
Di rumah Ayra, kisah mereka masih saja rumit, seorang Reza belum berhasil menaklukkan Ayra.
"Mengapa kau ikut?" Ayra sedang memarahi Reza di pagi menjelang siang itu.
"Ya aku ikut, kalau tidak ikut aku akan bosan." Reza tetap melangkah menuju lantai dua.
"Aku ingin istirahat." kesal Ayra menuju kamarnya.
"Aku ingin menemani mu." Reza masuk ke kamar Ayra lebih dulu.
"Aku tidak bisa istirahat jika kau ikut masuk!" kesal Ayra lagi.
"Kita tidak akan melakukan apa-apa, Aku hanya duduk di dekat jendela, atau balkon." Reza menarik sebuah kursi mendekati jendela.
Ayra kembali melangkah keluar, tapi Reza menahan tangan halusnya.
"Lepas!" Ayra berusaha melepaskan tangannya.
Reza mengunci pintu kamar tersebut dan mengambil kuncinya.
"Jangan macam-macam." Ayra mulai takut, wajah pucatnya terlihat akan menangis.
"Tidak, aku tidak akan menyakitimu. Aku juga tidak akan melakukan apa-apa." Reza berkata pelan, sebisa mungkin menunjukkan sikap baik pada Ayra.
Ayra mundur selangkah, tapi Reza menarik dan memeluknya. Ayra berusaha lepas tapi percuma, tangan kokoh dan tubuh yang gagah seperti Reza tak mungkin kalah dengan tenaga ibu hamil yang tak seberapa.
"Aku Ayra." ucapnya bergetar.
Reza semakin mengeratkan pelukannya, rasa bersalah itu hadir di hati terdalam seorang Reza. "Aku tahu, kau Ayra yang sedang mengandung anakku. Anak kita." jawab Reza pelan.
Apakah karena dia seorang laki-laki brengsek, sehingga sebuah kalimat mampu menggetarkan hati Ayra? Ayra mencoba menolak, tapi entah mengapa pelukan Reza semakin hangat dan membuat nyaman dirinya.
"Kita menikah." ucap Reza lagi di telinga yang tertutup rambut itu.
Sejenak tak melawan, tak juga ada jawaban. Reza melihat wajah yang bersembunyi di dadanya itu.
__ADS_1
"Ayra, kita menikah." ulangnya lagi.
"Kau butuh jawabanku atau hanya memberi tahu?" tanya Ayra kesal, memilih duduk di ranjang karena tak punya pilihan, keluar kamar sudah tentu tak bisa.
"Benar sekali, aku tak butuh jawaban. Kita menikah dalam waktu dekat, aku akan melamar mu kepada ayah dan ibumu. Kapan kita pulang ke London?" tanya Reza ikut duduk di samping Ayra.
"Jujur saja aku tidak mau menikah denganmu." jawab Ayra membuang pandangannya keluar jendela.
"Tapi aku mau." ucap Reza membuat Ayra menoleh, menatap wajah tampan kekasih sepupunya itu.
Saling memandang sedekat ini membuat waktu berhenti sejenak, bola mata mereka bertemu seakan sedang mencari dan menyelami isi hati masing-masing.
Benar kata Zahira, Ayra itu sempurna. Wajahnya halus dengan bibir yang seksi, hanya sedikit pucat karena dia sedang mengandung anaknya. Matanya kecoklatan keturunan Eropa, kulitnya halus dan indah.
Sudut bibir Reza tertarik sedikit, dia mulai menyukainya.
...***...
Begitulah rasa rindu yang tak pernah pergi meskipun sudah banyak waktu yang terlewati, Zahira duduk memandangi makam Anggara yang sudah penuh dengan bunga di atasnya. Bunga segar yang wanginya ikut tercium hingga ke dalam hidung meruncing milik Zahira.
"Apa kabar Mas?" ucapnya pelan, pelan pula air matanya jatuh mengalir, berhenti ketika sudah menyentuh garis kerudung yang membalut hingga ke bagian bawah wajahnya.
"Aku tidak pernah lupa, tidak akan pernah lupa bagaimana kau mencintaiku, hingga nyawamu kau berikan demi aku Mas."
Zahira berhenti sejenak, mengatur nafas yang kembali terasa sesak.
"Tapi aku juga harus membayar kebahagiaan yang sudah ku dapat melalui tangan Papa dan Mama. Membayar penderitaan Radit yang juga tersiksa karena mencintaiku." air matanya semakin deras.
"Dan terkadang aku juga berpikir jika kebersamaan kita adalah bentuk doa dari ibuku, mungkin saja dulu Ibu juga ingin kau bahagia tapi tidak tahu caranya. Sedangkan saat itu Ibuku sudah memilih Ayah dan teramat mencintainya."
"Yang pasti, bagiku kau adalah pria terbaik di dunia."
Zahira menangis lagi, hingga sesenggukan di atas makam Anggara, melampiaskan rindu dan berbagai macam rasa yang sulit di jelaskan. Termasuk mengingat kata-kata yang pernah di ucapkannya ketika Anggara masih hidup.
'Kau tidak akan pernah melupakan aku, terutama ketika kau melihat kedua putra kita, kau akan selalu mengingat aku, meskipun kau akan menikah lagi.'
__ADS_1
Saat itu Zahira sedang bergelayut manja, memeluk dan merengek kepada Anggara. 'Mengapa harus menikah lagi?'
Tawa Anggara sangat lepas ketika itu, 'Karena aku sudah tua Sayang, aku tidak bisa selalu bersamamu selamanya.'
Zahira semakin menangis, hingga sesenggukan dan bengkak mata dan bibirnya.
Tentu tak ada yang bisa di lakukan Jia jika sudah seperti itu. Di hari yang mulai siang, Jia hanya bisa berdiri dengan payung di tangannya. Mata tajamnya ikut berembun, hingga sebuah bulir bening ikut terjatuh dan dia segera menghapusnya. Menarik nafas dalam-dalam hingga dadanya tak menjadi sesak, Jia tidak bisa menjadi cengeng.
"Andaikan aku bisa memilih, aku ingin ikut denganmu Mas." ucap Zahira lagi, dia masih terisak pilu.
"Ini sudah siang Nyonya." Jia duduk dan berucap pelan setelah tangisan Zahira mulai mereda.
Zahira mengusap air matanya hingga tak bersisa, kembali mengatur nafas dan berusaha untuk tidak menangis lagi.
Tangan halusnya terulur, memeluk makan Anggara dengan penuh rindu. Menarik nafas sangat dalam menahan tangis dan hati yang semakin tak karuan karena cinta yang masih sangat besar.
"Aku mencintaimu Mas, selalu mencintaimu." bisiknya kemudian segera berdiri, dan berjalan tanpa menoleh lagi, Zahira berjalan lebih dulu dengan air mata kembali turun.
"Kita langsung pulang Nyonya?" tanya Jia membuat langkah Zahira berhenti kembali.
Bukannya menjawab, Zahira kembali menoleh makam Anggara, lalu tersenyum sedikit bersama air mata.
Jia tak lagi bertanya, hanya mengiring hingga masuk ke dalam mobil, mereka meninggalkan tempat itu dengan saling membisu.
Hingga beberapa saat kemudian, mobil mereka sudah tiba di rumah David. Jia turun lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Zahira yang mendadak lemas karena menangisi Anggara.
Zahira masuk dengan langkah pelan, tapi berhenti karena seseorang berdiri depan depan Zahira, membuat wajah yang menunduk itu mendongak menatapnya.
Matanya sembab, Radit tahu persis apa yang membuat Zahira menangis, bahkan hal itu yang membuat Radit ikut merasa bersalah.
"Maafkan aku Zahira." ucap Radit untuk kesekian kalinya, kata-kata itu selalu meluncur begitu saja.
Zahira menggeleng pelan, mata beningnya menatap Raditya.
"Kau masih bisa mengunjunginya nanti, besok, atau seterusnya." Radit tersenyum hangat, menghibur hati yang masih bersedih walau terselip cemburu di dalam hatinya.
__ADS_1
"Ya." jawab Zahira pelan, bibir merahnya tersenyum tipis.
Radit beralih menatap Jia, wanita kaku dan berwajah datar itu hanya diam seperti biasa.