Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
116. Siapa yang sakit?


__ADS_3

"Lalu, aku harus bagaimana Dokter?" tanya Anggara, otak jeniusnya sedang tidak bisa berpikir.


"Hanya perlu bersabar, terus mendukung dan membuatnya nyaman, dia sangat membutuhkan itu." jawab Dokter Nina.


Anggara mengangguk, raut wajah khawatir itu masih jelas terlihat hingga ia berlalu masuk ke dalam kamar menemui Zahira.


"Ponselmu berbunyi Sayang." David menunjuk tas Ayu, wanita itu terus menatap Anggara yang sudah menghilang di balik pintu.


Ayu meraih ponselnya, melihat layar yang menyala itu tertulis nama Radit di sana. "Iya Sayang." jawab Ayu segera.


"Mama ada di mana? Aku ada di rumah Mama, tapi Papa juga sedang tidak ada di rumah." suara Radit di seberang sana.


"Papa juga Mama sedang di rumah sakit." jawab Ayu ragu, tapi sudah terlanjur ia mengatakannya.


"Siapa yang sakit?" tanya Radit singkat.


"......."


"Mama!" ia ingin segera mendapat jawaban.


"Zahira." jawab Ayu sudah tak mungkin berbohong.


Di seberang sana Radit yang terdiam kali ini, pria muda itu kembali keluar dengan terburu-buru, langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat dari rumah Anggara.


Wajah tampannya terlihat serius, ia sedang berpikir mengapa sampai ia tidak tahu bahwa Zahira sedang sakit.


"Halo Bos." jawaban dari panggilan telepon Radit, tak berapa lama setelah ia menekan tombol hijau di ponselnya.


"Mengapa tidak memberi kabar padaku bahwa Zahira sedang ada di rumah sakit?" tanya Radit.


"Maaf Bos, aku hampir saja ketahuan. Ternyata ada banyak orang yang sedang memata-matai rumah Tuan Anggara, salah satunya adalah orang suruhan ayah dari istri Anda, dan dia sempat tertangkap, berkelahi dengan bodyguard Nona Zahira." jelas pria suruhan Radit.


"Apa?" tanya Radit tak percaya.


"Iya. Dan ada satu orang lagi tapi dia berhasil kabur, sedangkan aku tidak tertangkap karena aku berpura-pura sedang mengobrol dengan orang-orang di sekitar sana." sambungnya lagi.


Radit mengusap kasar wajahnya, ia sedang berpikir ada keperluan apa Papa mertuanya mengintai rumah Anggara?

__ADS_1


"Ya sudah, kau harus lebih berhati-hati. Atau begini saja, untuk sementara kau pulang saja dan hindari rumah Anggara." pinta Radit sambil memijat keningnya.


"Baik Bos, terimakasih." kemudian mengakhiri panggilan telepon mereka.


Radit terus mengemudi, hingga sudah tiba di rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari rumah Anggara. Dan benar saja mobil mewah pria itu terparkir di sana bersamaan dengan mobil David. Radit langsung masuk mencari keberadaan mereka.


"Papa! Bagaimana keadaan Zahira?" tanya Radit dengan raut wajah khawatir.


"Dia tidak apa-apa, hanya sedikit pusing dan sedang istirahat." jawab David.


"Bagaimana kau bisa tahu kami ada di sini." tanya Ayu mendekat.


"Aku hanya menebak." ucapnya duduk di kursi tunggu.


Tak berapa lama, Anggara keluar dari ruang rawat Zahira, pria itu menutup kembali pintu tapi mata tajamnya tak beralih dari Radit.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Radit sudah tak mampu menahan rasa ingin tahu.


"Ya, dia baik-baik saja." jawab Anggara berusaha biasa saja.


"Jangan menemuinya." ucap Anggara dengan wajah serius.


Radit menatap tajam pada Anggara, ia sungguh tak suka di larang apalagi itu adalah saingannya.


"Kau lupa jika aku bukan hanya sekedar mantan suami, tapi juga saudaranya. Dan aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja." Radit tak mungkin langsung menyerah.


"Jangan sekarang, ku harap kau mengerti dia belum siap mengingat semuanya, aku tidak mau dia kembali sakit. Jika sudah waktunya aku tidak akan melarang siapapun untuk bertemu dengan Zahira."


"Kau sedang bersandiwara, harusnya adalah hal baik jika dia dapat mengingat semuanya. Atau jangan-jangan kau sedang ketakutan akan ditinggalkan Zahira jika dia sudah mengingat aku?" ucap Radit sinis, kedua pria itu saling menyerang dengan tatapan tajam masing-masing.


"Aku tidak takut, yang aku takutkan adalah kehilangan dia dari dunia ini."


"Omong kosong." ucap Radit dengan nada mengejek.


"Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya hampir kehilangan dia berkali-kali. Kau tidak menyaksikan betapa dia menderita dan nyaris kehilangan detak jantungnya. Kau tidak tahu bagaimana rasanya berjuang mengembalikan nyawanya hingga sekarang dia bisa kembali berbicara dan tertawa. Kau tidak akan pernah tahu!" Anggara tak mau menyingkir dari depan pintu.


"Minggirlah, aku malas berbicara denganmu." Radit mendorong tubuh Anggara kesamping, tapi kali ini Anggara menangkap tangan Radit dan balas mendorongnya.

__ADS_1


"Radit!" David meraih tangan putranya untuk menjauhi Anggara.


"Kau sedang menantangku?" tanya Radit, menyeringai ingn sekali menghabisi Anggara.


"Aku tidak akan mengalah kali ini, aku ingatkan sebaiknya kau duduk diam jika ingin ada disini!" kata Anggara tegas.


Namun Radit tak peduli, melepas tangan David dan memukul wajah Anggara.


Tangan besar itu tertahan, tapi tangan kiri Radit menyusul melayangkan pukulan ke wajah Anggara, membuat pria itu mundur sedikit tapi kemudian kembali maju selangkah dan membalas Radit.


Pas sekali pukulan Anggara mengenai hidung Radit, David menghadang keduanya agar tidak melanjutkan perkelahian. Ayu ikut menahan putranya karena ia tahu Anggara tidak main-main kali ini, sudah pasti Radit akan babak belur jika pria itu tidak mengalah.


"Radit sebaiknya kau pulang saja!" ucap David membelakangi Anggara.


"Aku akan pulang bersama Radit." ucap Ayu menarik lengan putranya, jangan sampai darah di hidung Radit bertambah menjadi kiri dan kanan.


Radit mengusap darah yang keluar itu dengan ibu jari, mata tajam Radit masih tak lepas menatap Anggara dengan pandangan permusuhan. Walaupun pada akhirnya ia menurut dan berlalu bersama Ayu.


David menghembuskan nafas lega. Anggara memang tak akan menghabisi putranya tapi dalam posisi ini pria itu sudah pasti tidak akan mengalah. Tak pernah terbayangkan situasi akan menjadi rumit seperti ini, anak kandung, putri angkat kesayangan juga teman lama yang sudah seperti saudara, David benar-benar pusing harus bagaimana.


Sedangkan di luar Ayu masih memeluk lengan Radit dengan erat, bisa saja Radit kembali masuk dan nekat menemui Zahira. Ayu tahu persis Radit anaknya tak akan menyerah begitu saja.


Radit masuk ke dalam mobil, duduk menyandar dengan malas juga kesal yang masih menguasai hati.


Drrrttttt.


Ponsel pria itu bergetar, membuatnya merogoh saku celana dan melihat siapa orang yang sedang menghubunginya.


"Kau ada dimana?" tanya Merry terdengar kesal.


"Aku di rumah sakit bersama Mama juga Papa." jawab Radit jujur.


"Siapa yang sakit?" tanya Merry dengan nada selidik, Radit bisa menebak jika istrinya sedang curiga.


"Zahira." jawab Radit sangat jelas.


Merry langsung memutuskan panggilan ponselnya, Radit tak peduli apapun saat ini. Ia sedang emosi dengan berbagai pikiran yang semakin kacau.

__ADS_1


__ADS_2