
"Pak, tolong berikan ponselku!" Reza memohon kepada petugas kepolisian.
"Ada keperluan apa?" Ucap polisi tersebut.
"Aku harus memberi tahu istri Anggara agar berhati-hati, kau tahu jika wanita itu adalah orang yang licin." Reza sungguh sudah tidak sabar untuk memegang ponselnya.
"Kami akan memberi tahu mereka semua jika beberapa menit lagi tahanan benar-benar kabur." Jawab laki-laki berseragam itu.
"Aku ingin menghubungi pengacaraku." tambah Reza lagi.
"Nanti siang kau bebas." jawab polisi tersebut.
Reza mengusap wajahnya, Ricko benar-benar sedang mengerjai dirinya. Radit sudah bebas pagi ini, sedangkan dia harus menunggu. Belum lagi kekhawatiran terhadap Zahira, wanita itu pasti sekarang masih mengalami kesakitan karena pukulannya yang sangat kuat.
"Kalau begitu berikan ponselku!" Kesal Reza dengan tatapan tajam, wajah serius tapi tetap memohon.
"Baiklah." akhirnya petugas kepolisian tersebut memberikan ponselnya.
"Terimakasih." Reza segera menekan tombol tombol kecil bagian samping ponsel tersebut.
"Mati!" Reza harus kembali memberikan ponselnya kepada petugas, karena tak ada baterainya.
Sementara di rumah Anggara, Zahira baru saja keluar dari mobilnya di bantu Ayu, David dan Jia.
Sebaiknya pakai ini Nyonya." Jia mendekatkan kursi roda pada majikannya tersebut.
"Ini terlihat lucu nantinya." Zahira menolak.
"Sayang, ini lebih baik agar kau cepat pulih. Pekerjaan menunggumu, anak-anak akan bersedih jika kau kembali masuk rumah sakit." bujuk Ayu ikut meminta Zahira duduk di kursi roda.
"Baiklah." akhirnya Zahira menurut.
"Sayang, orang kantor menghubungimu." David memberikan ponsel Ayu.
"Oh, ku rasa pagi ini memang ada yang penting. Sepertinya aku harus ke kantor, lagipula Radit belum keluar." Ayu tak mengangkat panggilan ponselnya.
"Aku akan mengantarmu." David kembali membuka pintu mobilnya.
Ayu menatap Zahira, ia masih khawatir.
__ADS_1
"Ada aku Nyonya, kau tak perlu khawatir, kami disini semua akan mengurus Nyonya Zahira dengan baik." Jia meyakinkan Ayu.
"Baiklah. Aku tidak akan lama, sebelum makan siang kami akan kembali." Ayu mengusap kepala Zahira sejenak, kemudian segera masuk kembali ke mobil David.
Jia mendorong kursi roda itu masuk, sedikit kesulitan saat ada batas lantai yang membuat kursi roda itu menyangkut.
"Biar aku saja." sopir Zahira mendekat dan menggantikan Jia, pria itu memang selalu bisa di andalkan, selalu ada dan setia. Walaupun terkadang perhatiannya sedikit berlebihan.
Jia melangkah lebih dulu, membuka kamar Zahira agar dia tidak kesulitan masuk.
"Sebaiknya tidur di lantai dua saja, akan lebih nyaman untuk Anda." Saran Teddy sopir sekaligus bodyguard Zahira.
Jia menatap Zahira, tentu dia akan menurut apa keinginan majikannya.
"Benar." Zahira setuju, sehingga Jia menutup kembali kamar di lantai dasar.
"Nona Jia istirahat saja bila sangat lelah, aku akan mengantar Nyonya ke atas." Sopir tersebut kembali memberi saran.
"Tentu saja Jia lelah, dia hanya menjagaku." ucap Zahira lagi.
"Baiklah." Jia membiarkan dia orang itu melewatinya, lagi pula sopir tersebut sudah bekerja cukup lama.
"Terimakasih Pak Teddy." ucap Zahira ketika di dalam lift.
"Sama-sama Nyonya, kau pasti merindukan Tuan Anggara dalam situasi seperti ini." ucapnya lagi, dia memang selalu perhatian bahkan saat hamil pria itu sering menemaninya membeli makanan di pinggir jalan ketika sore hari pulang bekerja.
"Ya, aku jelas merindukannya."
Pintu lift terbuka, pria itu kembali mendorong Zahira menuju kamar pribadinya, letak paling ujung, paling besar dan nyaman dengan banyaknya ventilasi udara.
"Nyonya harus minum obat." ucapnya lagi.
"Benar, bisakah kau mengambil air untukku?" ucap Zahira dengan pelan.
"Tentu saja, Nyonya masuklah ke dalam." Pria itu menuju ruangan tengah dimana air minum juga tersedia di sana.
Zahira masuk ke kamarnya, beberapa hari menginap di rumah ayu membuatnya sangat rindu suasana kamar tersebut. Rindu untuk hanya sekedar mengenang masa-masa indah bersama suami tercinta. Usia matang empat puluhan membuat pria itu benar-benar menjadi tempat berbagai yang paling mengerti. Mencintai, memanjakan dan memberikan kenyamanan tersendiri untuk Zahira. Zahira duduk di ranjang empuk miliknya, dulu sering ranjang tersebut adalah saksi bisu, setiap malamnya terjadi pergulatan panas penuh kasih, Anggara memang luar biasa.
Sudut bibirnya tertarik, Zahira mengenang waktu menyenangkan tersebut.
__ADS_1
"Nyonya!" suara pak Teddy terdengar menggema di kamar sunyi tersebut. Pria berusia 38 tahun itu membawa segelas air putih untuk majikannya.
Zahira beranjak, namun Teddy masuk beberapa langkah dari pintu, memberikan air putih tersebut agar Zahira tida perlu berdiri meraihnya.
"Terimakasih." Zahira menatapnya dengan canggung, membuat pria itu mengerti jika Zahira ingin dia segera keluar.
"Aku permisi Nyonya, jika butuh sesuatu Anda bisa memanggilku. Aku ada di teras, dibawah kamar Anda." jelasnya menunduk hormat.
"Iya." Zahira meletakkan air putih tersebut, membuka obat dan vitamin dari dokter setelah Teddy berlalu dan menutup kembali pintunya.
Sedangkan di jalan, Radit dan Ricko masih sibuk mengobrol tentang pekerjaan, hingga setengah perjalanan Radit meminta berhenti.
"Kau mau kemana?" Ricko menoleh Radit.
"Aku harus melihat keadaan Zahira." jawab Radit dengan wajah serius.
"Baiklah, aku tidak bisa mengantarmu." Ricko setuju untuk menurunkannya di jalan.
"Tidak masalah, lagi pula mobilku masih tertinggal di Cafe, aku akan meminta seseorang untuk mengantarnya ke rumah Zahira.
"Baiklah. Selamat berjuang!" Ricko menertawai pria muda tersebut.
"Terimakasih banyak, termasuk hukuman satu malam ini." jawab Radit ikut menertawai.
"Aku juga pernah muda, bedanya aku punya banyak mantan kekasih." Ricko tertawa lebar, menutup kaca mobilnya lalu melaju meninggalkan Radit.
Radit melihat kiri kanan tempat ia berdiri, memanggil taksi untuk sampai lebih dulu ke rumah wanita yang tak pernah pergi dari hati seorang Raditya. Bahkan rumah dan kantor adalah yang kedua baginya, yang paling penting dia harus tahu keadaan Zahira saat ini.
Rumah mewah Anggara memang menjadi perbincangan hangat setelah konglomerat itu meninggal. Tak hanya letak dan bangunan yang mahal, tapi ada seorang wanita yang menjadi buah bibir, janda cantik, muda dan membuat banyak laki-laki tertarik. Tak heran jika saat masih hidup Anggara selalu menjaganya, bahkan sampai meminta Jia belajar bela diri hingga ke Jepang hanya untuk menjaga keamanan keluarga kecilnya, terutama Zahira tercinta.
"Jangan pernah tinggalkan istriku Jia."
Begitu pesan yang selalu terngiang di telinga Jia, dia selalu mengingatnya.
Mata tajamnya terbuka, istirahat yang baru sejenak itu terganggu dengan ingatan pesan majikan yang membuatnya selalu kagum. Jia beranjak dari tidurnya lalu membuka pintu.
"Mengapa pintunya tidak bisa dibuka?" Jia mencari kunci di samping tempat tidurnya, hingga beberapa saat mencari tetap tidak ada.
"Nyonya!" Dia mulai khawatir.
__ADS_1