Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
136. Merry kecelakaan


__ADS_3

"Tapi Jia!" Zahira khawatir melihat Jia berkelahi dengan orang yang memiliki tubuh lebih besar darinya.


"Cepat, ingat ada anakmu yang harus di lindungi." teriak Jia lagi, dan berhasil membuat Zahira segera menuju kamar, masuk dan menutup pintunya.


Sedangkan perkelahian antara Jia dan Kay semakin seru, saling memukul, menendang, membelit dan berbagai gerakan. Kali ini Jia mencoba melompat melalui dinding, tubuhnya yang kecil cukup memudahkan untuk menyerang Kay dari atas. Ia memukul hidung Kay dan membuat wanita tinggi besar itu menghentikan serangannya, ia mundur dan memegang hidungnya. Darah mengalir dari lubang hidung Kay, namun tak membuat Jia puas, wanita bertubuh kurus itu masih siaga.


Kay menyeringai dengan senyum menakutkan, tangannya menyelip di belakang. Ternyata ia mengambil dua pisau kecil sebagai senjata andalannya jika sedang terdesak. Namun berbeda dengan Jia, ia tidak membawa senjata apapun, karena memang tugasnya hanya menjaga Zahira, lagi pula dia sedang di rumah.


"Harusnya kau mengizinkan aku membawa Nona muda, aku tidak akan menyakitinya." ucap Kay maju selangkah demi selangkah, dan tentu saja Jia mundur sedikit demi sedikit.


Jujur saja Jia merasa takut, selain karena dia tidak memiliki persiapan senjata, ia juga tahu jika Kay bukan orang sembarangan. Benar kata Kay jika wanita itu jauh di atas Jia, ilmu bela dirinya, juga pengalamannya selama berkerja.


"Kau takut?" ucap Kay lagi, tersenyum menang.


Jia tak menjawab, ia tetap harus melawan karena ada Zahira di dalam sana, ada anak Tuannya juga yang masih dalam kandungan. Lebih baik habis di tangan Kay daripada habis di tangan Anggara beserta kesalahannya. Itu membuat ia kembali bersemangat dan maju.


kembali keduanya terlibat adu otot, namun setelah hampir setengah jam mereka berkelahi saling memukul dan menendang, Jia melayangkan tendangan lurusnya hingga mengenai wajah Kay, itu semakin membuat Kay marah.


Wanita bertubuh besar itu maju dengan api kemarahan yang semakin besar, dan kali ini ia kehilangan kendali, ia berhasil mengunci tangan Jia dan menusuk perutnya.


Darah segar mengalir membasahi tangan Kay, serentak dengan ambruknya tubuh kecil nan lincah itu. Kay terkejut melihat rekannya jatuh tersungkur, namun ia tak berniat menolongnya, ada yang lebih penting yaitu Zahira.


"Nona Buka pintunya!" teriak Kay, setelah meninggalkan Jia yang tergolek di lantai.


"Kay, pergilah jangan membuatku takut!" teriak Zahira dari dalam.


"Nona keluarlah, aku tidak akan menyakitimu." ucap Kay masih berusaha merayu.


"Tidak mau Kay, mengapa kau menjadi jahat!" teriak Zahira lagi dari dalam sana.

__ADS_1


"Nona, percayalah-"


Bugh


Seseorang memukul Kay dari belakang hingga pingsan.


"Zahira, apa kau sudah menghubungi Om Anggara?" tanya pria itu sedikit menggedor pintu.


"Iya. Kau siapa?" tanya Zahira dengan suara ketakutan.


"Aku Akbar." kau tetap kunci pintunya, aku harus membawa Jia ke rumah sakit." teriak Akbar.


"Aku lebih baik ikut!" jawab Zahira lagi.


"Baiklah, tunggu sebentar." Akbar melihat kebawah sana, memanggil beberapa bodyguard naik keatas.


Tak begitu lama mereka sudah naik ke lantai dua, Akbar memintanya mengurus Kay dan mengurungnya di lantai dasar.


Tak lama Zahira membuka pintu, sedikit mengintip dan benar saja Akbar sudah berdiri menunggunya.


"Kita harus cepat." Akbar meminta Zahira berjalan lebih dulu. "Kau bantu menjaga Zahira. Aku harus membawa Jia." Akbar menggendong Jia setelah meminta dua bodyguard mengawal Zahira di depannya.


Sedangkan di tempat lain, Merry masih mengebut, wanita itu tak peduli dan tidak mau tahu apa yang ada di belakangnya. Ia terus memacu mobilnya semakin kencang dan pastinya ia tidak ingin tertangkap. Di tengah jalan yang semakin sempit juga gelap, Merry dibuat terkejut dengan banyaknya mobil yang menghadang di depan sana, ia mengerem mendadak, tapi naas mobil di belakangnya juga mengebut dan menabrak mobil yang di kendarai Merry dengan keras sekali.


Mobil Merry tergelincir dan berputar, bahkan rem yang di tekannya tak mampu menghentikan putaran yang berdecit ngilu itu.


"Aaaaaaaa!!!" teriaknya di dalam mobil terdengar hingga keluar karena kaca sebelah kanannya sudah pecah.


"Merry!" panggil Radit, ia khawatir Laura ada di dalam sana dan sudah pasti bayi itu tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Namun seorang anak buah Anggara menahan Radit, ia tidak akan membiarkan Radit ikut celaka. Dan mereka menyaksikan mobil itu berakhir dengan membentur pembatas jalan, mobil Radit hancur di bagian depan parah sekali.


Sejenak kemudian petugas kepolisian segera membuka pintu mobil yang rusak itu dan membawa tubuh Merry yang sedang pingsan. Namun sayang mereka tak menemukan Laura di dalam mobilnya. Penerangan yang hanya mengandalkan lampu mobil yang menyala membuat petugas kepolisian itu kesulitan menemukan Laura yang mungkin saja terpental keluar saat mobil berputar. Hingga mereka memutuskan untuk membagi Dua anggotanya, sebagian mengantarkan Merry ke rumah sakit, dan sebagiannya terus mencari Laura, termasuk Raditya.


"Kemana Bos kalian?" tanya Radit pada salah satu anak buah Anggara, ia tak menyadari jika di perjalanan Anggara berbalik arah.


"Sepertinya dia ada urusan, Tuan Anggara kembali ke rumah." jawab bodyguard berkulit hitam itu.


Radit mengernyitkan keningnya, apa jangan-jangan terjadi sesuatu? Tapi kemudian ia ikut mencari Laura, ia khawatir terjadi sesuatu dengan bayi itu.


Dan di mobil hitam milik Akbar, Zahira merasa sedikit lega sudah menerima telepon dari Anggara bahwa ia sudah ada di belakang dan mengikutinya menuju rumah sakit.


"Jia!" panggil Zahira lembut, ia sungguh khawatir melihat Jia.


Mata Jia sedikit terbuka, ia tersenyum namun tak bersuara, ia bahagia Zahira bisa selamat, juga dirinya. Mata hitam pekat itu menatap pada wajah orang yang sedang memangku dirinya. 'Ah, mengapa harus pria berbulu itu?' batin Jia.


"Kita sudah sampai." Akbar meminta salah satu dari bodyguard itu membuka pintu, ia segera membawa Jia masuk ke dalam bersama Zahira dan yang lainnya.


"Sayang!" teriak seorang pria yang sangat di kenal Zahira, ia sedang berlari ke arahnya.


"Mas!" jawab Zahira langsung menangis, ia takut sekali tidak dapat bertemu dengan Anggara.


"Sayang kau tidak apa-apa?" Anggara memeriksa tangan, wajah, pundak, punggung dan bagian lainnya.


"Aku baik-baik saja, tapi Jia terluka." jawabnya terisak sedih.


"Tenanglah, Jia itu kuat dan akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir karena aku ada di sini." Anggara memeluk erat Zahira, menenangkan dan menghangatkan tangannya yang dingin karena takut.


Tak lama kemudian mobil polisi-pun datang dengan beberapa orang anggotanya, dengan salah satu dari mereka menggendong seorang wanita yang berdarah di bagian kepala.

__ADS_1


"Merry!" ucap Zahira terkejut.


"Iya Sayang, dia kecelakaan."


__ADS_2