
"Biarkan saja. Sebaiknya kita melihat keperluan bayi-bayi kita." Anggara mengajak Zahira menjauh dari dua orang yang Sedang berdiri kaku.
"By Jia!" Zahira tertawa mengernyitkan hidung menggoda bodyguardnya itu, tentu Jia hanya diam menunduk malu.
"Kau tahu, artinya pamanku mengizinkan aku mendekatimu Jia." ucap Akbar mensejajarkan posisinya di samping Jia.
Wanita itu masih saja menunduk dengan mengigit bibirnya, ia tidak tahu harus berkata apa. Mulut ingin menolak, tapi hati ingin mendekat.
"Juga, jika kau menjadi istriku. Dia akan mengizinkanmu untuk berhenti dan menikmati hidup bahagia bersamaku. Kau masih bisa berteman dengan Zahira, kau masih bisa menemaninya sebanyak yang kau mau." Akbar sedang berusaha membujuknya.
Ah, rasanya sulit sekali menelan ludah sendiri. Jia memejamkan mata sejenak.
"Aku menyukaimu sejak pertama bertemu." Akbar menjeda ucapannya. "Mungkinkah ini terlalu cepat untukmu, bahkan kita baru saja saling mengenal. Tapi aku sungguh berharap jika kau bisa menerima aku." Akbar tak 'kan menyerah.
"Aku akan memikirkannya, tapi untuk menikah ku rasa aku belum siap, ku harap kau mengerti. Alangkah baiknya jika semua itu berjalan dengan apa adanya, tidak memaksakan kehendak dan juga terburu-buru. Bukankah hal yang baik tidak di lakukan dengan terburu-buru?" Jia memberanikan diri menatap pria di sampingnya.
Akbar di buat sadar oleh ucapan Jia, ada benarnya jika tidak perlu terburu-buru melaksanakan sesuatu. "Semua laki-laki memang seperti itu, jika sudah jatuh cinta dan merasa cocok, maka ia akan sangat terburu-buru untuk memiliki. Itu sifat alami seorang lelaki." Akbar tersenyum.
Jia juga baru mengetahui jika laki-laki memiliki sikap yang terburu-buru. "Apa semua laki-laki seperti itu?" Jia menatap Anggara dan Zahira begitu mesra di tempat perlengkapan bayi.
"Tentu saja." Akbar tertawa, ikut memandang Dua orang yang selalu jatuh cinta di depan mereka. "Pamanku adalah orang yang paling sabar di dunia, dia mencintai satu wanita sepanjang hidupnya. Hingga wanita itu menikah dengan orang lain, dan memiliki anak."
Jia menoleh Akbar, penasaran dengan kisah Anggara.
"Kau tahu siapa anak dari wanita itu?" Akbar menatap wajah cantik Jia, lucu sekali melihatnya sudah tidak sabar mendengar kelanjutan cerita. "Dialah Zahira!" tunjuknya ke arah depan dimana Zahira berada.
Jia mengikuti telunjuk Akbar mengarah, antara percaya dan tidak percaya ia berpikir jika memang Anggara memperlakukan Zahira sangat istimewa. Selama bekerja dengan Bosnya itu, ia tidak pernah mendengar kedekatan Anggara dengan seorang wanita. Hanya ketika hadirnya Zahira, pria itu tampak jatuh berlutut takut kehilangan. Bahkan semua hartanya di alihkan atas nama Zahira. Rupa-rupanya memang hanya wanita itu yang dia inginkan untuk menjadi pendamping hidup, meskipun harus menunggu hingga tua. Jia tersenyum mengerti.
"Cintanya luar biasa." sambung Akbar lagi.
__ADS_1
"Benar." Jia ikut senang mendengarkan akhir cerita yang bahagia.
"Kita juga akan bahagia, seperti mereka." Akbar kembali merayu.
"Kalau begitu ikutlah bersabar seperti Tuan Anggara." jawab Jia berani.
"Aku tidak bisa sesabar itu! Tapi untuk mendapatkan cintamu aku akan mencoba." ucapnya senang.
"Satu lagi!" Jia melihat Akbar sekilas lalu membuang muka.
"Apa?
"Bersihkan bulu-bulu di wajahmu itu, aku tidak suka jika terlalu banyak." ucapnya melangkah mendahului Akbar yang sibuk mengelus wajahnya.
"Benar juga, mungkin sedikit pendek dan rapi bisa membuat Jia tidak tahan untuk segera ku nikahi." Akbar tersenyum geli.
"Sayang, apa sebaiknya USG dulu sebelum belanja? Atau kau bisa mengubungi mereka jika malas datang lagi kemari." Anggara menawarkan pilihan.
"Terserah kau saja." Anggara menyukai semua yang di lakukan istrinya, apalagi ketika sibuk dengan semua kepentingan bayi mereka.
"Aku rasa sudah cukup." Zahira berdiri dan memandangi apa saja yang sudah ia pilih bersama Anggara.
"Jika kurang kau tinggal katakan saja Sayang." Anggara menunjuk seorang pegawai laki-laki untuk mengemas semua barang Zahira.
"Dikirim ke rumah mana Pak?" sepertinya pegawai laki-laki itu sudah kenal lama dengan Anggara.
"Ke rumah pribadi ku." jawab Anggara.
Mereka keluar dari tempat itu, namun wajah cantik Zahira terlihat mendung.
__ADS_1
"Ada apa Sayang, apa ada yang kurang?" tanya Anggara khawatir.
"Kau punya banyak rumah tapi tidak memberi tahuku." jawabnya sambil merajuk, duduk di sebuah sofa yang sengaja tersedia di ruangan khusus milik Anggara.
"Oh, itu karena aku tak pernah tinggal di sana. Hanya sesekali dan sekedar melihat-lihat." jelasnya yakin. Anggara ikut duduk di sofa bersama Zahira.
"Aku takut sesekali itu kau malah datang untuk melihat seseorang yang bersembunyi di dalamnya." bibir merahnya semakin mengerucut.
Anggara tertawa. "Tidak ada Sayang, percayalah. Semua rumah itu sekarang ini milikmu, juga semuanya sudah milikmu. Aku hanya sedang bekerja untukmu dan anak-anak kita. Kau bebas melakukan apa saja termasuk jika aku menyakitimu, kau bisa menendangku dari rumahku sendiri." jelasnya terdengar seperti merayu.
"Apa aku sehebat itu?" Zahira tak percaya jika Anggara sudah memberikan semua padanya.
"Benar, kau kaya raya sekarang. Maka dari itu aku mohon jangan macam-macam, aku tidak bisa kehilanganmu. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, aku hanya memiliki kau dan anak-anak kita. Dan tolong jangan buat aku jadi gelandangan." ucapnya memohon.
"Itu tidak mungkin, aku tidak mau mengurus mereka sendirian. Aku tidak mau anakku menjadi seperti aku, tidak punya ayah, dan tidak punya ibu." Zahira mengelus perut besarnya.
"Itu tidak akan terjadi Sayang, jika tak ada aku maka masih ada kau yang akan menjaga mereka." Anggara menatap sedih jika sudah membahas hal seperti itu, jujur saja ia jadi cemas.
"Temani aku, berjanjilah untuk selalu menemani aku." Zahira menatap wajah tampan Anggara dengan sendu.
"Iya Sayang, aku akan berdiri di sampingmu semampuku. Jika boleh jujur, rugi sekali aku harus meninggal lebih dulu. Istriku terlalu cantik untuk di tinggal sendiri, sudah pasti akan ada banyak pria mengincar dirimu nanti. Terutama saudaramu itu, dia akan mengejarmu sampai dapat." Anggara tersenyum, namun hatinya tak rela.
"Radit?" tanya Zahira.
"Siapa lagi, bahkan sekarang dia ingin mengambilmu dariku. Mengingat dirinya membuat aku jadi kusut." Anggara memeluk Zahira dan menghirup wangi keringatnya.
"Tapi, semalam aku bermimpi Radit sedang terjebak di ruangan gelap." Zahira tampak berpikir.
Anggara juga menatap wajah istrinya, ia melihat ada kekhwatiran di sana.
__ADS_1
"Apa dia sedang tidak baik-baik saja?" tanya Zahira pada suaminya, walau takut Anggara marah, tapi ia berkata jujur.
"Entahlah Sayang, nanti aku akan mencari tahu." jawabnya memaksa untuk tidak cemburu.