Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
88. Dia hanya mencintaiku


__ADS_3

"Pergi bersama Jia, dan jangan buka masker jika berhenti di jalanan, aku tidak mau kau kena flu, lagi pula banyak debu kotor di luar." Anggara terus mengingatkan istrinya sambil memeluk, berjalan menuju mobil.


"Apa aku masih belum sembuh juga?" Zahira meraba jahitan di kepalanya, dia pikir sudah mengering dan tidak ada rasa apapun.


"Jangan sampai kau lupa itu luka jahitan, jangan digaruk meskipun terasa gatal." Anggara menurunkan tangan kecil itu dari kepalanya.


"Baiklah, rasanya semua tidak boleh." wajah cantiknya menekuk, dengan bibir mengerucut.


"Hanya itu saja, yang lainnya boleh." Anggara melabuhkan ciuman hangatnya, menikmati sejenak aroma vanila dan lembutnya kulit Zahira.


Tangan kecilnya bergelayut manja, dengan senyum manis terukir karena mendapatkan lagi ciuman mesra yang sangat di sukainya.


"Aku pergi dulu, nanti aku akan menjemputmu." bisik Anggara lagi, tangan hangatnya melingkar indah di pinggang langsing Zahira.


"Iya." jawabnya singkat, namun terdengar menggemaskan.


Anggara memberikan kecupan terakhir sebelum bekerja, lalu segera masuk ke dalam mobil menghindari jika gadis itu kembali merengek dan tak dapat di hindari akan mengulangi kemesraan yang sulit di akhiri.


Anggar tersenyum sendiri di dalam mobilnya melihat kaca yang masih memantulkan gadis itu tak juga beranjak menatap kepergian Anggara hingga jauh. Teringat dulu seorang Anggara hanya menjadi saksi kemesraan dari kedua orang tua Zahira, tak menyangka akan mendapatkan rasa luar biasa itu di usia yang hampir menginjak kepala Empat. Memiliki gadis itu dengan semua sikap yang mengagumkan dari orang tuanya, rasanya bodoh sekali jika sampai menyia-nyiakan dirinya, dan tentu itu tak akan pernah terjadi. Tunggu, dia mengingat sesuatu!


Kemarin Anggara mendapat kabar jika pria bodoh itu sudah kembali, cepat atau lambat hanya tinggal menunggu waktu. Kapan dia akan muncul dan mengetahui Zahira masih ada? Tentunya itu tidak mudah bagi semua orang, terutama untuk dirinya yang harus selalu menjaga mood Zahira yang masih belum pulih sepenuhnya.


Sementara di rumah, pukul 10:00 pagi Zahira sudah duduk di dalam mobil mewah yang selalu siap sedia mengantarkan dirinya kemana saja.


"Jia." panggilnya lembut.


"Iya Nona!" jawab wanita yang sedang menyalakan mesin itu.


"Apa salonnya jauh?" tanya Zahira lagi.


"Tidak juga Nona, hanya Tiga puluh menitan." jawabnya sopan.

__ADS_1


"Baiklah."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, memanjakan Zahira yang asyik bermain ponselnya. Bibir merah itu sesekali tersenyum dan terkadang hidungnya yang mengernyit tak suka. Entah apa yang sedang ia lihat di layar tipis itu, Jia hanya sedikit tersenyum melihat kelakuan majikannya yang cantik.


"Sudah sampai Nona." ucapannya setelah beberapa saat kemudian.


"Oh." Zahira menyimpan ponselnya lalu turun setelah Jia membukakan pintu.


Zahira menggandeng tangan Jia erat sekali membuat gadis itu serba salah, sungguh gadis kurus, tinggi dan langsing itu merasa tak enak hati. Anggara memang sangat pandai memilih bodyguard untuk istrinya, hampir seumuran, pintar dan pintar berkelahi tentunya.


"Aku izin ke toilet sebentar Nona." ucapnya pada Zahira.


"Iya, tak perlu khawatir aku bisa sendiri." Zahira langsung duduk menyandar di kursi empuk dan memang di disain untuk bersantai.


Wanita itu mengangguk dan berlalu, lagi pula salon itu adalah milik rekan Anggara, jadi tak akan ada sesuatu apapun terjadi pada majikannya.


Mereka tidak tahu ada wanita yang sedang memperhatikan dan berada di ruangan itu juga. Ia tampak penasaran karena Zahira tak kunjung melepaskan maskernya, hingga hampir setengah jam lamanya, dan akhirnya! Masker berwarna pink itu di lepas dan diletakkan di atas meja membuat wanita yang tak berhenti menatap itu membulatkan matanya seakan bola mata itu ingin melompat keluar dengan segera.


"Zahira!" ucapnya pelan, gadis itu mengurungkan niatnya untuk melakukan perawatan karena melihat wajah cantik yang tak asing itu.


"Aku terburu-buru, maaf!" potong Merry pada pegawai salon yang berbicara dengannya.


Zahira yang baru saja menyandar menoleh ke arah sumber suara, mata beningnya menyipit melihat wanita itu lagi, belum lama ia melihat wanita yang meneriakinya pencuri, kali ini dia ingin mengenalnya.


Zahira tersenyum menatap intens wajah ibu hamil yang juga menatapnya dengan tak berkedip.


Tapi tidak dengan Merry, wanita itu mendekat dengan tatapan tajam dan wajah Arogan. Berjalan pelan dengan terus mengusap perut bagian atas seolah menunjukkan bahwa dia sedang berbahagia.


Tak menampik, Zahira melihat perut yang membesar itu seolah ada yang mengganjal, namun ia tak juga bicara.


"Apa kabarmu?" tanya Merry dengan nada penuh penekanan, ucapannya hanyalah basa-basi yang terpaksa.

__ADS_1


"Baik." jawab Zahira halus, tak mengurangi kecantikannya walau tidak tersenyum, ia berpikir jika wanita ini benar-benar mengenalnya.


"Ku pikir kau sudah ikhlas meninggalkan dunia ini, tapi tak apa!" ucap Merry tidak meninggikan suaranya, tapi auranya membuat Zahira tak nyaman.


Zahira terkejut namun ia tak mau terburu-buru menjawab, lagi pula ia tak tahu apa maksud wanita itu.


"Aku tidak mau kau kembali hanya untuk menjadi pengganggu kebahagiaanku bersama suamiku, jangan pernah berpikir untuk merebutnya." ucap Merry lagi.


Zahira masih bingung, namun yang dia pikirkan hanyalah Anggara saja. "Dia suamiku." jawab Zahira tegas.


"Tidak, dia hanya menginginkan aku dan anakku. Ku harap kau tahu diri!" Merry memperingatkan.


"Dia hanya mencintaiku." jawab Zahira merasakan kesal di dalam hatinya.


"Cintanya akan habis jika sudah melihat wajah anak ini lahir ke dunia, sedangkan kau tak memiliki apa-apa, hanya cinta saja." ucapnya dengan nada menghina.


Tak di sangka Zahira berdiri, mensejajarkan diri dengan wanita berwajah sombong yang sudah berdiri di hadapannya.


"Aku rasa yang tidak tahu diri itu adalah dirimu, dan sepertinya kau adalah wanita yang tidak berharga di mata suamimu!" balas Zahira.


"Tutup mulutmu!" wajah Merry memerah menahan amarah.


"Mengapa tidak kau saja yang menutup mulutmu yang jelek ini." Zahira menunjuk wajah Merry dengan berani.


"Kau berani?" Merry menjadi emosi.


"Tentu saja aku berani, kau mengusikku!" jawabnya tanpa rasa takut. "Bukan hanya berani tapi aku juga bisa menghajarmu, aku tidak peduli kau sedang mengandung, aku juga bisa melemparmu hingga bayimu itu merangkak keluar dengan sendirinya." Zahira mendekati Merry dengan tatapan mengerikan, mata beningnya menjadi tajam membuat nyali Merry menciut.


"Kau mau apa?" Merry mundur dengan memegang perut buncitnya.


"Aku ingin mengahajarmu!" jawab Zahira lagi, masih dengan wajah menyeramkan.

__ADS_1


"Nona, kau tidak perlu melakukannya." Jia mendekat dan menghadap Merry, wanita itu menyipitkan mata dengan senyum sinis terukir jelas meremehkan wanita hamil yang sombong.


"Kalian jangan coba-coba menyentuhku, apalagi main keroyokan. Aku bisa mengadukan-mu pada polisi." ucapnya merasa takut.


__ADS_2