Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
59. Tetap bercerai


__ADS_3

"Zahira sayang, ini Mama nak." Ayu mengetuk pintu, memanggilnya dengan suara bergetar.


Tak ada jawaban, Ayu mengulang dan mengulanginya lagi hingga beberapa kali dan akhirnya, perlahan daun pintu itu terbuka sedikit demi sedikit memperlihatkan wajah cantik dengan mata merah sehabis menangis.


"Zahira." Ayu meraih tubuh mungil yang begitu di sayanginya sejak kecil itu, memeluk sangat erat dan menciumi kedua pipinya. "Kau kemana saja sayang? Mama khawatir." ucapnya lagi.


"Aku baik-baik saja Mama." jawabnya pelan.


"Boleh Mama masuk?" pinta Ayu setelah melonggarkan pelukannya.


Zahira mengangguk, sedikit melirik Radit yang tak henti menatapnya lalu menutup pintu kamar.


"Mama minta maaf atas semua yang terjadi, Mama tahu kau sedang menderita dan Mama tidak bisa melakukan apa-apa." ucap Ayu dengan sambil mengusap air matanya.


"Ini bukan salah Mama, mungkin sudah takdirnya aku dan Radit harus berpisah." jawabnya menunduk, Ayu sangat tau persis dia sedang menguatkan diri sendiri.


"Bisakah untuk tidak berpisah? Mama tidak sanggup mendengarnya, Mama tidak mampu melihat kalian seperti ini." Ayu kembali terisak sambil memegangi dadanya yang sesak.


"Kita akan melewati ini Mama, tapi tidak dengan bertahan menjadi menantu Mama, di sini akulah yang paling menderita melebihi kalian semua, aku yang paling tidak berguna dan jika bertahan sekalipun, aku hanya akan mengganggu kebahagiaan kalian nantinya." Zahira melihat ke luar jendela, ia sedang menahan air mata.


"Kata siapa? Tidak ada yang menganggapmu seperti itu, kau anak Mama dan Papa, kau sangat berarti untuk kami Zahira." Ayu semakin bersedih mendengar ungkapan Zahira.


"Ma! Bisakah Mama mengerti posisiku, seandainya Mama menjadi aku?" pintanya dengan suara pelan.


Ayu menangis semakin menjadi, wanita empat puluhan itu menahan sakit di hatinya juga sesak di dada yang melemahkan seluruh tubuhnya. Ia menunduk dengan tangis yang memilukan, tangan yang halus itu tak henti mengelus dan mencengkeram baju bagian dadanya, berharap sakit di dalam sana dapat berkurang.


"Aku sangat menyayangi Mama." ucap Zahira setengah berbisik, membuat wanita di hadapannya semakin meraung-raung.


Zahira menunduk dan menangis, ia tak kuasa melihat ibunya bersedih, namun ia juga tak berdaya mempertahankan pernikahan yang hanya akan saling menyakiti, lebih tepatnya dialah yang tersakiti.

__ADS_1


*


"Apa yang membuatmu melamun, bukannya bahagia sudah menghabiskan waktu sepanjang hari bersama gadis itu?" Ricky melihat Anggara duduk melamun malas beranjak dari duduknya.


"Dia sedang sangat menderita." ucapnya singkat.


"Bagaimana lagi, kau bilang kita hanya ikut alurnya." Ricky ikut duduk menyandar lelah.


"Kau bantu dia, aku sudah tidak sabar membawanya keluar dari penderitaan batin yang harus ditanggungnya sendiri." ucap Anggara yang merupakan perintah untuk Ricky.


"Aku akan melakukannya melebihi yang kau harapkan, aku pastikan dia tak bisa berpaling darimu." Ricky tersenyum penuh arti.


"Jangan menyakiti siapapun, aku hanya ingin dia baik-baik saja." Anggara mengingatkan asistennya.


"Aku rasa dia nyaman bersamamu." jawabnya berlalu, dia tak peduli peringatan yang di ucapkan bosnya.


Anggara tersenyum tipis, tentu ia bahagia mendengar kata nyaman. Wanita itu sungguh unik dan membuat ia selalu berpikir bagaimana cara selalu dekat dengannya, merindukannya dan ingin memilikinya.


Terkadang rasa rindu itu datang menyeruak, ingin mengulang rasa hangat yang menghanyutkan, berbagi kerinduan dan keresahan, sungguh benci dan rindu itu terkadang bertarung dengan sendirinya, tak perlu wasit untuk menentukan siapa pemenangnya, tentu berakhir dengan kesedihan dan kesepian yang merajalela.


Malam yang di selimuti hujan rintik, tubuh kecil itu tertidur dengan menyandar. Mata yang terpejam dengan bibir mengerucut, rambut lurusnya jatuh sembarang saja.


Dia tidak sadar jika seseorang sudah berada di sisinya, memeluk dan mulai menciumi wajahnya. Suami yang tak kuat menahan rindu tentu akan nekat masuk dan mencumbuinya dengan penuh semangat.


Radit memulai aksinya dan membuka kancing dress itu perlahan, seperti biasa dia akan memulai dan membuat pemiliknya terhanyut.


"Ra_dit." panggilan manja itu lolos dari bibir merah itu, matanya masih terpejam.


Radit semakin bersemangat menyentuh di bagian-bagian sensitifnya, dia bermain lembut dan pelan hingga Zahira yang masih tertidur itu berhasil jatuh dalam pelukannya.

__ADS_1


Radit sudah siap menyatukan kerinduan yang menggebu, pria itu tampak sudah tak sabar, tapi!


Zahira membuka mata sungguh terkejut Radit sedang berada di atasnya dengan posisi siap melaju.


"Radit, tolong menyingkirlah! Aku tidak ingin kita melakukan ini, kita akan berpisah." Zahira mencoba menghindar dan mendorong tubuh Radit.


Namun Radit tak melepaskan dan tetap melajukan miliknya hingga masuk ke dalam sana, pria itu menekan bahu Zahira mengunci dan membuatnya tak bisa bergerak.


"Radit aku mohon!" pintanya lagi, menahan sesuatu bergejolak di dalam miliknya.


"Kau masih istriku Zahira, aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi." Radit tetap memaksa dan melakukan keinginannya.


"Tidak Radit, kau bisa melakukannya dengan istrimu bukan aku!" Zahira melawan namun sungguh tubuh muda dan gagah itu begitu kuat sehingga membuatnya tak berdaya.


Radit menciumnya dengan paksa, melanjutkan aksinya dan mempermainkan emosinya.


Tak ada pilihan, jujur saja jauh di lubuk hati Zahira pun masih merindukan sosok tampan miliknya itu, merindukan tubuh gagah yang menghanyutkan jiwanya. Seperti saat ini, ia hanya bisa menutup mata dan berusaha sekeras mungkin untuk tidak terbuai.


"Hanya aku yang akan memilikimu Zahira, jangan pernah bermimpi untuk jauh dariku. Jangan pernah berpikir untuk berpisah denganku." Radit berbicara sambil terus menikmati wajah cantik itu seakan menunjukkan rasa puas atas ulahnya.


Zahira membuang muka walau rasanya ingin sekali memeluk dan meluapkan rasa yang tak karuan itu, namun ia membiarkan Radit dengan sejuta aksi dan bermain hingga puas, karena sudah tak mungkin lari dari pria itu.


"Aku mencintaimu Zahira, kau istriku, milikku hanya milikku." Radit mengatakan semua isi hatinya dengan terus bergerak semakin menggila, hingga akhirnya pria itu jatuh memeluk Zahira dengan erat.


"Apa rasanya enak?" suara merdu itu bertanya dengan lembut.


"Tentu sayang, kau begitu sempurna." Radit mengecup pipi dan kening Zahira.


"Tapi kenyataannya kau sudah memiliki wanita lain, dan pernah tidur dengannya." ucapnya lagi dengan halus.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menyentuhnya setelah menikah Zahira, sumpah demi apapun!" jelas Radit dengan wajah kembali bersedih.


"Itu tak merubah keadaan, juga yang kau lakukan saat ini, tidak merubah keputusanku, kita tetap akan bercerai." Zahira beranjak memakai Dress-nya kembali.


__ADS_2