Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
204. Jodoh akan menemukan jalannya


__ADS_3

"Zahira!" teriak Radit ketika melihat Zahira pingsan dalam pelukan Reza. Namun tak membuatnya sadar, tubuh lembut semampai itu kini dalam gendongan Reza Mahendra.


"Kita ke rumah sakit." ucap Reza khawatir, diangguki Ricky segera keluar dan menuju lantai dasar.


"Ibu!" teriak Sadewa dengan wajah sedih.


"Sayang!" Radit segera memeluk anak laki-laki itu. "Mana Satria?" tanya Radit.


"Paman!" panggil Satria mendekat, wajahnya berubah khawatir saat melihat punggung Ricky yang mengatur jok mobil untuk menyandarkan Zahira.


"Kita ke rumah sakit." ajak Radit memeluk keduanya.


Jia segera menggantikan Reza, membiarkan majikannya menyandar dan mengusap bahunya, Jia sungguh bersedih dengan keadaan Zahira saat ini. Tak hanya menangis setiap hari, ia juga tak memiliki niat untuk hidup, jangankan bahagia, bahkan tak ada ketenangan di hatinya semenjak kehilangan Anggara. Sedikit menguatkan hati ketika melihat Dua orang putra jenius kesayangan mereka, yang membuatnya bertahan hingga saat ini.


"Nyonya!" panggil Jia sedikit menepuk pipi halus Zahira. Tak ada jawaban atau pergerakan.


"Dia demam." ungkap Reza menatap wajah Zahira dengan iba. Tentu saja dia tahu, hawa panas menguar saat menggendongnya, bahkan ketika Zahira memeluk, jemari lentik yang tak sengaja memegang tangannya itu terasa panas.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka semua sudah berada di rumah sakit tempat Zahira biasa datang cek kandungan.


"Ini gara-gara dirimu! sudah kukatakan jangan bergaya seperti ini." Radit kembali menunjuk pakaian Reza Mahendra.


"Tapi aku punya tujuan baik, aku tidak bermaksud membuat Zahira pingsan." sesalnya duduk mengusap wajah.


"Kau sedang menjadi Ayahku?" tanya Satria dengan mata sayu dan merah.


Reza meraih bahu kecil Satria, wajah tampannya mendongak anak kecil itu. "Paman sedang mencari keadilan atas meninggalnya Ayahmu Nak, tidak untuk menjadi ayahmu, tentu Paman tak akan mampu." Reza menjawabnya dengan pelan.


Tak mendapat jawaban, mata bening Satria beradu dengan Reza. "Boleh aku memelukmu?" ucapnya kemudian setelah keheningan.


"Tentu saja." jawab Reza dengan senyum tulus.


Pelukan hangat yang membuat nyaman, Satria menyembunyikan wajahnya di dada Reza, di benar-benar rindu pada sosok Anggara, dia memang kesayangan Anggara. Beberapa detik namun kemudian pelukan itu tak hanya satu, Sadewa mendekat dan segera di raih Reza ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Entahlah.....


Jika tadi saja Zahira bisa memeluknya dengan setengah sadar, bagaimana dengan anak-anak, mereka memeluknya dengan sadar, mereka benar-benar rindu akan Anggara. Sejenak rasa iri itu datang menyelusup, tidak suka melihat Reza Mahendra dengan mudah mendekati putra-putra Anggara. Harusnya tidak seperti itu! Radit membuang pandangannya, ia benar-benar kacau dengan kehadiran pria Itu, mengapa harus ada dia setelah Anggara tak ada.


"Semua akan baik-baik saja." ucap Reza setelah selesai melonggarkan pelukan kedua jagoan kecil itu.


Dulu saat ayahnya masih hidup selalu menjadi teman bermain di sela mereka melakukan pertemuan kerja sama. Anak-anak jenius yang menyenangkan, tampan, pintar dan menggemaskan. Entah mengapa ketika dekapan hangat penuh rindu itu menyatu, membuat Reza ingin memiliki.


"Dulu saat Ayah masih ada, Ibu tak pernah sakit." ungkap Sadewa menunduk sedih.


"Itu karena ibumu selalu di jaga ayahmu. Dan sekarang giliran kalian menjaganya dengan baik." jawab Reza menghibur.


"Apakah paman bisa menjaga Ibu?" tanya Satria dengan tatapan serius.


"Tidak bisa, karena Paman bukan ayahku." Sadewa menyahut tetap dengan wajah sedih.


Radit tersenyum tipis, senang sekali akhirnya salah satu dari mereka sadar jika Reza Mahendra bukan ayahnya.


"Aku tahu!" Satria lemas dan bergantian dia menunduk sedih.


"Ibu melarangku datang ke rumah Paman. Padahal Paman adalah orang yang seru saat bermain." jawab Satria polos.


"Setelah semua ini, Ibumu tidak akan melarang lagi. Paman janji!" Reza berusaha menjawab sebaik mungkin, walau bisa saja dia memanfaatkan keadaan. Namun perasaan anak kecil bukan untuk di manfaatkan tapi di tanamkan sebuah kejujuran, juga harapan yang baik untuk ke depan.


Tentu Radit tak bisa menjelaskan apa-apa, mungkin menunggu masa itu tida masih sangat lama, walaupun berusaha agar esok lebih baik tapi mengungkap sebuah kebohongan dan kelicikan tak akan semudah membalikkan telapak tangan, apalagi saat ini Anwar bukanlah orang yang bisa dianggap enteng seperti dulu sebelum mengenal Daniel.


"Keluarga Nyonya Zahira!" suara Dokter mengejutkan lima orang laki-laki tampan itu, namun Jia segera beranjak.


"Saya Dok!" jawab Jia dengan wajah datar.


"Mari ikut saya, Nyonya Zahira butuh Vitamin setelah makan malam." Dokter Amelia mengajak Jia ke ruangannya.


"Dok, sepertinya saya juga butuh obat sakit kepala!" Reza berbicara dengan santai kepada dokter wanita itu.

__ADS_1


"Ah, Dokter silahkan periksa dia, apakah saudara Reza Mahendra masih waras?" Radit menyahut, sedikit bercanda disertai kekesalan yang lumayan besar.


"Tentu saja dia masih waras, apalagi jika sedang menunggui seorang wanita cantik, dia akan sangat waras melampaui hari-hari biasa." ucap Dokter Amelia mengangkat alisnya seraya tersenyum.


Radit menoleh laki-laki saingannya itu, namun Reza malah sedang tertawa. "Aku curiga kau pernah berkencan dengannya." Radit menunjuk Amelia yang sudah berjalan menuju ruangannya.


"Dia saudara sepupuku!" ungkap Reza masih tertawa, tentu saja Amelia mengetahui jika saudaranya yang masih jomblo itu menyukai Zahira.


"Zahira sudah sadar, sebaiknya kalian pulang saja." Ricky menatap kedua rekannya, namun sepertinya tidak ada yang akan beranjak. Reza semakin lengket mendekap Satria, sedangkan Radit malah duduk menyandar tak mau mengalah, satu tangannya memeluk Sadewa.


"Baiklah!" Ricky mengalah, berlalu keluar mungkin sekedar sholat. Umur yang sudah kepala lima tentu ia harus mendekatkan diri kepada sang pencipta.


Jia masuk ke ruangan Zahira, mengajak kedua putranya juga ikut ke dalam. Namun tak lama kemudian Jia keluar dengan memanggil Reza Mahendra untuk masuk.


"Aku?" tanya Reza tak percaya.


"Ya. Nyonya ingin bicara." jawab Jia dingin


Reza segera berdiri, kesempatan yang langka walau menyisakan deg-degan yang lumayan kuat, dia benar-benar gugup.


"Mengapa harus dia?" tanya Radit kesal.


"Aku tidak tau, mungkin ada yang penting." Jia tak mau membahas apapun.


"Jia!" panggil Radit membuat wanita dingin itu menoleh.


"Ada apa?" tanya Jia masih dengan wajah datarnya.


"Apakah Zahira sangat membenciku?" tanya Radit hanya sedang megungkapkan rasa putus asa. Dia sungguh tidak tahu harus berbagi dengan siapa.


"Menurutku, dia hanya sedang berduka, merasa kehilangan yang terlalu cepat, sehingga Nyonya belum bisa menerimanya." jelas Jia yang memang benar adanya.


"Aku hanya merasa terlalu buruk untuk menjaganya." ungkap Radit menunduk sedih.

__ADS_1


"Percaya saja, jika kau benar-benar tulus maka jodoh akan menemukan jalannya."


__ADS_2