Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
14. Anak atau menantu


__ADS_3

"Kalau begitu aku pulang dulu sayang, ini sudah malam." Radit menatap gadis itu penuh cinta.


"Iya." jawab Zahira singkat.


"Jangan lupa mimpi indah bersamaku." ucap Radit lagi, senyum itu tak pernah padam.


"Untuk apa bermimpi bersamamu?" jawab Zahira polos.


"Tentu saja untuk melepas rindu. Atau tidak usah bermimpi, langsung di wujudkan saja?" dia menggoda gadis itu.


"Ish kau mulai lagi, sudah pulanglah ini sudah malam." Zahira mendorong bahu yang lebar itu.


"Baiklah sayang." ucap Radit, dia menatap wajah itu sejenak, lalu kembali mendekat. "Masuklah ke kamarmu, lalu setelahnya aku akan pulang." ucapnya lagi.


"Iya." jawab Zahira, itu adalah perintah yang membuatnya menurut. Zahira masuk dan menutup pintu, tak lupa sekilas melihat pria tampan pujaannya masih setia memandangi hingga pintu terkunci dari dalam.


Zahira kembali mendekati foto ayah ibunya, bibir itu tersenyum bahagia. Malam ini Zahira ataupun Radit akan tidur nyenyak sambil menanti hari esok.


Pagi-pagi sekali, Ayu dan David sudah bangun dengan sibuk berbicara pada putranya Radit. Ayu bahagia karena Zahira menerima pinangan anak nya, tapi juga bingung harus menikahkan mereka dalam usia yang masih sangat muda.


"Kau sudah tidak tahan ingin menikah sehingga kau mendatanginya malam-malam." David menatap putranya.


"Siapa yang tahan menunggu jawaban terlalu lama." jawabnya, merasa sudah sangat dewasa.


"Sudah tidak tahan? Atau jangan-jangan kau sudah macam-macam pada Zahira?" Ayu menatap tajam pada putranya.


"Astaga Mama, aku tidak begitu." Radit tidak terima.


"Tidak begitu bagaimana, siapa yang tahan melihat anak gadis yang sangat cantik di malam hari." David menyudutkan Radit.


"Dia memang sangat cantik, apalagi tanpa hijabnya." Radit tersenyum sedikit.


"Dasar anak kurang ajar, berarti benar kau sudah macam-macam padanya." Ayu melempar tahu goreng pada Radit.


"Tidak mama." Radit berkata menunjukan kejujurannya.


Ayu beranjak dari meja makan dengan wajah kesal dan melangkah lebih cepat, dia pergi menyetir sendiri.


David masih menatap tajam pada Radit.

__ADS_1


"Papa tidak percaya padaku?" Radit membalas tatapan David.


"Tentu saja tidak, dia terlalu cantik untuk dilewatkan." David masih mencari sesuatu di wajah anaknya.


"Papa juga melihatnya?" Kali ini Radit yang menatap tajam pada David.


"Semalam Papa ke sana, tentu saja Papa melihatnya." David terlihat tak peduli.


"Berarti Calon istriku sudah ternoda." Radit memelankan suaranya.


"Kau benar-benar kurang ajar, aku bisa saja membatalkan pernikahanmu!" David geram sekali dengan kelakuan putra semata wayangnya.


"Papa!" Radit tidak terima.


"Dia putriku. Jika kau tidak menurut aku tidak akan mengizinkan putriku menikah denganmu." ucap David mengancam Radit, tentu membuat Radit diam tak berkutik.


"Mulai hari ini jangan menemui Zahira di rumahnya. Papa takut kau melewati batasanmu, bersabarlah dua hari lagi kau akan bersamanya." ucap David tegas.


Radit diam meninggalkan meja makan dan mengambil kunci mobil.


"Mau kemana?"


"Dia mirip siapa?" gumamnya sendiri, David bahkan sangat menurut pada ayah dan ibunya.


Sementara di tempat lain, dengan tergesa-gesa Ayu masuk ke dalam rumah Zahira, segera naik ke atas untuk menemui anak gadisnya.


"Zahira." Ayu memanggil Zahira dan mengetuk pintu kamarnya.


"Iya mama." terdengar suara anak gadis itu menyahut dan membuka pintu.


Mata Ayu sudah tidak sabar menemukan wajah anak gadisnya. "Sayang kau sudah mandi?" Ayu mendekati Zahira tanpa mengalihkan pandangannya.


"Iya Ma." jawabnya melepaskan handuk dari kepalanya.


"Sayang lihat Mama." Ayu meraih dagu Zahira dan membolak-balik pipi mulus itu hingga menyingkap kerah baju di leher Zahira. Sedangkan Zahira hanya menurut dengan tatapan bingung.


"Apa semalam Radit menyentuhmu?" Ayu bertanya dengan wajah sangat dekat.


"Tidak Mama." jawabnya polos.

__ADS_1


"Kau tidak bohong?" Ayu masih mencari jawaban dari wajahnya.


"Tidak Mama, Radit tidak seperti itu." Jawabnya meyakinkan. "Apa Mama marah padanya?" tanya gadis itu, mata beningnya mengerjap indah.


"Tidak sayang, Mama hanya khawatir. Ah, kalau begitu kau ikut mama ke kantor, nanti kita belanja pakaian dan perhiasan untukmu." ucap Ayu kemudian, hatinya sedikit lega.


"Tapi aku tidak bawa baju Mama." Zahira melihat pakaian kerjanya sudah kotor.


Ayu mendekati lemari pakaian yang masih tertutup rapat, pelan namun tangan itu terlihat bergetar meraih pegangan di hadapannya. Kemudian membuka lemari itu, tampak penuh pakaian tersusun rapi. Jantung Ayu berdegup kencang dengan nafas yang tak beraturan, sungguh sudah sangat lama dia tak melihat pakaian itu setelah hampir Tujuh belas tahun bersamaan dengan pemiliknya yang telah tiada.


"Mama, ini banyak sekali." Zahira mendekat dan mengambil salah satu dress berwarna hitam bermotif batik dengan bahan yang nyaman. Gadis itu membawa dan segera mengganti pakaiannya, tidak menyadari Ayu masih berdiri tegak dengan tak mampu bergerak melihat semua pakaian itu tersusun rapi.


"Apa ini terlihat pantas untukku?" Zahira berputar-putar di cermin besar melihat pantulan dirinya.


Ayu menoleh, menatap gadis itu dari rambut hingga kaki. Sungguh dia merasa kembali ke masa dimana dia baru pertama bertemu dengan seorang yang masih membuatnya bersedih hingga saat ini. Ayu memeluk gadis itu erat sekali dan menangis meluapkan kerinduan dan kesedihan di pundak Zahira.


"Mama." Panggilnya membalas pelukan Ayu.


Ayu semakin menangis hingga beberapa saat Zahira membiarkannya, perlahan tangisnya reda dan duduk lemas di ranjang empuk disampingnya. "Maaf, Mama merindukan ibumu." ucapnya pelan tangannya mengusap air mata.


"Mama jangan menangis, bukankah sekarang ada aku. Bahkan sebentar lagi aku menjadi menantu mama." ucapnya sambil membelai pipi Ayu yang masih basah, tangan kecil dan lembut itu begitu terasa nyaman.


"Iya sayang, kau putriku." Ayu menggenggam tangan kecil itu, dan menciumnya penuh kasih sayang. "Anak Mama." ucapnya lagi.


"Aku memang anak Mama dan Papa." jawabnya manja.


"Ayo sayang, kenakan hijabmu lalu kita berangkat." Ayu memperbaiki penampilannya, dengan Zahira memakai hijab di samping Ayu.


"Kapan Mama akan memakai hijab sepertiku?" tanyanya polos dan tersenyum.


Ayu memeluknya dan menatap wajah cantik itu. "Setelah kau menikah mama akan memakai hijab sepertimu. Bukankah mama sudah sangat tua karena sudah memiliki menantu." Ayu tersenyum hangat dengan saling memandang di dalam cermin.


"Mama pasti akan terlihat sangat cantik sekali." jawab gadis itu memujinya.


"Anak Mama sudah pasti yang paling cantik." jawabnya tak lupa ciuman hangat mendarat di pipi mulus Zahira.


"Aku sayang Mama." ucap Zahira bahagia.


"Mama juga sangat menyayangimu Zahira, Mama akan benar-benar memilikimu setelah kau menikah dengan Radit." Ayu tak kalah bahagia.

__ADS_1


__ADS_2