Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
102. Itu Zahira!


__ADS_3

"Kalau begitu aku ingin makan buah jeruk ini, aku haus." jawabnya sedikit merengek.


Anggara mengambil satu dan mengupasnya, memberikan satu-persatu belahan jeruk yang manis itu dengan sabar.


"Malam ini terakhir kita di sini." ucap Zahira sambil menikmati jeruknya.


"Lain kali kita akan datang lagi. Besok kita harus periksa ke dokter kandungan, memastikan bahwa kalian baik-baik saja." ucap Anggara.


"Benar juga, tapi aku merasa sangat sehat." ucapnya yakin.


"Kau memang sehat Sayang, hanya aku ingin melihat bagaimana keadaan anak kita di dalam sini." Anggara mengelus perut yang memang sudah terlihat besar.


Anggara sempat berpikir bahwa perkembangan bayi mereka terlalu cepat, ia takut ada hal lain di dalam sana.


"Ayo kita pulang." Zahira beranjak dari duduknya, di ikuti Anggara yang masih memasukkan buah-buahan bulat itu ke dalam keranjang berukuran lumayan.


"Apelnya bagaimana Mas?" Zahira berpikir akan sangat berat jika membawa semuanya.


"Nanti Mang Udin yang akan membawa ke mobil." Anggara membawa keranjang jeruknya dengan merangkul pundak Zahira.


"Aku sampai berkeringat, rasanya ingin cepat mandi." masuk ke mobil sambil berbicara.


"Nanti kita mandi bersama." Anggara menggodanya sedikit, sambil menunggu Mang Udin membawa apel yang lumayan banyak.


"Mau syukuran ya Mas Anggara?" tanya Mang Udin sambil memasukkan buah ke dalam mobil Anggara.


"Tidak Mang, istriku sedang ingin mengumpulkan semuanya, dia sedang mengidam." jawab Anggara tersenyum.


"Oh begitu Mas. Kalau begitu selamat ya Mas Anggara." ucap pria itu dengan tersenyum senang.

__ADS_1


"Terimakasih." kemudian melaju pulang menuju Vila tempat mereka tinggal.


Suasana Sore itu terasa begitu menenangkan dengan aroma alam yang kental, tak ada debu, tak ada asap kendaraan, tak ada keramaian, meski tidak sepi namun tidak juga tergolong ramai. Para pengunjung yang menginap akan betah berlama-lama dengan suasana alam yang masih belum terjamah, menenangkan perasaan dan meningkatkan nafsu makan, di tambah lagi dengan menu tradisional, ikan segar, ayam kampung, bebek dan berbagai macam olahan kampung yang terlihat menggoda, tak kalah nikmat dengan hidangan di Restoran ternama.


Makan malam dengan menu yang sama, olahan ayam kampung yang di bakar dengan bumbu tradisional menggoda, di taburi irisan bawang dan cabai di atasnya terlihat semakin nikmat dengan kecap yang meleleh hangat. Di hidangkan dengan nasi panas yang masih mengepulkan asap, membuat orang-orang yang lapar harus bersabar untuk menyantapnya.


Di seberang sana Radit menikmatinya dengan lahap bersama empat rekan yang lainnya. Di Vila besar Zahira juga sedang menikmatinya bersama Anggara.


Waktu menunjukkan pukul 21:00, Zahira yang baru saja selesai dari kamar mandi menuju balkon lantai dua itu dengan memakai kimono pink menutup tubuh indahnya. Menghirup udara malam dengan hembusan angin yang lembut, tentu tak membuatnya kedinginan karena baru saja selesai melakukan aktivitas panas bersama suami tercinta.


Sedangkan di seberang sana Radit masih sibuk dengan teropong jarak jauhnya, mengarahkan kesana-kemari mencari titik keindahan yang masih membuatnya penasaran, dari sore pria itu terlihat sibuk dengan alat dua kaca bulat itu tapi tak juga menemukan. Namun entah mengapa kali ini ia tertarik dengan Vila yang sedikit menjulang di seberang mereka. Lampu yang masih menyala terang itu seakan memancingnya untuk sekedar iseng mengarahkan benda itu ke sana.


Gadis berambut lurus itu sedang membelakangi pemandangan di dalam kaca pembesar itu membuat jantung seseorang yang memandangnya dari jauh ingin melompat karena detaknya lebih kencang dari gendang musik dangdut, Radit melepas alat itu sejenak, mengatur nafas dan memastikan saat ini ia sedang tidak tidur.


Beberapa saat ia menarik nafas dan kembali mengarahkan alat itu dengan kedua bola matanya terus menempel. Kembali ia melihat gadis itu terlihat sangat cantik menggoda, kini ia sedang menyamping. Hidungnya yang meruncing mengingatkannya dengan Zahira, rambutnya yang halus juga sama seperti Zahira. Boleh di katakan sangat mirip, hanya wanita yang ada di seberang sana terlihat lebih berisi dan menggoda.


Radit seakan menemukan tempat untuk melepaskan sedikit rindunya, terus memperhatikan dari jauh dengan hati yang bergemuruh, ia menahan gejolak di dadanya hingga membuat tubuhnya bergetar, ia sungguh ingin datang ke seberang sana untuk melihat wanita itu.


Membuat hati Radit sakit dengan sendirinya.


"Istri Anggara!" ucapnya pelan menurunkan benda itu.


Tapi hatinya seakan menuntut untuk kembali menyaksikan mereka, ia masih penasaran dengan wanita di sana, entah mengapa jantungnya berdegup hebat seperti saat pertama menyentuh Zahira.


"Zahira!" ucapnya menjatuhkan teropong yang dipegangnya, ia baru saja melihat wajah gadis itu menoleh sekilas. Ia begitu yakin dia Zahira, sangat yakin sekali.


"Akbar!" teriaknya masuk ke kamar mereka.


"Ada apa?" tanya Akbar heran melihat wajah pucat dari sepupunya itu.

__ADS_1


"Mana kunci mobilmu?" Radit meraih jaket Akbar dan mencarinya sendiri.


"Untuk apa, ini sudah malam?" Akbar sungguh heran dengan Radit.


"Aku melihat Zahira di Vila besar di depan sana, dia bersama pamanmu, Anggara." ucap Radit semakin membuat Akbar melongo.


"Mana mungkin." Akbar tak percaya.


"Apa kau hadir dalam pernikahan mereka?" tanya Radit menghentikan pencarian kunci mobil sepupunya.


"Tidak, kami semua sedang di luar negeri." jawabnya santai.


"Kalau begitu kau ikut aku ke sana." Radit menemukan kuncinya di tempat tidur, langsung berlari menuju mobil mereka.


"Kau yakin? Bukannya istrimu sudah meninggal?" Akbar terlihat malas, sungguh gelap dan dingin di puncak itu.


"Aku ingin melihatnya, kau juga." Radit menyetir kali ini.


Lima belas menit mereka melaju, hingga mobil mereka sudah berhenti di halaman Vila besar itu.


"Maaf Mas, ada yang bisa kami bantu?" penjaga Vila itu menghentikan Radit yang setengah berlari ingin masuk.


"Aku ingin bertemu dengan Om Anggara, ada yang sangat penting." ucap Radit, dia sudah sangat tidak sabar untuk naik dan bertemu wanita itu.


"Tidak bisa Mas." jawab penjaga Vila itu tersenyum.


"Kami keponakannya Pak, katakan padanya ada Akbar di bawah." Akbar ikut membantu Radit untuk naik ke atas.


"Bukan begitu cuma_" belum selesai penjaga Vila itu bicara Radit sudah melewatinya dan berlari menuju tangga secepat kilat.

__ADS_1


"Radit tunggu!" Akbar menyusul dengan terpaksa, melihat tingkah Radit pria itu jadi ikut penasaran.


Radit langsung berlari tanpa peduli siapapun, wajah cemas dan hati yang tidak menentu membuatnya hanya fokus pada balkon tempat ia melihat Zahira.


__ADS_2