lagi menahan kesal dengan sikap manja Merry, walaupun akhirnya menurut, melaju menuju rumahnya.
"Mengapa pintu rumahku terbuka?" ucap Merry setelah tiba di rumahnya.
"Mungkin pembantumu?" Radit melihat sekeliling, ada mobil terparkir di samping rumah itu, sudah pasti bukan pembantu yang membuka rumahnya.
"Ayo masuk." ajaknya menarik tangan Radit.
Langkah sedikit ragu, tapi tetap ingin tahu siapa yang ada di rumah Merry, Radit mengikutinya dengan mata tetap waspada.
"Papa!" teriak Merry, ia segera mendekati ayahnya.
Anwar memeluk putrinya, tapi menatap tajam kepada Radit. Tentu selanjutnya tak akan mudah.....
__ADS_1