
Radit kembali berpikir dengan semua yang sudah terjadi, posisi yang serba sulit untuknya, maju salah mundur salah. Bagaikan buah simalakama, pilihannya sungguh membuat sengsara.
"Baiklah. Kita menikah tapi tidak di sini, kita menikah di luar kota dan hanya ada dua saksi. Katakan pada orang tuamu sejelas-jelasnya, aku tidak mau menjelaskan apapun termasuk perihal orang tuaku sudah pasti mereka akan membuangku juga dirimu, Papa tak akan peduli dengan apapun termasuk keluargamu. Dan tidak ada tuntutan apapun karena aku hanya menikahimu bukan menjadikanmu istriku." Radit beranjak pergi meninggalkan tempat itu, suasana di meja itu semakin panas ia rasa menahan emosi namun tak berdaya.
Radit menatap lurus ke depan tanpa menunjukan ekspresi apapun, tidak marah-marah seperti biasa tidak juga sedih atau gembira. Berusaha tegar dan berharap masalah ini selesai tanpa ada satu orangpun yang tahu.
Satu Minggu libur semester telah berlalu, hari Minggu Radit sudah berpamitan dengan Zahira yang sengaja ia tinggalkan di rumah orangtuanya dengan alasan akan menemui temannya di luar kota untuk memulai bisnis kecil-kecilan.
"Radit." panggil Zahira saat Radit akan melangkah keluar dari kamarnya, gadis itu memeluknya erat sekali seakan enggan melepaskannya.
"Ada apa sayang, aku janji tak akan lama." Radit membujuk istri kesayangan.
"Aku ingin kau tetap di rumah saja bersamaku." rengekan Zahira membuat Radit duduk kembali.
Hati pria itu bergejolak sungguh ia tidak tega meninggalkan istrinya, apalagi kepergiannya untuk menikah lagi. Namun dengan segenap kekuatan yang tersisa Radit berusaha tersenyum, memeluknya dan menggodanya.
"Apa masih mau lagi?" ucapnya setengah berbisik mengecup pipi dan bibirnya.
Zahira hanya pasrah hingga akhirnya Radit menunda kepergiannya untuk membuat istri cantiknya tidak merengek. Selesai membuat gadis itu lelah dan menutupi tubuh moleknya dengan selimut. "Tidurlah sayang, kau pasti lelah." ucap Radit dan mengecup keningnya.
Memakai kembali pakaiannya dan berlalu pergi dengan hati tak karuan, tak pernah menyangka hidupnya akan sangat kacau seperti hari ini, jadi penipu, pembohong besar, perayu! Ah, lengkap sudah semua itu melekat pada dirinya, lebih tepatnya sebagai pria brengsek.
Pukul 15:00 Radit tiba di sebuah Vila kota B dengan mobil taksi yang di pesannya. Baru saja ia turun di Vila sudah tampak beberapa orang diluar sedang menunggu kedatangannya. Salah satunya ayah Merry yang merupakan rekan bisnisnya.
Radit turun dengan berani, mendekati pria paruh baya itu hingga berhadapan. Lama mereka saling pandang dengan pemikiran masing-masing hingga akhirnya pria itu membuka suara.
__ADS_1
"Maaf untuk kelakuan putriku." ucapnya pendek.
Sedikit lega hati Radit karena Merry benar-benar jujur sehingga Radit tak perlu menjelaskan apapun. "Aku harap anda juga mengerti, aku sudah punya istri dan orang tuaku tidak akan menerima putri anda. Jadi ku harap anda bisa memahami keadaan ini, aku juga tidak bisa menjadikan putri anda sebagi istri sesungguhnya. Aku datang kemari hanya sebagai bentuk tanggung jawab tidak lebih dari itu." ucap Radit tegas sekali.
"Aku tahu." jawab pria itu pelan.
Akad nikah siri itu di mulai, dengan beberapa kali Radit harus mengulang dan mengulang ijab Kabulnya hingga akhirnya, sah!
Radit dan Merry sudah resmi menjadi suami istri, senyum bahagia terukir sempurna di bibir merah gadis itu, berbeda dengan Radit, wajahnya tampak begitu kesal, hatinya sangat menyesal. Hari ini pria muda berusia 18 tahun itu memiliki istri dua, sama-sama muda sama-sama cantik sama-sama kaya, sama-sama anak tunggal, sama-sama anak pengusaha. Harusnya ini adalah hal yang sangat indah, dan mau tidak mau Radit yang tampan sudah memiliki label beristri dua.
"Tolong tinggallah sebentar, mungkin kau perlu istirahat." ayah Merry berucap penuh harap.
"Baiklah." jawab Radit tak menolak, karena sungguh perjalanan berjam-jam membuat ia sangat lelah. Suasana di ketinggian itu begitu sejuk hingga tanpa terasa Radit tertidur pulas, cukup lama hingga saat ia bangun suasana di Vila itu sudah sepi
Radit mengepalkan tangannya meninju di udara bebas, melihat ke kiri dan kanan tak ada orang selain dia di sana, sengaja memilih tempat yang paling sepi agar tidak di ketahui siapapun tapi malah jadi masalah untuk dirinya sendiri.
Dengan rasa kesal Radit kembali masuk dan mencari ponselnya, tak ada jaringan! oh sial sekali hari ini. Radit kembali menghempaskan tubuh kekarnya di sofa empuk itu.
Lama berada di ruangan itu membuatnya bosan, mencoba berdamai dengan diri sendiri dan melihat di sekeliling Vila berukuran kecil itu.
"Radit." suara itu membuat ia terkejut.
"Mengapa kau masih di sini?" Radit malah tak suka melihat gadis itu ada di sana, tampak wajah kusut seperti bangun tidur.
"Aku istrimu, tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di sini." ucapnya lembut.
__ADS_1
"Jangan membuatku marah." ucapnya dingin.
"Itu kenyataan Radit, ada anakmu di dalam perutku." jawabnya memelas.
Radit mendekat, menatap wajah itu tak lagi penuh ambisi namun kali ini terlihat sedih. Tapi lagi-lagi ia tak peduli, berlalu meninggalkan Merry sendirian.
Malam semakin larut Zahira di sana menanti dengan cemas, tak ada kabar dari Radit membuatnya tak bisa tenang.
"Sayang apa Radit tidak pulang?" Ayu datang ke kamar Zahira dengan membawa makanan, dia tahu sekali Zahira bahkan belum makan malam.
"Belum Mama, perasaanku tidak tenang." Zahira memegang dadanya.
"Mungkin hanya sedang kehabisan baterai sayang, nanti kita hubungi lagi dan kau juga harus makan." Ayu merayu menantu sekaligus putri kesayangannya.
"Mama!" panggilnya tiba-tiba setelah duduk di samping Ayu.
"Iya?" Ayu menoleh, tangannya mulai menyendok di piring makanan, sudah pasti akan menyuapi Zahira.
"Aku merasa Radit berubah akhir-akhir ini." ucapnya lagi, wajah cantik itu terlihat cemas.
"Berubah? Bagaimana bisa berubah sayang? Dia sangat tergila-gila padamu!" Ayu melepaskan sendok yang dipegangnya, menatap wajah gadis itu dengan serius.
"Entahlah Mama, tapi perasaanku mengatakan ada yang dia sembunyikan Radit dariku, walaupun aku tidak tau apa." Zahira menatap wajah Ayu dengan sendu.
Ayu mulai merasa cemas, tentu seorang istri sangat tau suaminya seperti apa, Ayu tak heran dengan perasaan Zahira karena dia juga seorang wanita. Tapi apa? Ayu tampak berpikir keras, jujur saja dia takut sesuatu terjadi di luar sana. Dan lagi, Radit tak pernah berniat membuka bisnis baru apalagi sampai ke luar di kota.
__ADS_1