
"Mas, ada pesan dari Mama." ungkap Zahira di pagi itu.
"Apa isinya?" Anggara mengangkat bahu dan merentangkan lengan agar Zahira bisa menyandar di dada bidang miliknya.
Zahira memberikan ponselnya pada Anggara, ia ingin Anggara sendiri yang memutuskan.
"Kita menginap saja jika Mamamu menginginkannya." jawab Anggara seolah enteng sekali.
"Aku tidak masalah jika kau tidak menuruti apa yang Mama minta, aku hanya akan menurut apa yang kau mau." ucap Zahira pelan, mendongak wajah tampan kesayangannya.
"Tidak masalah Sayang, lagi pula tidak ada yang harus ku takutkan di dunia ini selagi kau masih bersamaku. Malah sebaliknya aku takut Radit yang tidak nyaman dengan kehadiran kita. Walaupun-"
"Walaupun apa?" Zahira segera memeluk Anggara dengan manja, sepertinya ia tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya itu.
"Aku takut kau masih mencintai mantan suamimu itu." Anggara membalas pelukan hangat Zahira.
Tentu bukan hanya itu, pria seperti Anggara akan lebih dulu tahu semua hal yang bahkan tidak di ketahui orang lain. Mata cokelatnya menerawang jauh di atas pucuk kepala Zahira, entah apa yang sedang ia pikirkan, lagi pula ia tak perlu bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah perasaannya.
"Perasaanmu itu membuat cinta kita terkontaminasi. Lebih baik tidak usah datang saja." Zahira masih menikmati aroma mint di dada bidang Anggara.
"Mana bisa seperti itu." Anggara tersenyum mendengar celotehan istri cantik dan sangat muda.
"Terserah, aku malas memikirkannya." ia kembali memejamkan mata dalam belaian penuh kasih sayang.
Menjelang sore, Anggara meminta bibi dan beberapa orang asisten rumah tangganya untuk menyiapkan banyak barang bawaan untuk ke rumah David. Dipikir-pikir untuk datang ke rumah mertua alangkah lebih baik membawa buah tangan walaupun hanya sekedar makanan. Anggara merasa itu sedikit terlambat, karena ini merupakan kedatangannya yang ke dua kali.
Mereka berangkat menuju rumah David, dengan di iringi Jia di belakang mereka. Sepertinya kehadiran Anggara sudah di terima sebagai anggota keluarga baru selepas perselisihan antara mereka semuanya. Jujur saja Anggara tak mempermasalahkan apapun, termasuk jika harus bermusuhan dengan banyak orang, tapi dalam situasi ini ia bersyukur semua telah membaik.
"Assalamualaikum Mama!" Zahira sedikit berteriak ingin segera bertemu dengan siapa saja di rumah itu, tak hanya Ayu.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam Sayang." Benar saja jika David yang datang menyambutnya. "Anak Papa." David merangkul bahu Zahira mengajaknya masuk.
"Hey, apa hanya dia saja yang kau ajak masuk?" Anggara masih berdiri di pintu menunggu Jia dan sopirnya membawa banyak kotak kue dan makanan.
"Kau bisa berjalan sendiri." David sedikit tertawa dengan tingkah Anggara yang menurutnya tidak biasa.
"Sayang, kau sudah datang!" Ayu keluar bersama Nurul, kedua wanita itu senang sekali, terlebih lagi saat melihat Anggara yang tampak sibuk meminta dua sopirnya membawa makanan masuk ke ruang makan.
"Iya Mama." memeluk Ayu juga Nurul bergantian.
"Putriku benar-benar membuatmu berubah seratus delapan puluh derajat." gurau Ayu pada Anggara.
"Benarkah? Aku tidak percaya." Anggara melihat dirinya sendiri.
Ayu memanggil salah satu asisten rumah tangganya. "Hantarkan Zahira ke kamarnya." perintah Ayu.
"Aku tidur di kamar tamu saja Mama." Zahira menolak, ia memiliki banyak alasan untuk tidak menempati kamarnya yang dulu.
"Hanya tidak ingin naik turun, aku lelah dengan tubuh yang semakin besar seperti ini harus naik tangga." alasan yang tepat, namun ia teringat jika di rumahnya ia juga harus naik tangga yang hampir lebih tinggi.
"Benar, bahkan di rumah kami sedang berencana untuk pindah kamar di lantai dasar." Anggara tahu apa yang Zahira pikirkan.
"Baiklah, kau bisa tidur di kamar depan. Setidaknya itu lebih luas." Ayu mengantarkannya.
"Terimakasih Mama."
"Ya, kau bisa istirahat sebentar." Ayu membukakan pintu kamar tamu.
"Mama!" panggil Zahira saat sudah berada di dalam kamar.
__ADS_1
"Ya, ada apa Sayang?" Ayu mengurungkan niatnya untuk keluar, mungkin berbicara sebentar dengan putrinya.
"Mengapa tiba-tiba Mama memintaku untuk datang kemari, apa Radit tidak akan terganggu dengan aku di sini?" tanya Zahira dengan wajah polosnya.
"Tentu saja tidak, bahkan Radit yang memintanya. Dia ingin berkumpul dengan kita semua sebelum dia pergi ke Malaysia." jawab Ayu apa adanya.
"Ke Malaysia? Mengapa Radit pergi Mama? Bukankah dia sudah memegang perusahaan Mama?" Zahira merasa jika Radit sedang tidak baik-baik saja.
"Dia ingin melanjutkan pendidikannya lagi, juga ingin melanjutkan hidup yang mungkin akan lebih baik setelah semuanya ini berlalu." jelas Ayu menutupi hal sebenarnya, dadanya terasa sesak dengan berusaha agar tidak menangis.
"Apa ada yang tidak aku ketahui?" tanya Zahira dengan wajah sedih, ada kekhawatiran di sana.
"Tidak ada Sayang, semuanya baik-baik saja." jawab Ayu menegaskan.
"Mama!" panggilnya sendu.
"Iya." jawab Ayu bergetar, sungguh rasanya ingin menangis.
"Aku minta maaf dengan semua yang terjadi." air matanya jatuh tak terasa kali ini. "Aku masih belum dewasa, aku masih belum mampu menghadapi cobaan berumah tangga. Harusnya aku lebih sabar menghadapi semua hal, termasuk tentang kepercayaan. Aku bahkan tidak percaya dengan Radit saat itu."
"Bukan salah kau ataupun Radit, kalian sedang menjalani takdir kehidupan masing-masing. Mama yakin suatu saat kalian akan bahagia dengan kehidupan kalian, terutama kau dan suamimu. Mama tahu persis jika suamimu sudah memendam rasa yang cintanya cukup lama, dan sekarang sedang menikmati bahagia yang Allah hadiahkan untuknya, juga untukmu." Ayu mengusap perut Zahira yang semakin besar.
"Kami memang sedang bahagia. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa jika Radit sedang bersedih, dan aku tidak bisa mengabaikannya."
"Tentu saja kau tidak bisa mengabaikannya, dia adikmu yang sejak kecil kalian bersama." ucap Ayu semakin merasa nyeri dengan kenyataan ini.
"Terkadang aku merasa bersalah pada Papa dan Mama, di saat aku berada di rumah besar dan hidup bahagia. Harusnya aku juga bahagia bersama Papa dan Mama, itu membuat aku merasa ada yang kurang." ungkap Zahira.
"Mama akan selalu bahagia untukmu Sayang, Mama menunggu lahirnya anak-anakmu, rumah ini akan ikut ramai jika mereka sudah lahir, tangisnya aja kembali menggema bersahut-sahutan sama seperti saat kau dan Radit masih kecil." akhirnya air mata itu jatuh juga.
__ADS_1
"Terimakasih sudah merawat dan membesarkan aku hingga dewasa, Mama pasti kesulitan menjaga kami bersamaan saat itu." Zahira ikut menangis haru.
"Semuanya berlalu begitu nikmat, indah sekali mengenangnya. Melihat wajah dewasa kalian saat ini, Mama masih saja membayangkan dulu kalian menangis dan merengek bersama, dan itu tidak akan terulang kembali."