
"Malam Minggu malam yang panjang, Malam yang asyik buat pacaran!"
Jika lirik lagu lama itu hanyalah hiburan, tapi tidak untuk dua insan yang sedang di landa cinta, mereka menghabiskan malam Minggu yang melelahkan itu dengan begitu hangat dan berkeringat. Pacaran? Ah iya, tentu saja mereka sedang berpacaran setelah menikah. Nikmat dan manisnya hubungan asmara bisa di rengkuh bersamaan, tanpa takut salah atau menyesal, itulah indahnya hubungan yang halal.
"Aku sangat mencintaimu. Kau hanya milikku Zahira sayang, jangan pernah berpikir untuk menjauh atau pergi dariku." ungkap Radit di sela nafasnya yang memburu, menderu di telinga Zahira dengan begitu hangat.
"Aku juga sangat mencintaimu Radit, mana mungkin aku bisa pergi jika kau selalu menguasai hatiku, cintaku, dan jiwaku." Zahira memeluk dan mengelus bahu yang berkeringat itu. Bahu yang lebar mengungkungnya setiap malam-malam yang dingin, di sertai nafas yang menderu hebat menenangkan kegelisahan yang seringkali menguasai hati.
"Sayang, kita selalu melakukannya, tapi kau belum hamil juga." Radit menatap wajah cantik yang sedang kelelahan itu, namun tak mengurangi rasa sayang yang malah semakin besar.
"Entahlah Radit, mungkin Allah masih memberi waktu untuk kita menghabiskan waktu berdua lebih lama." jawabnya lembut sekali.
"Benar juga, bahkan aku belum puas bermain denganmu. Aku tidak pernah puas sayang." Radit mengecup pipinya.
Zahira tertawa senang dengan ungkapan-ungkapan suaminya itu, dia merasa seperti magnet yang selalu bisa menarik Radit untuk melakukannya lagi dan lagi. Seorang istri tentu bangga bisa menaklukkan suaminya, terlebih lagi suami tampan, muda dan kaya raya seperti Raditya. "Lakukan saja semaumu Radit, aku memang sudah milikmu sejak awal." Zahira mengelus pipi Radit yang halus.
"Aku sangat bahagia bisa menikah denganmu Zahira, aku sangat takut tidak bisa mendapatkan dirimu waktu itu. Kepalaku selalu terasa sakit menahan diri untuk tidak menyentuh dan menikmati wajah cantik ini." Radit tersenyum hangat, telunjuknya menyusuri pipi Zahira.
"Maaf aku tidak menyadari hal itu, aku malah selalu ingin dekat denganmu." ucap Zahira, ia mengenang saat dirinya selalu ingin ikut dengan Radit, bahkan memeluknya.
"Tidak apa-apa sayang, itu juga yang membuat aku yakin bahwa kau juga mencintaiku, kita memiliki rasa yang sama, rasa gelisah saat jauh, dekat juga malah semakin gelisah." Radit tertawa mengingat rasa-rasa itu datang mengganggu kala itu.
"Benar." Zahira ikut tertawa dalam pelukan Radit.
"Dan ternyata, menyatukan ini semua adalah obat agar kita tidak merasa gelisah lagi, kau dan aku menjadi satu. Aku menyesal tidak menikahimu sejak lama." Radit semakin memeluknya.
__ADS_1
"Kita masih bocah jika sejak lama, sekarang saja kita masih terlalu muda." ucap Zahira.
"Ah, aku tidak peduli, yang penting bagiku adalah bersamamu selamanya sayang." Radit begitu menikmati kebersamaan mereka seakan tidak ingin waktu berjalan. Ingin selalu di dekatnya.
Pagi hari di hotel itu begitu sejuk, suasana alami yang begitu indah untuk di nikmati. Zahira menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya Radit yang sedang membersihkan diri di kamar mandi.
"Sayang." panggil Radit yang baru saja keluar dari kamar mandi, handuk yang masih melilit di pinggang dengan rambut yang basah itu terlihat begitu menggoda. Pria itu memeluk Zahira.
"Ini pakaianmu." Zahira tersenyum manis, tangannya sibuk membuka lipatan baju kaos untuk di pakai suaminya.
"Biar aku saja sayang." Radit mengambil baju dari tangan Zahira.
"Tapi rambutmu masih basah Radit." Zahira mengambil handuk dan mengusap rambut suaminya yang basah.
"Sudah sayang." tangan Radit merengkuh tubuh Zahira, begitu beruntungnya dia diperlakukan istimewa oleh istrinya. Istri yang Sholehah, menurut, bersuara lembut, menyenangkan dan menenangkan, itu membuat Radit semakin menggilainya.
"Iya sayang." Radit tersenyum mengecup pipinya, sejenak lalu melanjutkan mengganti baju.
"Suamiku tampan sekali." Zahira melihat penampilan Radit yang sudah rapi, kaos dan celana panjang yang berkelas membuatnya begitu sempurna.
"Istriku juga cantik sekali, cantik di luar juga di dalam." Radit mendekatkan wajahnya, melihat wajah yang sedang tersenyum hingga tak berjarak.
"Jika seperti ini, kita tidak akan keluar dari kamar ini hingga siang hari." Zahira berbisik.
Radit tertawa gemas. "Ayo sayang kita akan keluar, agar cepat selesai dan pulang." ucapnya beranjak dengan tangannya terulur meminta Zahira bersamanya.
__ADS_1
Hingga pukul 11:00 siang, Zahira dan sekretaris Tina keluar dari hotel itu di ikuti Radit yang sudah siap dengan koper yang mereka bawa. Pekerjaan mereka sudah selesai untuk hari ini, pertemuan dengan pemilik hotel menghasilkan keputusan yang menguntungkan untuk ke dua belah pihak, dan sudah menandatangani kontrak kerja.
Pulang dengan membawa keberhasilan membuat Zahira begitu bahagia, ini kali pertama ia bekerja tanpa bantuan Anggara. Tantu saja nanti dia akan memberi tahu pria dewasa itu bahwa dia sudah bisa bekerja sendiri. Berkat bimbingan Anggara saat ini Zahira bisa mandiri, walupun belum di lepaskan David sepenuhnya.
Itu menurut Zahira, padahal Anggara-pun belum melepaskannya. Dia sering menghubungi Tina untuk perihal kegiatan dan pekerjaan yang akan di ambil gadis itu, terlebih lagi di dalam bisnis lawan dan kawan sulit di bedakan. Tak semua proyek akan berjalan lancar dan menguntungkan, Anggara hanya waspada tentang hal itu.
Di persimpangan jalan mobil yang di bawa Tina berhenti, wanita dewasa itu membuka kaca ketika mobil Radit juga berhenti mensejajarkan posisi mobil mereka.
"Kak Tina, besok Zahira ada kuliah, jika ada sesuatu yang penting kakak hubungi saja aku."
"Anda tak perlu khawatir." jawabnya tersenyum, lalu kemudian kedua mobil itu berlalu pulang menuju rumah masing-masing.
*
Hari Senin yang padat, pagi itu Zahira di antar Radit menuju kampusnya. Wanita cantik berhijab itu meraih tangan Radit dan menciumnya, itu tempat Radit memarkirkan rindu setiap waktu.
"Jangan macam-macam sayang, ingat kau hanya milikku." ucap Radit begitu mesra.
"Iya." jawab Zahira dengan tersenyum manis selalu menghiasi bibirnya.
Radit melajukan mobilnya menuju sekolah, pria itu harus belajar, dia sudah tak sabar untuk melewati ujian semester yang akan ia hadapi bulan depan. Liburan yang panjang akan membuatnya bersemangat, menghabiskan waktu berdua dengan Zahira tersayang tentunya.
"Radit, kau selalu datang dengan wajah berseri-seri, apa yang membuatmu selalu terlihat bahagia?" Vino, sahabat Raditya di kelasnya.
"Kau mau tau?" Radit tak menganggapnya serius.
__ADS_1
"Tentu saja." Vino begitu penasaran.
"Nanti setelah kau dewasa." jawab Radit bercanda, walau sebenarnya itu kenyataan yang belum ia publikasikan. Atas keinginan Zahiranya, Radit akan menuruti permintaan itu.