Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
129. Memohon


__ADS_3

Belum sempat Anwar menjawab, atau malah mungkin merasa beruntung karena Merry sudah turun dengan menggendong Laura, sehingga Radit segera mengajak mereka pulang.


Anwar terduduk lemas, ia menatap kepergian anak menantunya dengan hati cemas tak terkira. Ia takut putri kesayangannya akan menerima hukuman, apalagi saat ini Radit Sudah mengetahui rahasianya itu. Tapi darimana Radit bisa tahu?


Pria itu berjalan menuju meja di sudut ruangan, meraih ponsel dan menghubungi seseorang.


"Ponselnya aktif tapi tidak ada jawaban." gumam Anwar sendirian.


Ia mencoba menghubungi kembali tapi tetap sama, ponsel di seberang sana aktif. Hingga entah yang ke berapa kali, seseorang mengangkat panggilan teleponnya.


"Mengapa kau lama sekali menjawab panggilanku? Saat ini aku sedang khawatir, apa kau pernah menghubungi Radit?" tanya Anwar sudah tidak tahan dengan kekhawatirannya.


"........." tak ada jawaban.


"Hey, kau dengar tidak?" Anwar menjadi kesal.


"Tentu saja aku mendengarnya."


Deg


Suara itu bukanlah pemilik ponsel yang sedang di hubungi Anwar.


"Ka-Kau?" Anwar terbata-bata. Mata pria tua itu membulat sempurna, ia sangat mengenali pemilik suara itu, pria yang memiliki sikap tenang dan berkuasa.


"Ya, ini aku." jawab Anggara.


Anwar langsung mematikan panggilan ponsel, pria itu sungguh terkejut hingga memegang dadanya.


"Anggara." ucapnya bergetar, ia semakin putus asa memikirkan nasib Merry putri satu-satunya.


Belum lagi Radit yang sudah mengetahui semua itu, sudah pasti Merry tidak akan baik-baik saja. Beruntung ada Laura! Ya, ada Laura. Radit tak akan menyakiti ibu dari putrinya.

__ADS_1


Anwar menyandar menghembuskan nafas kasar itu, berharap masih ada jalan keluar dari masalah ini.


*


Akhir pekan yang di nanti banyak pengusaha akhirnya datang juga. Tak hanya pameran produk berkualitas tapi juga sebagai ajang bertemunya banyak pengusaha, mereka akan memiliki banyak kesempatan dalam menjalin kerjasama yang baru.


Ruangan yang sudah ramai itu mendadak heboh dengan kedatangan 32 orang berpakaian mewah dan rapi dengan warna pakaian yang hampir sama. Cara berjalan yang arogan, tapi terlihat tampan dan juga cantik, mereka berbaris di pintu masuk Aula, lalu membagi barisan menjadi dua, berjalan lalu duduk di sebelah kiri dan sebagiannya duduk di barisan sebelah kanan.


"Siapa Mereka?" seorang pengusaha muda terdengar bertanya pada teman seniornya.


"Mereka adalah kaki tangan Anggara, Anggara memiliki 32 Asisten dan sekretaris handal yang di kenal kecerdasannya. Mereka sengaja berkumpul karena ini akhir tahun, rapat tahunan mereka akan di gelar untuk menyampaikan hasil kerja mereka selama satu tahun. Mereka di koordinasi oleh dua asisten senior, Ricky dan Ricko. Beruntung acara ini di hadiri mereka semua, jadi kita bisa memiliki kesempatan menjalin kerja sama walaupun dengan anak perusahaan Anggara. Mereka itu setara dengan direktur perusahaan seperti kita." jelas pria yang sudah berumur itu pada rekannya.


"Aku tidak menyangka Tuan Anggara sehebat itu!" pria muda itu terkagum-kagum mendengarnya.


Di samping mereka ada Merry yang ikut hadir, wanita yang sudah berdandan cantik itu menatap tak suka pada dua orang yang sedang mengobrol.


"Beruntung sekali wanita sialan itu, rasanya aku ingin mencakar wajahnya. Tapi mengapa dia belum menampakkan batang hidungnya di sini? Apa dia tidak datang? Itu lebih bagus, mati saja sekalian." Senyum sinis itu terbit, Merry mengumpat di dalam hati.


Hanya ada satu meja paling depan yang masih kosong, sedangkan kiri dan kanannya sudah terisi dengan pengusaha sukses dan berkuasa lainnya.


"Selamatkan datang Tuan Anggara!" Beberapa orang menyapa dengan sopan dan ramah. Walaupun hanya mendapat anggukan dan sedikit senyuman.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Anggara!" Panitia acara menyapa mereka berdua.


Pria 39 tahun itu berjalan dengan bangga, lengan hangatnya di gandeng oleh Zahira yang cantik. Kalau boleh jujur pria itu sedang memamerkan istrinya, terlebih lagi sedang berbadan dua. Dia sungguh bangga dan ingin menyampaikan pada dunia bahwa dia memiliki Zahira. Langkah yang seirama itu menuju meja paling depan, semakin menarik perhatian orang-orang di seluruh ruangan itu.


Tapi tidak dengan Radit!


Pria itu sedang menahan panas di dadanya, ingin sekali maju ke depan sana dan merebut Zahira secara paksa. Memukul wajah pria tua itu hingga hancur dan menghabisinya hingga tak bernyawa. Mungkin dengan begitu Zahira akan bisa ia rebut kembali, Zahira tak akan memiliki siapapun selain Radit saja.


"Radit!"

__ADS_1


Merry sengaja mengejutkan suaminya agar tidak selalu memikirkan Zahira, dia tahu persis tatapan Radit hanya tertuju pada wanita itu saja.


"Iya." jawab Radit singkat, ia melihat ke arah lain, mungkin lebih baik begitu daripada menyaksikan orang di depan sana dan hatinya semakin mendidih. Sudah pasti setan juga akan ikut ambil bagian dari rasa iri yang menggunung di dalam hatinya.


"Kau sedang bersamaku, jadi bersikaplah baik padaku." Merry memintanya dengan halus.


Radit melirik wanita disampingnya itu, salah satu sudut bibirnya tertarik. "Kau 'pun tak akan lolos dari kemarahanku nanti, hanya aku sedang bersabar sedikit. Hanya sedikit Merry!"


Radit kembali membuang pandangannya, ia sungguh malas melihat orang-orang yang ada di ruangan itu. Ia memilih keluar dan menjauhi semua orang.


Beberapa saat berlalu, acara berlangsung dengan meriah dengan beberapa barang wanita yang sedang di pamerkan, dan salah satunya sudah di beli Anggara untuk istri tercinta, mengundang tawa dan sorak bahagia dari semua orang atas sikap romantis sang pengusaha itu terhadap istrinya.


"Terimakasih." Zahira menerima tas mahal itu.


Anggara tak menjawab, karena menurutnya itu tidaklah seberapa. Pria itu merangkul bahu Zahira dan jika ia lepas maka akan berganti dengan menggenggam jari lentiknya. Semua itu tak luput dari tatapan Merry yang berada sedikit jauh dari mereka.


Acaranya sudah berakhir, Anggara mengantarkan Zahira menuju kamar khusus untuk beristirahat sejenak, tentu saja Anggara masih perlu berjabat tangan dengan rekan-rekan bisnisnya.


"Ada yang ingin bertemu denganmu." bisik Ricky, tangannya menunjuk ruangan di dekat kamar Zahira beristirahat.


Anggara cepat berlalu, khawatir jika sesuatu terjadi dengan istri dan anaknya. Namun ia berhenti ketika melihat sebuah ruangan terbuka dan Anwar ada di dalamnya.


"Kau mencariku?" tanya Anggara pada Anwar, ia masuk tanpa merasa ragu.


"Iya." jawabnya lemas.


Anggara hanya menatap wajah pria itu, ia ingin tahu apa yang sedang ia inginkan.


"Tuan Anggara, aku mohon padamu jangan penjarakan putriku. Aku benar-benar memohon padamu." ucap Anwar dengan wajah meminta belas kasihan.


"Walaupun bukan aku, menantumu sendiri yang akan menyeretnya ke penjara" jawab Anggara tenang dan tak terpengaruh wajah sedih Anwar.

__ADS_1


__ADS_2