Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
202. Perjuangkan selama masih mampu


__ADS_3

"Aku mohon Papa! Jangan membenci Radit, aku hanya ingin Radit menjadi suamiku, hanya dia orang yang aku cintai di dunia ini selain Papa!" Merry benar-benar memohon kali ini.


"Papa tidak melarang, hanya Papa merasa dia tidak sedang menginginkan sesuatu sehingga dia mendekati dirimu. Papa tidak mau kau terkena masalah!" jawab Anwar meyakinkan Merry.


"Tapi Pa! Bukankah Papa sudah melihat seperti apa Radit saat bersamaku?" Merry tetap bersikeras dengan keyakinannya.


"Merry! Jawab aku dengan jujur. Apakah benar yang dikatakan istri Anggara, bahwa kau adalah pelaku penembakan Anggara?" tanya Anwar tegas.


"Tidak Papa! Papa tahu sendiri jika senjata yang di gunakan adalah senjata yang pernah di beli Daniel. Aku tidak mengerti dengan senjata seperti itu!" jawab Merry meyakinkan ayahnya.


"Tapi senjata itu hilang! Dan hanya orang terdekatnya saja yang bisa masuk ke kamar Daniel, dan aku yakin itu adalah dirimu." Anwar menarik nafas, di usianya yang sudah hampir kepala Enam malah masih harus selalu menghawatirkan Merry.


"Aku tidak sedekat itu Papa!" jawab Merry membantah.


"Tapi Daniel tidak mungkin mengajakmu tinggal bersama jika tidak ada apa-apa! Bahkan dia membebaskan mu lebih cepat dari perjanjian kami." Anwar terus menekan Merry agar putrinya mengaku.


"Tidak ada Papa! Dia hanya sedang menemukan rekan yang lumayan berpengaruh, sehingga bisa cepat membebaskan aku." jawab Merry terus meyakinkan Anwar.


"Lalu, bagaimana bisa istri Anggara mengatakan jika kau adalah pelaku penembakan suaminya?" Anwar masih tak menyerah.


"Mungkin dia sudah gila karena kehilangan pria kaya itu." Merry tersenyum sinis.


"Itu sulit di percaya. Lagi pula semua hartanya jatuh pada Zahira, untuk apa dia menjadi gila?" Anwar masih belum berhenti.


"Bisa saja, terlanjur nyaman mungkin. Ah sudahlah, aku harus pergi." Merry berlalu meninggalkan Anwar yang belum menyerah menanyainya.


"Merry! Papa masih perlu bicara!"


Tapi Merry tak mendengar, wanita muda itu memilih berlalu meninggalkan sang Ayah. Dia sedang jatuh cinta, apapun yang dikatakan Anwar tentu bukanlah penting baginya. Ya, hanya Radit saja.


Lama tak terdengar kabar, seperti sengaja mengasingkan diri kini David memilih fokus mengurus perusahaan Zahira saja, tak mengikuti pertemuan, rapat dan acara-acara lainnya. Di usianya yang lima puluhan ini David tak lagi berambisi dengan banyaknya rekan bisnis, atau kerja sama yang besar, dia memilih fokus dengan proyek-proyek terdekat saja. Apalagi semenjak meninggalnya Anggara, David merasa sendiri, temannya bahkan sudah meninggal lebih dulu, dan selanjutnya dia tidak tahu, boleh dikatakan dia sedang menunggu giliran.


"Assalamualaikum Papa!" suara Radit terdengar memenuhi ruangan David yang sepi.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam anak Papa!" David menyambut kedatangan Radit yang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.


"Papa melamun." Radit duduk bersebelahan dengan David, Dua pria tampan itu dulunya kesayangan Zahira.


"Hanya sedang memikirkan bagaimana hidup ini berjalan begitu cepat. Tadinya Papa masih muda, menikah dengan Mamamu, lalu memiliki kau juga Zahira, tapi sekarang Papa merasa sudah sangat tua. 25 tahun yang lalu Aldo dan Reva meninggalkan kami, dan sekarang Anggara juga sudah pergi." jawab David menatap langit-langit ruangan pribadinya.


"Mungkin sudah waktunya Papa!" Radit hanya bisa menjawab demikian.


"Ya." David menarik nafas sangat dalam.


"Aku datang juga karena masalah penembakan Om Anggara." ungkap Radit setelah berdiam sejenak.


David mengernyitkan keningnya. "Apa Polisi sudah menemukan buktinya?" tanya David dengan wajah serius.


"Belum. Dan aku juga sudah mencarinya di rumah Merry, tapi tak menemukan apa-apa." Radit menatap serius.


"Kapan kau ke sana? Jangan bermain-main dengan anak Anwar itu lagi, kau sudah pernah merasakan betapa liciknya wanita itu." David memperingati Radit.


"Aku tahu Papa, maka dari itu aku segera datang kesini untuk bertemu Papa, sudah tidak tahan jika harus menunggu di rumah." Radit duduk menghadap ayahnya.


"Ini masalah CCTV Papa! Om Ricky mengatakan jika dulu Papa dan ayahnya Zahira adalah peretas hebat." Radit menatap ayahnya penuh tanya.


"Ya, sebenarnya yang hebat itu Aldo, bukan Papa." jawab David membenarkan.


"Tapi aku benar-benar butuh bantuan Papa, aku ingin tahu dimana Merry menyimpan senjata Daniel itu. Aku tidak mau berjauhan terus menerus dengan anak-anak, aku ingin sekali menemui mereka, tapi tidak ku lakukan dan harus ku tahan sebelum Merry benar-benar tertangkap." ungkapan Radit dengan wajah sendu.


"Ku rasa kau tidak hanya merindukan anak-anak, tapi ingin mendekati ibunya." David tersenyum mengejek, dia tahu betul apa yang dimaksud putranya, hanya tak mau jujur.


"Yang itu sudah sudah pasti, tapi setelah anak-anak." jawab Radit mengakui, namun masih terkesan mengelak.


David tertawa kecil, dia sudah sangat berpengalaman tentang semua itu, mana mungkin bisa di bohongi.


"Aku ingin Papa membantu, agar semuanya cepat selesai." pinta Radit lagi.

__ADS_1


"Sebenarnya aku sudah pernah mencobanya, tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh rekan dalam bidang yang sama." ungkapnya, dia terlihat sedang berpikir.


"Siapa?" Radit tampak berpikir keras.


"Aku akan menghubungi Ricko, tapi saat ini asisten Anggara itu sedang berada diluar negeri." ucap David menyerah dengan ucapannya sendiri.


"Om Ricky bilang Aku harus meminta bantuan Papa. Dia akan mengacaukan Anwar, aku tetap di posisi sebagai kekasih Merry, dan Reza Mahendra akan mulai menakut-nakuti Merry." Radit menceritakan rencana Ricky.


"Reza Mahendra?" tanya David mengerutkan keningnya.


"Ya!" jawab Radit sedikit tak suka menyebut nama saingan barunya.


"Dia bisa! Aku akan mengatur pertemuan dengannya." David meraih ponsel menghubungi pengusaha Tiga puluh tahunan itu.


"Mengapa harus dia?" Radit kembali memasang wajah malas.


"Karena dia pernah melakukannya, lagi pula kepalang dia sudah terlibat dalam rencana kalian."


"Bukan rencana ku tapi Om Ricky! Dan aku tidak suka dengan Reza yang pemain wanita itu, dia sedang menyukai Zahira saat ini!" ungkap Radit masih dengan wajah kesal.


"Kalau kau tidak suka, kau harus belajar tentang banyak hal, jadi saat Zahira butuh tidak perlu meminta orang lain untuk melakukannya. Seperti Anggara!" David mulai memanas-manasi putranya.


"Aku akan belajar, Papa harus mengajariku sekarang juga." Radit kesal namun ia tak punya pilihan.


"Kau tidak bekerja?" David masih tak beranjak.


"Tidak, aku akan mogok kerja." jawabnya tak peduli, Radit meraih laptop ayahnya.


"Laptopnya ada di ruangan Direktur." David mengajak Radit keruangan orang tua Zahira.


"Aku akan lakukan apa saja untuk mendapatkan istriku kembali." gumamnya pelan dengan mata menatap tajam kearah layar.


"Tentu saja, perjuangkan selama kau mampu. Bawa putriku pulang beserta cucu-cucuku." David memberi semangat.

__ADS_1


Radit terkejut dengan jawaban ayahnya, ia tidak menyangka ucapan yang sangat pelan itu masih dapat di dengar David.


__ADS_2