Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
288. Kami akan kembali bersama


__ADS_3

Detik jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya.


Zahira terpaku dengan kata-kata yang sama persis seperti saat dulu Radit melamarnya. Tidak ada yang berbeda walau hanya satu kata saja.


"Aku ingin menangis."ucap Zahira seperti sedang bercanda.


Tapi kemudian meneteskan air mata dan mulai terisak, dia ingat saat itu begitu romantis, penuh haru hingga meneteskan air mata pula.


Tak hanya itu, tapi ijab-kabul yang diucapkan Radit mendadak terdengar lantang di telinga.


Zahira semakin menangis hingga lemas lututnya tak mampu berdiri, sungguh indah masa-masa itu terlewati, sungguh bahagia ketika menjadi istri Raditya, sungguh dia menjadi seorang putri yang manja di tengah-tengah keluarga yang selalu menyayanginya.


Hingga kesedihan itu datang menghapus semuanya.


Tak disangka, di tengah pergolakan yang cukup panjang ini, masih tersisa rasa yang mengoyak hatinya ketika mengingat masa bahagia.


Tak pernah merasa jika di satu sisi terdalam masih ada kenangan yang tersimpan rapi dan tidak pernah di sadari.


Ternyata, cintanya tidak mati, hanya sedang bersembunyi di dasar hati.


Tangisnya benar-benar tak bisa berhenti.


"Aku ingin kita kembali bersama." ucap Radit pelan, suaranya terdengar sedang menahan sesuatu.


Beberapa tetes air mata membasahi pipi Raditya, dada bidangnya terlihat sesak dengan matanya tak henti menatap Zahira yang menangis bersimpuh di lantai.


Tak habis air mata yang sudah tertahan sejak lama, keduanya larut dalam kesedihan yang sulit di jelaskan.


Beberapa saat berlalu.


Tersisa isakan halus dari Zahira yang kini meringkuk dan memeluk lututnya menyandar di tiang ranjang.


Radit kembali mendekat setelah tangisnya juga mereda, duduk sejajar tepat di hadapan Zahira, menghapus air mata yang tersisa.


"Ini adalah tangisan terakhir untuk semua yang terjadi."


Sedikit mengelus hidung mancung Zahira yang sudah memerah dengan punggung jarinya.


"Aku berjanji akan menjagamu juga anak-anak dengan lebih baik lagi. Aku sudah dewasa bukan? Tidak lagi menjadi Radit yang egois seperti kata suamimu."

__ADS_1


Zahira menarik nafas dan menatap Radit, matanya tampak sedikit bengkak dengan bulu mata yang basah, tapi tak mengurangi keindahannya.


"Apakah aku diterima?" tanya Radit sengaja lebih dekat, menyelami bening mata Zahira.


"Apakah harus di jawab setelah aku lebih dulu meminta kembali menjadi istrimu?" memilih menunduk, dadanya masih terlihat naik turun beberapa kali menahan sisa tangis walau air matanya sudah tak jatuh lagi.


"Tetap saja harus di jawab. Kau seorang wanita yang lebih layak di lamar, bukan menyatakan perasaan terlebih dahulu, itu mengurangi keistimewaan mu. Laki-laki yang bersungguh-sungguh akan selalu berusaha untuk mendapatkan wanita yang sudah mengisi hatinya."


"Bagaimana kalau dia tidak berusaha, dan hanya menunggu orang yang dicintainya." tanya Zahira.


"Artinya dia tidak secinta itu." Radit menyukai mulut mungil Zahira yang selalu banyak tanya.


"Keluarlah, aku lelah." Zahira beranjak dari duduknya.


Radit meraih tangan Zahira dan membantunya berdiri, tapi tak juga melepaskannya. "Aku akan berbicara kepada Papa dan Mama, bahwa aku ingin menikahi mu."


"Sulit ku bayangkan bagaimana wajah Papa dan Mama saat mendengarnya."


"Mereka akan sangat bahagia, kita akan selalu bersama tanpa terpisah oleh apapun." ucap Radit masih menggenggam tangan Zahira.


"Aku malu." sedikit tertawa, Zahira sedang membayangkan bagaimana besok pagi.


"Ide yang bagus." jawab Zahira menanggapi usul yang menjadi kebiasaan Zahira saat tidur di rumah itu.


"Tidurlah, aku akan menemui Mama." Radit mengusap kepala Zahira sejenak.


Zahira hanya mengangguk, membiarkan Radit keluar dari kamar itu.


Berjalan dengan senyum tak henti mengembang, Radit menuruni anak tangga dengan sedikit terburu-buru, ingin segera menyampaikan kabar baik itu kepada David dan Ayu.


"Mama!" panggil Radit kepada Ayu yang memang belum tidur.


"Kau belum tidur?" Ayu melihat jam dinding menunjukkan pukul 22:40.


"Belum. Dimana Papa?" tanya Radit menoleh kamar orangtuanya.


"Papamu sedang berada di kamar anak-anak, tadi Satria mengigau, Sadewa juga ikut gelisah dan menyahuti kata-kata Satria." Ayu terkekeh geli dengan ulah anak kembar tersebut.


"Bahkan di dalam mimpi mereka selalu bersama." Radit ikut terkekeh.

__ADS_1


"Mama sangat menyukainya, terlepas dari kehebohan yang terkadang membuat jantungan, mereka adalah anak yang penurut dan menggemaskan."


"Itu juga yang ingin aku bicarakan kepada Mama dan Papa." Radit sedikit mengatur posisi duduknya.


"Bicara apa? Jangan membuat Mama menebak-nebak." Ayu melepaskan buku yang sedang di baca dan di bolak-balik sejak tadi.


"Aku akan menikahi Zahira." ucap Radit membuat Ayu menautkan alisnya.


"Jangan terburu-buru, Mama tidak mau kalian kembali bersitegang, saling berdebat dan bertengkar. Mama dan Papa sudah tua, lelah rasanya jika harus menyaksikan kalian tak pernah akur."


"Aku tidak perlu menunggu Mama. Baru saja kami bicara dan kami sudah sepakat untuk kembali menikah." jelas Radit.


"Siapa yang menikah?" David baru saja keluar dari kamar anak-anak merasa penasaran dengan obrolan serius istri dan putranya.


"Kau tidak sedang mengigau?" Ayu menatap putranya dengan tak percaya.


"Aku bukan Satria yang jika lelah bermain akan mengigau di jam 10 malam! Bahkan aku belum tidur." Radit menghembus nafas dan menyandar di kursinya.


"Apa yang kalian bicarakan?" David merangkul bahu Ayu yang tampak serius menatap putranya.


"Aku akan menikah dengan Zahira, putri Papa." Radit mengulang ucapannya, kali ini lebih jelas.


"Entahlah, Papa rasa kau perlu berjuang lebih keras." David menjawabnya dengan santai.


"Astaga Papa!" Radit mengusap wajahnya, kesal sekali rasanya mendengar jawaban dari mereka yang sangat tidak percaya.


"Aku serius Papa, baru saja kami membicarakan untuk kembali bersama. Bahkan Zahira memintaku lebih dulu." Radit tersenyum senang.


"Bukan tidak percaya, hanya Mama merasa_" Ayu sedikit bingung.


"Aku tidak bercanda, juga tidak sedang mengigau. Kami ingin kembali bersama, seperti yang Papa dan Mama inginkan." jelas Radit lagi.


"Benarkah?" David tersenyum lebar, mata hitam pekatnya menatap anak tangga hingga ke lantai dua. Dia sempat khawatir jika suatu saat akan ada wanita lain yang akan mengisi kamar di atas sana. Sampai berdoa di setiap malam, meminta agar kedua anak mereka bisa kembali bersama. Dan sekarang doanya sudah di kabulkan.


"Mama masih belum percaya." ucap Ayu dengan mata berkaca-kaca.


"Mama harus percaya dan kami akan segera menikah." ucap Radit tersenyum, membiarkan kedua orang tuanya terharu, mereka layak bahagia di usia yang sudah lelah dengan kerumitan dunia ini.


"Apakah itu alasan Zahira ingin kembali?" tanya Ayu dengan air mata yang mengalir sendiri.

__ADS_1


"Yang pasti karena aku menginginkannya Ma, aku tidak bisa mencintai wanita yang lainnya selain Zahira."


__ADS_2