Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
Perhatian Dua pria


__ADS_3

Pintu ruang rawat itu terbuka, tampak seorang wanita menyandar lemas dengan kedua putra tampan mengapit dan memeluknya. Meski pucat dan tanpa riasan dia tetap terlihat cantik sekali. Tak hanya satu, dua atau tiga, tapi sudah banyak sekali wanita yang dekat dengan seorang Reza Mahendra, tapi entah mengapa ketika melihat Zahira hatinya memiliki getaran yang berbeda, rasa yang luar biasa dan rindu yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Reza melangkah mendekati ketiga orang yang saat ini mulai mengisi hatinya.


Sudut mata bening Zahira menangkap bayang laki-laki mendekat, tentu saja dia tahu jika itu adalah Reza Mahendra. Enggan menatap, malu dan bersalah mengingat kejadian di rumah beberapa saat yang lalu. Padahal dari beberapa waktu sebelumnya Zahira mengetahui jika Reza akan membuat Merry takut dengan cara melihat Anggara, harusnya dia tak terkejut. Tapi entahlah, rindu yang keterlaluan itu sering tak terkendali, bahkan rasanya ingin mati agar bebas dari sakitnya merindu tapi tak bisa bertemu.


"Maaf!" ucapan itu serentak keluar dari bibir keduanya, setelah saling terdiam malah satu kata semakin membuat serba salah.


"Ma-maksudku! Aku tidak bermaksud membuatmu-"


"Tidak apa-apa, aku yang salah sudah terbawa suasana dan tidak mampu mengendalikan diri. Aku sangat merindukan suamiku." tetap tak berani melihat wajah Reza.


"Aku mengerti." Reza tidak tahu bagaimana mencairkan suasana, mendadak tangan dan kakinya menjadi dingin dan kaku.


"Paman lebih keren seperti ini, aku menyukainya." Satria menarik jas Anggara yang masih melekat erat di tubuh gagah Reza, sehingga Reza lebih mendekat.


"Paman hanya pinjam sementara." jawab Reza semakin salah tingkah.


"Tadi aku memeluk Paman, rasanya seperti memeluk Ayah." Sadewa tak ketinggalan menyahut. Dia tidak mengerti jika ucapannya membuat Zahira kembali mengingat kesalahannya memeluk Reza.


"Apa sekarang mau di peluk lagi?" Reza sedang mendapat celah, sudut matanya mencuri pandang pada wajah yang pucat namun terlihat malu.


"Apa boleh?" tanya Satria dengan wajah polos.


Tanpa menjawab Reza memeluk keduanya, tubuh tinggi itu membungkuk di ranjang rumah sakit dengan Dua anak laki-laki memeluknya erat. Mata hitam pekat milik Reza menatap wajah cantik yang tak begitu jauh jarak darinya. Senyum tipis dan tulus menghias seakan sedang mengisyaratkan bahwa dia tak keberatan, dia juga menyukai dan merasakan kasih sayang yang sama, tentunya menyalurkan perasaan lewat kedua anaknya, cinta untuk ibunya.


Sempat terpaku dengan pemandangan yang sudah beberapa bulan tak dapat di lihat lagi, kini kedua anaknya begitu menikmati dekapan laki-laki asing yang mendadak dekat. Rasanya sakit sekali,....


Walau ada bahagia mereka punya tempat untuk menyalurkan kerinduan, tapi entah, rasanya hati Zahira menjadi tak karuan. Laki-laki tiga puluhan itu menatap lekat dengan sorot mata tulus, tentu saja ada cinta ikut serta di sana. Membuat Zahira takut, cintanya kepada Anggara tak boleh berkurang, tidak boleh tergantikan. Zahira menunduk membiarkan laki-laki asing itu menyaksikan betapa wajah itu masih menjaga cinta untuk Anggara.


Sesekali mata mereka kembali beradu, tentu saja karena Reza tak pernah melepaskan kesempatan untuk memandang wajah Zahira, dan untuk berlari Zahira tak akan mampu. Ingin sekali rasanya mengungkapkan rasa, mengajaknya segera menikah. Ya, untuk pertama kalinya Reza ingin sekali menikah dan memiliki semuanya, semuanya termasuk putra-putra jenius kesayangan Anggara. Begitu bangga mungkin ketika suatu saat nanti memiliki mereka. Entahlah, bayangan masa depan itu sudah terlalu jauh.


"Paman!" panggil Sadewa masih tak melepas pelukannya.

__ADS_1


"Hem!" Reza menyahut namun mata tetap menatap ke depan.


"Terimakasih." sambung Satria setelahnya.


Reza segera melanggengkan pelukan keduanya, menatap wajah tampan itu bergantian. "Kalian benar-benar tidak akan bisa dipisahkan." ucap Reza memahami bagaimana ikatan jiwa mereka.


"Ya, kami memang tidak boleh berpisah." jawab Satria dengan ketajaman mata yang amat di sukai Reza.


"Kalau begitu jaga ibumu, jangan kemana-mana. Paman harus menyelesaikan tugas untuk menjadi pahlawan seperti ayahmu." ucapnya kembali melirik Zahira.


"Apa aku boleh ikut?" Satria akan tertarik dengan kegiatan yang penuh tantangan.


"Tidak, tugasmu menjaga ibu. Setelah selesai Paman akan segera kembali." janji Reza.


"Baiklah." Kembar yang sangat penurut.


"Aku pergi dulu, ini sudah habis Maghrib. Walaupun terlambat tapi aku tetap mencoba sore ini." Reza tersenyum sedikit.


"Tidak masalah." kembali tersenyum tulus, pria itu kemudian berlalu.


Tapi tak selang berapa lama kemudian Radit masuk dengan bag paper di tangannya. Pria itu mendekati Zahira tanpa tersenyum, langkah pelannya mengisyaratkan dia tidak sedang bahagia.


"Ini untukmu, kau pasti tidak membawa pakaian ganti." ucapnya datar.


"Harusnya tidak perlu." jawab Zahira juga tidak tersenyum bahkan tak mau bertatap muka.


"Jika kau tidak suka buang saja." ucapnya kemudian berbalik keluar dari ruangan itu.


"Paman!" Sadewa turun dari ranjang dan mengejar Radit.


"Ada apa Sayang?" tanya Radit tanpa menoleh ibunya.

__ADS_1


"Paman di sini saja, kami tidak punya teman." Sadewa meraih tangan Radit.


"Kita main di luar saja, sekalian membeli makanan?" Radit sedikit menunduk.


"Tapi aku harus menjaga Ibu." ucapnya sedih.


Radit menarik nafas, tentu rasa cemburu dan kecewa masih bersarang di dalam dada, tapi tak adil jika sampai menjauhi anak-anak. Lagi pula mumpung sekarang Reza sedang mengurus Merry, bukankah ini kesempatan?


"Baiklah, Paman akan menemani kalian." Radit berubah pikiran, yang tadinya ingin merajuk, tapi tidak tahan dengan kesempatan yang tidak mungkin datang dua kali.


"Kita menonton cerita di ponsel paman." Radit mendekatkan kursi dengan kedua anak itu duduk di ranjang di samping Zahira.


"Lebih baik menonton sains alam semesta saja." Sadewa memilih. Tentu mereka anak-anak yang berbeda, bukan hanya hiburan yang mereka tahu, tapi seperti haus akan pengetahuan.


"Baiklah."


Lama terlibat keseruan bersama Dua jagoan itu, sesekali mata sipitnya melirik wanita yang tak juga angkat bicara. Namun sekali ini mata mereka beradu.


Zahira segera membuang pandangan, tak mau melihat Radit, walau di sudut ruangan ada Jia tetap saja dia merasa tidak nyaman.


"Kau masih lemas?" tanya Radit pelan, pada akhirnya dia tidak bisa bertahan dengan wajah yang selalu memanggil untuk di dekati.


"Tidak." jawab Zahira singkat, enggan berbicara kepada Radit.


"Mau makan sesuatu? Aku akan carikan untukmu." Radit ingat jika saat ini Zahira sedang hamil muda.


Zahira menggeleng, kali ini tatapannya tak lagi terlalu benci, tapi menunduk melihat selimut dalam genggaman jarinya.


"Ada jeruk juga di dalam sana." Radit menunjuk bag paper, tapi kemudian meraih dan mengambil jeruk yang di maksudnya. Jari-jari pria tampan itu tampak mahir mengupas buah.


"Makanlah." Radit mengulurkan tangan dengan satu siung jeruk di ujung dua jarinya.

__ADS_1


__ADS_2