Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
237. Panggil aku seperti suamimu


__ADS_3

"Aku sangat bahagia mendengarnya, aku harap ini awal yang baik untuk kita berdua. Sudah cukup semua kesedihan yang kau rasakan, aku pun ikut menyaksikannya." Reza menatap dalam bening matanya.


"Ya, aku juga sudah lelah, namun hidup harus terus berjalan. Kau tahu jika aku akan selalu memprioritaskan kedua anak-anakku, jika kau keberatan maka sebaiknya kau pikirkan lagi." Zahira berkata dengan pasti, tak ingin laki-laki di hadapannya berharap banyak.


"Aku tahu." Reza berjanji.


Zahira mengangguk. Baginya ajakan untuk menjalin hubungan ini adalah seperti alur yang harus di ikuti, ingin menolak tapi tak bisa di ungkapkan, dan menjawab setuju pun, hanya sekedar mengikuti keinginan yang hatinya sendiri berada diambang keraguan, benar atau salah.


Membiarkan waktu menjawab, juga Tuhan yang menentukan, adalah hal yang di yakini Zahira, seseorang hadir bukan tanpa alasan. Dia sendiri tidak tahu bagaimana nantinya, harapan untuk bahagia saja rasanya sudah tak ada.


Hingga akhir pekan itu tiba.


Zahira tahu jika malam ini dia sudah berjanji kepada Reza Mahendra untuk bertemu dengan ibunya. Bukannya tak senang tapi lemas dan tidak bersemangat malah terus menggelayuti dirinya.


"Kau akan pergi?" Ayu sengaja menginap di rumah Zahira menemani anak-anak di malam Minggu seperti biasa. Kesepian di rumahnya membuat wanita lima puluhan itu selalu rutin datang ke rumah Zahira hanya untuk bermain dengan kedua cucunya, putra-putra Anggara.


"Ma." panggil Zahira ingin bicara tapi wajahnya bingung.


"Jika ragu maka tidak usah pergi, turuti saja kata hatimu." Ayu mengelus bahu Zahira, menatap wajah yang masih sangat cantik itu di dalam cermin.


"Entahlah. Tapi ku rasa harus pergi. Aku ingin mengetahui akhir dari kehampaan diriku sendiri." Zahira tersenyum pahit.


Ayu memeluk Zahira, semakin dalam memandang wajah putrinya. Sejujurnya dia juga merasa hampa, bahkan Radit tak pernah punya niat untuk menikah, apalagi harapan untuk punya cucu tak pernah ada.


"Ibumu selalu bilang, daun yang jatuh dari pohonnya pun tak luput dari ketentuan yang maha kuasa. Begitupun takdir kehidupan kita, semua terjadi karena kehendaknya, setiap pertemuan bukanlah sebuah kebetulan."


"Dan aku harus yakin Allah selalu bersamaku. Tak ada yang perlu ditakutkan selama itu bukan hal yang salah." Zahira menarik nafas dan menghembuskannya, dia mulai menemukan keyakinannya lagi.


"Pergilah." Ayu tersenyum.


Zahira beranjak, memeluk Ayu dengan penuh kasih sayang, hanya wanita itu saja yang selalu mendampingi.

__ADS_1


"Terimakasih sudah membesarkan aku penuh kasih sayang Mama, terimakasih selalu bersamaku. Aku hanya punya Papa dan Mama, tak ada yang lain selain Papa dan Mama." Air mata sejuk menetes di pipi halus Zahira.


"Mama juga hanya memiliki dirimu Nak, anak perempuan yang baik, Sholehah dan memberikan Mama cucu yang selalu mengharapkan kedatangan Mama. Itu membuatku sangat bahagia." Ayu juga menangis, namun kepedihan lebih jelas terdengar dari Isak tangisnya.


"Mama, mereka adalah cucu Mama, tentu akan selalu menyayangimu." Zahira melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di wajah Ayu. "Terkadang aku khawatir, jika Radit sudah menikah dan punya anak nanti, Mama tidak akan menyayangi putra-putraku lagi."


Ayu tak kuasa mendengar ungkapan Zahira, hatinya sungguh semakin teriris pedih. Ingin sekali dia mengatakan jika sebenarnya Radit tak bisa memiliki anak. Ya, mereka tak pernah memberitahukan hal itu pada Zahira. Enam tahun yang lalu itu membuat putranya sangat terpukul.


"Aku takut, Mama akan jarang datang kemari dan anak-anak akan menanyakan Mama setiap waktu." sambung Zahira lagi tak mengerti apa yang sedang ditangisi ibunya.


"Itu pikiran bodoh." Ayu tersenyum sedikit dalam tangisnya, tentu dia tak sanggup mengatakan yang sebenarnya.


Zahira kembali duduk dan memeluk perut ibunya, walaupun tidak terlahir dari sana, tapi tempat itu adalah tempat paling nyaman seumur hidupnya.


Pintu kamar di ketuk.


"Masuk!" Ayu menjawab sambil menghapus air mata.


"Nyonya, Tuan Reza Mahendra sudah ada di luar." Jia menyampaikan.


"Baik."


"Pergilah Sayang, biarkan Allah yang menunjukkan jalan terbaik untukmu." Ayu menyemangati Zahira.


"Iya Ma, aku pergi." Zahira memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Ayu. "Assalamualaikum Mama."


"Waalaikum salam Sayang." jawabnya membiarkan Zahira pergi.


Ayu kembali duduk di meja rias Zahira, hatinya masih tersakiti dengan kenyataan hidup yang terkadang di rasa tak adil. Namun lagi-lagi tak punya pilihan selain menerima.


Sesekali, ingin rasanya berusaha mempersatukan kedua anaknya lagi. Tapi kejadian masa lalu memberinya pelajaran berharga, takut Radit tak bisa membuat Zahira bahagia.

__ADS_1


Di dalam mobil hitam yang mulai melaju, Reza Mahendra tampak sangat bahagia berhasil membawa Zahira untuk menemui ibunya. Wajah cantik, semampai dan indah dengan pakaian tertutup membuat ia bangga bukan main. Tentunya dia sudah menjatuhkan pilihan yang tepat, dan tidak mudah untuk memiliki kesempatan ini.


"Apakah ibumu akan menerimaku?" tanya Zahira menoleh laki-laki yang sedang menyetir itu.


"Aku yakin sekali." Reza tersenyum senang.


"Pastikan kau tidak menutupi apapun tentang aku. Aku tidak mau nantinya akan menimbulkan kekecewaan disebabkan aku bukanlah wanita yang sesuai harapan."


"Aku sudah membicarakan sebagian, tapi ku yakin ibuku akan menerimamu." Reza Mahendra sangat yakin sekali.


"Ku harap begitu." Zahira hanya bisa berharap, sekalipun tak diterima maka itulah yang akan terjadi, dia bisa apalagi.


Mobil melambat, Reza menepikan mobilnya sejenak.


"Ada apa?" tanya Zahira halus.


"Jangan panggil namaku seperti biasa. Aku ingin di hadapan Mama kau memanggilku sebagi sepasang kekasih."


Zahira menatap heran, dia bingung harus memanggilnya apa.


"Aku lebih tua darimu!" Reza menatap serius, bola mata mereka bertemu.


"Kakak." ucap Zahira polos.


Reza terkekeh geli, wajah polos wanita cantik itu sungguh menggemaskan sekali. Hanya menjaga dan takut Zahira marah sehingga ia tak berani menyentuhnya, jika menurut kehendak hati, ingin rasanya menggigit dan memeluknya hingga tak bisa melawan lagi.


Zahira merasa malu dan sedikit kesal Reza menertawainya.


Reza mendekati Zahira dengan wajah serius. "Bisakah memanggilku seperti kau memanggil suamimu?" pintanya pelan masih saling beradu kedua bola matanya.


Zahira tak bisa menjawab, tentu itu panggilan yang spesial dan hatinya bergetar setiap panggilan itu keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Hanya malam ini." ucap Reza lagi, tahu jika itu sulit bagi kekasih pujaan hati. "Aku mencintaimu Zahira." ucapnya lagi tak butuh jawaban saat ini.


Reza kembali melanjutkan mobilnya menuju sebuah Cafe, di mana ibunya sudah menunggu. Wanita yang sudah berumur itu tentu juga sangat penasaran dengan wanita yang sudah di pilih putra satu-satunya, terlebih lagi status janda sudah terdengar lebih dulu membuatnya ingin cepat bertemu.


__ADS_2