Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
106. Temui aku di rumah


__ADS_3

"Sayang dengarkan aku, dia memang mengenalmu tapi bukan karena simpananku melainkan ada hal lain yang sulit ku jelaskan saat ini. Tapi percayalah dia tidak ada hubungannya dengan ku, aku hanya memiliki satu orang wanita yaitu dirimu." Anggara menenangkan Zahira.


"Dia melihatku seakan-akan ingin membunuh, dia hampir saja membuat aku terjatuh sehingga aku mendorongnya. Jangan pikir aku akan diam saja, dia juga sempat menendang perutku." Zahira mengadu.


"Apa?" Anggara langsung berjongkok melihat dan meraba perut istrinya dengan khawatir.


"Tapi tidak kena." ucap Zahira lagi, membuat Anggara lega tapi juga gemas sekali melihat wajah istrinya.


Wajah cantik itu terlihat cerdik, tenang dan menganggap remeh orang yang di anggap musuhnya. Persis seperti Aldo Bramastya ayah Zahira, rekan kerja Anggara saat itu, pria itu sangat berani, pintar, cerdik, selalu bisa mengalahkan saingan bisnis ataupun orang yang ingin beradu otot dengannya. Anggara menyukainya, sangat-sangat menyukainya.


"Kita masuk ya, kasihan Dokter Amelia sudah menunggu lama." Anggara mengecup pipinya sejenak, memberikan rasa nyaman pada ibu hamil itu.


"Tapi aku ingin tahu siapa wanita itu." pintanya dengan manja.


"Kita akan bercerita banyak hal setelah pulang nanti." Anggara segera mengajaknya masuk.


Dokter Amelia memintanya berbaring, mempersiapkan alat USG kali ini.


"Nyonya Anggara tampak sehat dan segar sekali." ucapnya melihat wajah Zahira yang memang tak terlihat pucat seperti ibu hamil lainnya.


Zahira tersenyum menampilkan lesung pipinya.


Tangan Dokter wanita itu mulai bergerak menuntun alat yang ia tempelkan di perut Zahira, berulang kali mememutar dan berhenti sejenak di tempat tertentu, lalu kemudian ia tersenyum.


"Tuan Anggara, bayinya kembar." ucapnya sangat yakin, kembali tangannya memutar dan menuntun alat itu lagi.


"Apa DOk?" tanya Anggara masih mencerna ucapan dokter muda itu.


"Bayinya kembar Tuan, itu penyebab kandungannya lebih besar dari kehamilan lainnya. Jadi tidak perlu khawatir, semuanya baik dan sehat. Yang terpenting ibunya selalu bahagia, makan yang banyak, hindari stress, dan tidak boleh terlalu lelah." Dokter itu tersenyum.


Anggara dan Zahira masih terdiam, sulit untuk mengungkapkan kebahagiaan yang tak terduga, sungguh itu di luar dugaan mereka.


"Kembar Dok?" tanya Anggara sekali lagi.


"Iya." Dokter Amelia, menutup kembali pakaian Zahira karena dia sudah selesai.


Dia mengerti sekali jika itu adalah kebahagiaan bonus untuk mereka berdua, terutama bagi Anggara yang sudah sangat matang.


"Sayang kita akan mendapat Dua." ucapnya bergetar menahan gejolak kebahagiaan di dalam hatinya, mengecup seluruh wajah Zahira dan memeluknya erat. Pria itu sungguh ingin melompat dan berteriak, agar seluruh dunia tahu dia sedang bahagia.


"Kau hebat sekali." bisik Zahira di telinga Anggara, membuat pria itu kembali menenggelamkan kepalanya di antara leher dan bahu Zahira.


"Sekali lagi selamat ya untuk Kalian berdua."


Ucapan Dokter Kandungan itu menyadarkan keduanya, Anggara langsung membantu Zahira untuk duduk.

__ADS_1


"Terimakasih Dokter, kami benar-benar bahagia." ucap Anggara.


"Ini hanya Vitamin saja, jangan lupa minum susu dan makan apa saja yang enak." tambah dokter itu lagi.


"Sekali lagi terimakasih." Anggara sedang menahan luapan kebahagiaan.


"Mas, berudunya ada Dua." Zahira mengelus-elus perutnya yang terlihat penuh.


Anggara menutup pintu mobil, berbalik memeluk dan menciumi perut Zahira sangat lama. Entah dia sedang tertawa atau menangis bahagia menenggelamkan wajahnya di sana.


Lama, Zahira membiarkan suaminya menikmati kebahagiaan itu, tangan lentiknya mengelus dan mengusap kepala Anggara.


"Terima kasih Sayang, aku sangat mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." Anggara beralih memeluk Zahira dan mengecup bibir merahnya berulang-ulang.


"Ini di jalan." Zahira mendorong sedikit dada pria itu.


"Kalau begitu kita pulang saja." Anggara masih tak bisa berhenti.


"Tidak usah bekerja." Zahira menggodanya.


"Benar, uang kita sudah banyak." Anggara ikut terbawa ocehan istrinya yang terkadang tanpa berpikir.


"Aku menyukai itu." Jawab Zahira di sela kemesraan itu. Anggara sampai terkekeh mendengar kata-kata istrinya yang semakin membuatnya gila.


"Mau membeli sesuatu?" Anggara mulai melajukan mobilnya pelan.


"Baiklah Sayang."


Terdengar dering ponsel Anggara mengganggu.


"Ada apa?" Anggara menjawab panggilan itu melalui headset yang menempel di telinganya.


Terdengar banyak yang ia bicarakan membuat wajah Anggara sedikit khawatir.


"Baiklah." jawabnya melepas benda kecil itu dari telinganya.


"Ada apa?" tanya Zahira ikut khawatir.


"Aku harus pergi ke perusahaan yang lain sayang, bagaimana jika kau pulang lebih dulu bersama Kay saja."


"Kay?" tanya Zahira.


"Ya dulu kalian berteman, dia yang menjaga dan menemanimu sebelum kita menikah." jelas Anggara.


"Tapi aku ingin ikut." wajah cantik itu menekuk."

__ADS_1


Kaca mobil di ketuk dari luar, tampak Ricky di sana.


Anggara membuka kacanya sehingga jelas wajah asisten andalan itu tersenyum manis.


"Hai Sayang?" ucapnya jahil seperti biasa.


"Aku mau ikut." rengeknya tak menjawab sapaan Ricky, tangannya masih memeluk lengan Anggara.


"Aku janji tidak akan lama, Satu, Dua jam. Ah, paling lama Tiga jam aku sudah pulang." jelas Anggara seakan menghitung.


Tangan itu masih tidak mau lepas.


"Aku akan pulang setelahnya, kita akan menghabiskan waktu berdua." Anggara merayunya sambil mengecup pipi dan jari-jari lentik itu.


"Baiklah." ucapnya terdengar pasrah.


"Sial sekali aku hari ini." Ricky segera masuk ke dalam mobilnya wajah kesal menyaksikan kemesraan bosnya yang tidak tahu tempat.


"Seorang wanita berkulit sawo matang masuk ke dalam mobil menggantikan Anggara, wanita itu tersenyum pada Zahira.


"Apa kabar Nona, aku merindukanmu." ucapnya penuh hormat.


"Aku baik-baik saja." Zahira menatap wajah gadis bertubuh gagah itu cukup lama, hingga mobil mereka melaju meninggalkan Anggara dan Ricky.


Sementara di dalam mobil itu.


"Sejak subuh dia menunggu kau datang." Ricky membelokkan kendaraannya menuju tempat berlawanan.


"Kenapa kita menghindar, biarkan dia tahu semuanya."


"Aku yakin kalian akan bertengkar, dia terlihat sangat kacau dan sedang di penuhi segudang emosi." jawab Ricky terus melaju.


"Tapi tidak begini." Anggara masih ingin ke kantor.


"Kau tidak bisa berkelahi dengan anak kecil di kantormu sendiri. Ingat dia anak SMA yang masih labil, tidak layak kau berbakuhantam dengannya, dia bukan lawanmu." jelas Ricky lagi.


"Cepat atau lambat dia akan menemukanku, dan itu tetap akan terjadi, untuk apa menghindar?"


"Jangan di kantormu. Kau tahu saat ini ada beberapa orang yang sering mengintai informasi tentang dirimu. Mereka sedang mencari kelemahan dan akan menjatuhkan mu di saat mereka menemukan kelemahan mu." Ricky menjelaskan dengan tekanan kali ini.


"Siapa di balik itu semua?"


"Anwar."


Anggara tidak terkejut, seorang ayah tentu akan melindungi anaknya dengan berbagi cara.

__ADS_1


"Katakan pada Radit untuk menemui aku di rumah." ucap Anggara dengan sangat yakin.


__ADS_2