Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
292. Menggiurkan


__ADS_3

Reza menarik nafas sejenak, urung menyalakan mobil dan berbalik menghadap Ayra.


"Bagaimana aku tidak melihatnya jika ukurannya menggiurkan. Aku tidak bisa membayangkan malam itu aku menggila bermain di atas sana."


Tangan kokohnya menahan tangan Ayra yang mencoba mendorong Reza.


"Aku sedang hamil, tidak suka mendengar pembicaraan yang seperti itu." Ayra menghindari sikap Reza yang membuatnya serba salah.


Reza kembali terkekeh geli, ternyata Ayra masih saja polos dan malu-malu. Padahal hidup di luar negeri tapi sikapnya seperti gadis bodoh. Menggemaskan dan semakin membuat Reza menyukainya.


"Baiklah Sayang. Kau menyukai kata-kata seperti apa?" tanya Reza halus, memperlakukan Ayra lebih lembut.


Ayra semakin bingung dibuatnya, pilihan terbaik saat ini adalah diam.


"Kita akan pergi ke pusat perbelanjaan, anak dan istriku butuh banyak cadangan makanan di rumah." ucap Reza menggoda dengan cara berbeda.


Ayra meliriknya sedikit, pura-pura tidak tahu.


Reza kembali tersenyum membiarkan gadis itu menahan perasaannya sendiri. Akan sangat menyenangkan setelah menikah untuk mengerjainya, Reza sedang berkhayal saat ini.


Tak berapa lama mereka sudah sampai di sebuah pusat perbelanjaan.


"Ganti bajumu Sayang." Reza menunjuk di belakang ada kaos yang sengaja di bawa Reza.


"Tapi_"


"Gordennya bisa ditutup, lagi pula hanya aku yang melihatnya." ucap Reza mengerti kekhawatiran Ayra.


"Beli di dalam saja, aku tidak nyaman." jawab Ayra pelan.


"Benar juga."


Mereka memasuki pusat perbelanjaan tersebut, membeli pakaian untuk Ayra dan segera menggantinya. Barulah setelah itu mereka kembali berjalan mencari makan yang ingin di beli Ayra.


"Kau ingin membeli apa?" tanya Reza pelan, tangannya tak mau lepas dari pinggang Ayra dimana calon anaknya berada.


"Aku ingin membeli Susu saja." jawab Ayra mulai terbiasa dengan sikap Reza.


Sedikit teringat, kala itu menemani Zahira membeli Susu. Tapi sudahlah, sekarang Ayra sedang mengandung anaknya, lagi pula Zahira sudah bersama Radit.


"Kau melamun?" tanya Ayra memperhatikan wajah Reza.


"Oh, sedikit. Hanya tak menyangka sekarang aku sudah akan memiliki anak." bohong Reza, meraih susu dan meletakkan di troli belanjaan mereka.

__ADS_1


Ayra tak menanggapi, dia memilih beberapa makanan ringan yang mungkin akan disukainya setelah di rumah.


"Ada apa Sayang?" tanya Reza kembali memeluk pinggang Ayra.


"Kau memikirkan Zahira." tebak Ayra dengan tanpa melihatnya.


"Ya. Dia bilang jika Ayra itu sempurna. Cantik dan menyenangkan, aku pasti akan menyukainya nanti. Begitu yang di katakan Zahira padaku."


Reza melirik Ayra yang tak juga mau menoleh padanya.


"Dan ternyata benar, aku menyukainya bahkan mencintainya. Terlebih lagi ada anakku di di dalam sini, aku tidak mau kehilanganmu." Reza memeluk dan mengelus perut Ayra yang masih rata. Berkata sangat dekat hampir mencium pipi Ayra.


"Jangan seperti ini, aku malu." Ayra melonggarkan tangan Reza.


Reza tersenyum sedikit, merayu Ayra yang polos menjadi sangat menyenangkan. Lebih polos dari Zahira saat itu.


"Tapi aku adalah ayah dari anak yang ada di dalam sini, wajar saja jika aku menempel tak mau jauh darimu." Reza tak juga menyerah.


"Jika seperti ini aku tidak bisa belanja!" protes Ayra lagi.


"Baiklah Sayang." Reza mengambil banyak makanan dan memenuhi troli belanjaan mereka.


"Ini gila." gumam Ayra menggeleng.


"Aku sudah bicara dengan Radit, dia bilang ayahmu akan datang Minggu depan, karena Minggu depan lagi Radit dan Zahira akan menikah."


"Ya, dan aku akan melamar mu juga. kalau bisa kita menikah di hari yang sama bersama Radit." ucap Reza merangkul Ayra.


"Yakin? Aku takut kau malah menikahi Zahira, menipu aku dan Radit." gumam Ayra pelan.


"Astaga, itu bukan pikiran yang baik. Aku sedang memperjuangkan anakku, dan anakku ada di sini." " Reza terkekeh lagi.


Ayra tak peduli, membiarkan Reza tertawa sendiri.


"Kau cemburu?" tanya Reza mendekati wajah Ayra.


"Tidak." jawabnya fokus memilih berbagai macam roti.


"Padahal aku berharap kau cemburu." Reza sedikit kecewa, tapi malah membuat gadis di hadapannya menoleh.


"Aku takut jatuh cinta, karena jatuh cinta akan menyakiti hatiku ketika kau pergi dan meninggalkan aku. Jika bisa memilih, aku ingin jatuh cinta dengan pria biasa saja, menikah dan hidup selamanya. Bukan dengan laki-laki yang banyak mengenal wanita sepertimu, aku takut kalah dari mereka. Dan aku tak mau terluka."


Reza menautkan alisnya, merasa heran dengan cara berpikir Ayra. Artinya...?

__ADS_1


"Aku akan menjadi suamimu, cintai aku sepenuh hati seperti aku mencintaimu sepenuh hati. Aku milikmu Ayra."


Reza meyakinkan Ayra, dia sedang menebak jika Ayra sudah memiliki perasaan padanya, hanya takut kecewa mengingat mereka bukan jatuh cinta sejak awal.


Ternyata takdir membawanya pada rasa yang tiba-tiba menusuk karena kejujuran dan kepolosan seorang Ayra.


...***...


"Kau mau kemana?" suara Ayu sedikit berteriak di sore itu.


"Aku harus menjemput Zahira." jawab Radit sambil menuju mobilnya sedikit terburu-buru.


Hanya tinggal satu Minggu lagi pernikahan Radit dan Zahira akan segera di laksanakan.


Tapi, lagi-lagi Zahira tidak ingin pernikahan mereka di rayakan besar-besaran.


Alasan tak mau berlebihan menjadi jawaban Zahira, tapi sebenarnya bukan demikian. Tak pantas rasanya menikah dengan meriah setelah apa yang Anggara berikan kepadanya.


"Sebaiknya kau istirahat satu Minggu ini, jangan bekerja di hari menjelang pernikahan." Ricky menasehati Zahira.


"Tidak apa-apa Om, lagi pula masih lima hari lagi, akhir pekan kita semuanya akan libur." jawab Zahira menutup berkas yang baru saja di tandatangannya.


"Apakah sebaiknya kau rayakan di hotel milikmu. Mengapa harus selalu sederhana dan tertutup?" usul Ricky masih duduk berbicara dengannya.


"Tidak Om, semua itu milik Satria dan Sadewa. Biarlah aku menikah di hotel yang lain, itu juga tak kalah mewah dari milik Mas Anggara."


Ricky hanya tersenyum dan pasrah.


Terdengar langkah kaki dan langsung membuka pintu.


"Om." Radit menyapa Ricky terlebih dahulu.


"Kau semakin tampan saja." puji Ricky yang memang benar adanya, Rambut Raditya di potong rapi, dengan perawakan yang memang gagah dan muda, juga wajah yang mendekati kata sempurna.


"Aku memang harus selalu tampan, sainganku banyak." jawab Radit mendekati Zahira yang sejak tadi tersenyum.


"Benar juga, dan sebaiknya pertahankan ketampanan mu itu. Itu salah satu kunci agar seorang wanita menggilai mu." jawab Radit sambil menyusun berkas yang sudah di tanda tangani Zahira.


"Ku rasa itu adalah sebuah pengalaman." jawab Radit lagi.


"Apakah kau tidak merasa?" Ricky menertawai Radit sambil keluar meninggalkan mereka berdua.


"Kalian bicara apa?" Zahira menggelengkan kepalanya sambil ikut menertawai.

__ADS_1


"Berbicara kebenaran Sayang, aku memang harus selalu tampan agar kau tidak lepas lagi." Radit merayunya sedikit.


"Apakah aku seperti itu?" tanya Zahira memandangi wajah Radit yang memang benar lebih segar dan tampan.


__ADS_2