Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
26. Satu orang Zahira


__ADS_3

"Dia menyukaimu Radit." Ayu menatap tak suka dengan Radit putranya.


"Aku tidak tau mama, biarkan saja." Radit merapikan jasnya dan kembali duduk bersama Ayu.


"Jangan memberi harapan padanya, atau kau akan kehilangan Zahira." Ayu memperingatkan Radit.


"Tentu mama, bahkan seribu wanita sepertinya tak akan mampu menandingi satu Zahira di hati ku." Ucap Radit mendekatkan wajahnya pada Ayu, Radit kemudian beranjak meraih kunci mobil untuk menyusul Zahira.


"Merry!"


Radit begitu terkejut saat membuka pintu wanita yang memakai dress selutut itu masih berdiri terpaku, Merry tak menjawab, namun berlalu dengan lemas tanpa menoleh Radit.


Ada rasa tak enak hati, mungkin saja gadis itu mendengar ucapan Radit bersama Ayu. Namun Radit tak mau ambil pusing, lagi pula yang di katakan Radit memang benar, Zahira jauh lebih penting dari pada siapapun.


"Assalamualaikum sayang." Radit masuk ke dalam mobil sambil menelepon Zahira, tangannya sibuk menekan kunci mobil dan menyalakannya.


"Wa'alaikum salam Radit." Suara merdu itu membuat Radit tersenyum.


"Apa sudah sampai? Aku sudah akan menyusul mu." Radit mulai melaju dengan pelan.


"Aku baru saja sampai. Kau hati-hati di jalan, jangan mengebut." Ucap gadis di seberang sana begitu lembut.


"Iya sayang, aku mencintaimu." Jawab Radit dengan hati yang selalu berbunga-bunga.


"Assalamualaikum Radit sayang." Suaranya semakin menggemaskan.


"Wa'alaikum salam sayangku." Radit mengakhiri panggilan telepon dan kembali fokus melajukan mobilnya. Bibir merah itu tertarik melengkung lama belum kembali ke posisi awalnya. Sungguh hanya mendengar panggilan sayang dari Zahira membuatnya ingin segera sampai di tempat tujuan. Mata pria itu fokus ke depan melihat jalanan yang ramai kendaraan, tapi sungguh yang terbayang di matanya hanyalah wajah cantik yang sedang tersenyum manja, Zahira tersayang.

__ADS_1


*


Sementara di tempat lain, gadis yang sedang kecewa itu hanya diam tak bicara duduk bersandar di dalam mobilnya, hatinya kecewa kesal dan marah.


"Sayang mengapa wajahmu cemberut begitu?" Pak Anwar yang sedang menyetir meliriknya sedikit.


"Tidak papa, hanya sedang lelah saja." Jawabnya tersenyum hambar.


"Kita pulang saja kalau begitu, anak papa tidak boleh terlalu lelah, nanti cantiknya berkurang." Pak Anwar tertawa renyah.


"Iya papa." Jawab Merry singkat, mencoba untuk tersenyum namun hatinya sedang menangis. Gadis mana yang tidak bersedih jika begitu tak berharganya dia di hadapan seorang Radit, kata-kata yang keluar dari mulut pria itu sangat menyakitkan hatinya, yang tadinya ia begitu mengagumi dan berharap untuk memiliki, kini rasa itu sudah menjadi marah dan kecewa, tapi tentu saja rasa cinta itu tak bisa di singkirkan begitu saja. Cinta sepihak yang jatuh pada hati yang salah, hasilnya tentu akan membuat lelah, namun sedikit berharap bahwa Tuhan akan merubah kenyataan, mungkin saja bahagia bisa berpihak padanya.


Menjelang sore, Radit sudah tiba di halaman sebuah hotel yang tidak terlalu mewah,namun cukup nyaman untuk menginap. Radit segera masuk dan menuju kamar dimana Zahira berada.


"Radit!" Suara Zahira terdengar begitu bahagia memeluk dan mencium pipi suaminya yang baru saja datang.


"Sayang, dimana Kak Tina?" Radit menoleh ke seluruh ruangan.


"Ah, itu benar sekali. Aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan istriku ini sepanjang sore dan malam." Radit menggesekkan ujung hidungnya pada hidung mancung milik Zahira.


"Tidak boleh begitu." Wajah cantik itu merengut manja. " Aku juga harus bekerja." Tambahnya lagi.


"Proyeknya ada di sini kan, tidak memakan waktu terlalu lama." Radit merayunya sambil terus memeluk erat.


"Iya, tapi tetap harus ada jeda untuk mengerjakan bersama kak Tina, kasihan jika aku hanya mengandalkan dia saja." Jelas Zahira lagi.


"Baiklah sayang, sore ini sudah cukup untuk memberimu waktu. Malamnya aku tidak mau di ganggu." Ucap Radit mengalah, tentu saja setelah mengambil jatahnya terlebih dahulu. Rasa rindunya pada Zahira mengalahkan apapun, rasa egoisnya meningkat ketika sudah dekat dengan istrinya.

__ADS_1


Hingga setelah Ashar pasangan pengantin baru itu keluar dari kamar dengan wajah yang bercahaya dan bahagia. Tampak Zahira membawa laptop dan menuju kamar di sebelahnya.


"Assalamualaikum kak." Zahira mengetuk pintunya.


Tak lama pintunya terbuka, "Wa'alaikum salam nona Zahira." Wanita dewasa itu tersenyum ramah, dan kesan hormat tak ketinggalan di perlihatkannya.


"Kita bekerja di balkon saja sepertinya lebih santai." Zahira mengajaknya menuju balkon depan, suasana sore hari begitu membuat tempat itu indah dan menenangkan.


Dengan hamparan sawah yang menghijau di seberang jalan raya, cahaya matahari sore masih terang benderang. Lokasi pembangunan yang mereka kerjakan adalah bersebelahan dengan hotel yang mereka tempati saat ini.


Radit mengiringi kedua wanita berbeda usia itu, mungkin selisih lebih dari sepuluh tahun. Pria itu menikmati suasana sore yang indah itu, tentu yang lebih indah baginya adalah bersama Zahira. Hatinya tenang dan tarikan nafasnya begitu lega dengan nuansa hijau alami terbentang luas di sekitar Hotel itu.


"Kak Tina, apa kita harus membawa seluruh pekerja kita datang kemari?" Zahira bertanya pada Sekretaris yang sedang serius bekerja itu.


"Tidak perlu Nona, kita hanya akan mengerahkan tenaga ahli saja, misalkan kepala tukang saja, untuk pekerja lainnya mereka akan mencari di tempat ini, itu membuka lowongan kerja untuk pekerja bangunan di sini, jadi mereka juga kebagian rezeki." Jawab wanita cantik itu menampilkan gigi rapihnya.


"Ah benar juga, kita bisa berbagi pekerjaan pada mereka." Zahira begitu senang dengan saran yang di berikan sekretaris dewasa itu, sungguh David tak salah pilih, selain pintar tangguh juga memiliki hati yang baik.


"Besok pagi kita akan bertemu dengan pemilik hotel ini langsung, jika yang tadi hanya sekretarisnya." Tina menjelaskan.


"Berarti malam ini kita bisa istirahat." Ucapnya, Zahira masih fokus dengan laptopnya.


"Iya nona." Tina menjawab, dia melirik Radit yang matanya tak lepas dari Zahira.


Pria itu sadar sedang di lirik, namun ia tak peduli dan pura-pura tidak tahu. Sudah tentu Tina tak akan mengganggu, dia sudah tahu perihal pernikahan Zahira dan Radit, walaupun banyak diantara pegawai kantor mereka yang tidak tahu, tapi posisi sekretaris yang didudukinya saat ini membuatnya tau semua hal tentang Zahira.


"Sudah selesai, hanya tinggal bertemu pemilik aslinya, kita butuh persetujuan atas desain kita ini." Zahira mematikan laptop dan menutupnya.

__ADS_1


"Anda hebat, masih kuliah semester awal, tapi desain bangunan anda sudah melampaui senior." Tina memujinya.


"Ah itu hanya soal selera, aku menyukai bentuk-bentuk yang klasik tapi juga di padukan dengan modern." Jawabnya tak ingin terlarut dalam pujian yang tulus itu.


__ADS_2