
"Percaya padaku Zahira, aku tidak akan berkhianat. Bukankah aku sudah memiliki dirimu, aku akan mencurahkan segala keinginanku padamu." Radit menggenggam tangan Zahira.
"Semoga saja Allah selalu menjaga pernikahan kita ini Radit." Zahira membalas genggaman tangan Radit.
"Iya sayang, bersabarlah ini hanya sebentar." Radit meyakinkannya.
Hari-hari berjalan seperti biasanya, tak ada yang berubah bahkan hubungan ke duanya semakin hangat. Zahira semakin piawai menjalankan proyek yang kali ini dia bekerja tanpa bantuan Anggara. Zahira menjalani hari-hari dengan sibuk bekerja dengan tiga hari awal pekan ia harus kuliah.
Lelah, terkadang rasa itu menyapa. Tapi ketika sudah berada di rumah bersama Radit, hatinya kembali bersemangat, jiwanya sudah tentu menjadi hangat. Begitu pria muda itu selalu menyayangi dan memanjakan istrinya.
"Radit, bagaimana sekolahmu?" Zahira bertanya dengan begitu lembut, gadis itu berada dalam pelukan hangat suaminya.
"Semuanya baik-baik saja, aku juga sedang belajar mengendalikan perusahaan. Aku akan mulai memegang proyek mulai Minggu depan, dan besok aku akan ikut mama bertemu rekan bisnisnya." Radit mengecup kening Zahira di sela-sela obrolannya itu.
"Aku juga sepertinya akan ke luar kota, aku mendapat projek baru lagi dari rekan papa." Zahira mendongak menatap wajah Radit.
"Kau pergi dengan siapa? Aku akan mengantarmu apalagi jika harus menginap." Radit mulai khawatir, jujur saja jika harus jauh dari Zahira dia tak akan mau.
"Aku menginap dengan kak Tina, dia sudah di rekomendasikan papa untuk menjadi sekretarisku." Zahira menjelaskan.
"Aku akan menyusul mu." Radit mengeratkan pelukannya kembali melakukan aktifitas yang begitu membuatnya tak bisa tidur, kecuali Zahira sudah terlelap lebih dulu dia tak akan mengganggu gadis itu. Sejujurnya Zahira ingin membicarakan banyak hal, tapi suaminya itu lebih banyak bertindak dan bergerak dari pada berbicara, pasrah adalah pilihan yang tepat untuknya saat ini.
Ponsel Radit berbunyi, dengan malas ia meraba ponsel di meja kecil sudut kamar itu. "Hallo." Radit mendengarkan kata-kata orang yang menelponnya sedikit lama.
"Ah ya tuhan, aku akan mencarinya. Atau begini kita kerjakan di sekolah saja, lagi pula kan masih lama, masih dua Minggu lagi." Radit berbicara serius, sepertinya dia sedang melupakan sesuatu.
"Ok." Radit menutup teleponnya, kembali memeluk Zahir yang sedang memejamkan mata.
"Ada apa?" Suara lembut dan manja itu begitu membuat Radit kembali bersemangat.
__ADS_1
"Temanku, dia mengingatkan perihal bahan praktek, karena sebentar lagi akan ujian semester sayang." Radit menyibak rambut yang menjuntai menghalangi sebelah mata Zahira.
"Laki-laki atau perempuan?" Zahira kembali bertanya.
"Laki-laki sayang, tapi untuk prakteknya ada juga yang perempuan." Radit tersenyum sedikit.
"Asal jangan berdekat-dekatan!" Zahira memeluknya dengan manja.
"Aku hanya berdekatan denganmu, tak ada siapapun, hanya ingin selalu bersamamu." Radit mengelus rambut yang lurus itu, hingga gadis kesayangannya itu tertidur lelap.
"Aku sungguh menyayangimu Zahira, tak akan ada wanita yang bisa menggantikanmu. Bodoh sekali aku jika sampai tergoda dengan wanita lainnya dan meninggalkan dirimu." Radit berbicara sendiri, suaranya yang pelan itu tak di dengar Zahira, gadis itu sudah jauh mendayung di alam mimpi.
Keesokan harinya, Zahira sudah bersiap dengan dandanan cantik dan modis, hijab yang berlapis itu menghiasi baju polos selutut yang dipakainya. Radit yang baru saja keluar dari kamar mandi sempat berhenti dan menatap istrinya dari kepala hingga ujung kaki.
"Sayang ganti baju yang lain saja." Radit menatapnya tak suka.
"Kenapa, apa ini terlihat jelek?" Zahira memperhatikan penampilannya sendiri.
"Tapi itu menutup hingga perut Radit, aurat ku lebih terlindungi." Zahira masih memandangi hijab yang sedang di pegang Radit.
Tak ada yang salah dari pakaiannya, baju polos dan hijab dua lapis, seharusnya tak menjadi masalah. Ah, Radit memiliki ide yang sungguh luar biasa, mulai mengecup bibir merah alami itu, dan menghisap dengan rakus seluruh wajah istrinya hingga puas.
"Radit, aku akan bekerja." Zahira merengek manja, mendorong pria yang hanya memakai handuk itu.
"Aku hanya menghapus kecantikanmu, agar sedikit kusut." Jawabnya sambil mengembalikan hijab yang tadi di tariknya.
"Ish, harusnya bangga jika istrimu cantik dan fresh. Bukan setiap hari di buat berpenampilan kusut." Zahira bersungut-sungut sambil memakai kembali hijabnya, lalu meraih tasnya dan mendahului Radit turun ke bawah.
Radit tersenyum penuh kemenangan, sambil mengganti pakaian karena hari ini dia juga bekerja.
__ADS_1
"Kita berangkat sayang, aku akan mengantarmu lalu setelahnya aku kekantorku." Ucap Radit setelah mereka sarapan.
"Iya." Zahira menurut, karena dia memang belum di izinkan Radit untuk menyetir sendiri. Zahira sama sekali tidak membantah terlebih lagi Radit selalu menomorsatukan Zahira di atas segalanya.
Pukul 09:00 diakhir pekan ini, Mereka berdua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Zahira sudah berangkat bersama Tina sekretaris barunya yang cukup tangguh dan juga handal untuk mendampingi Zahira, demikian Radit sudah berada di ruangan pertemuan yang sudah di siapkan Ayu untuk anaknya belajar bekerja. Radit yang tampan itu semakin mempesona dengan balutan jas terbaik dan rambut yang rapi, sungguh dia tidak terlihat seperti anak SMA lagi.
Pintu ruangan itu terbuka. "Selamat pagi ibu Ayu." Pria Empat puluhan itu menyapa.
"Selamat pagi dan selamat datang pak Anwar." Ayu menyambutnya dengan ramah.
Radit ikut menyambut dan berjabat tangan pada rekan bisnisnya, namun mata Radit sedikit tidak fokus saat melihat di belakang pria itu ada seseorang gadis yang juga dikenalnya, Merry.
"Hay Radit." Sapanya lembut dan tentu dengan binar bahagia di mata bulatnya.
"Hay Merry." Radit membalas sapaan ramah itu.
"O, kalian sudah saling mengenal?" Pak Anwar begitu heran juga bahagia.
"Sudah papa, Radit teman sekelasku." Jawab Merry begitu senang.
"Ini sungguh kebetulan yang baik." Pria empat puluhan itu begitu bersemangat.
Hingga beberapa saat setelahnya, mereka duduk bersama terlibat obrolan antara Radit dan Pak Anwar, sengaja Ayu membiarkan kedua orang beda usia itu saling berbicara banyak hal. Ayu tersenyum senang menyaksikan putranya begitu percaya diri dan berbicara begitu jelas. Hingga akhirnya pertemuan itu selesai dan berakhir dengan sebuah kesepakatan yang menguntungkan keduanya.
"Kau calon pemimpin yang tangguh seperti ibumu." Pria itu memuji.
"Saya sedang belajar pak Anwar, mohon bimbingannya juga." Radit bersikap rendah dan tidak ingin di puji terlalu banyak, membuat pak Anwar semakin menyukainya.
"Radit." Merry menjabat tangan Radit seperti hendak memeluknya, namun Radit segera melepaskan dan menghindar seolah akan mengambil sesuatu yang terjatuh.
__ADS_1
"Maaf, sepertinya aku menjatuhkan sesuatu." Ucapnya benar-benar meyakinkan.
"Baiklah sampai bertemu di sekolah hari Senin." Merry tak terlihat putus asa, gadis itu begitu memperlihatkan sisi baiknya didepan Ayu dan Radit.