
Reza tersudut di pintu apartemen miliknya, satu tangannya mulai menekan password dan pintunya terbuka. Membiarkan wanita itu memandangi dirinya penuh amarah. Namun kemudian gadis itu meninggalkannya dengan langkah cepat, sepertinya ia benar-benar tidak mengharapkan apapun.
Reza menutup kembali pintu apartemennya, menuju ranjang yang berantakan karena kegiatan tak sengaja bersama wanita cantik tapi aneh semalam. Reza meraih selimut yang menutupi sebagian ranjang tersebut, memastikan sesuatu yang baru saja dikatakan gadis yang memarahinya.
"Sial!" Reza membuang selimutnya di lantai, juga mengacak-acak rambutnya dengan kesal setelah melihat bercak merah menodai seprei ranjang berwarna putih tersebut.
Teringat saat dulu saat ia masih sering melakukan hal seperti itu pada banyak wanita, model dan artis-artis muda, semuanya sudah tidak memiliki bercak merah. Sampai pernah ia berucap dengan asisten pribadinya, 'Jika aku menemukan gadis yang masih peraw*an maka aku akan langsung menikahinya."
Dan mengapa itu terjadi setelah ia begitu menginginkan menikah dengan Zahira. Seketika keringat dingin dan gelisah menyerbu tubuh gagahnya, rasa bersalah dan berdosa keduanya menyatu menyerang otak dan hatinya. Lagi-lagi ia hanya bisa bergumam pelan. "Zahira."
Sementara di Indonesia, Zahira sedang berada di kantor bersama dengan beberapa asisten yang bertugas mengontrol lajunya perusahaan, mereka sengaja menghadap Ricky untuk menyampaikan laporan keuangan dari beberapa anak perusahaan. Jabatan Asisten bagi mereka melebihi seorang direktur di perusahaan biasa, mereka cukup disegani, bahkan kehadiran mereka sangat di harapkan di pertemuan-pertemuan, tentu banyak direktur perusahaan lainnya yang membutuhkan mereka.
"Tanpa kalian aku tak bisa apa-apa, terimakasih masih bersedia bekerja di perusahaan suamiku." Zahira menunduk hormat kepada sembilan orang andalan suaminya.
"Sama-sama Nyonya, kami sangat berterima kasih untuk kepercayaan yang anda berikan." jawab mereka sebagian, diangguki yang lainnya.
"Bahkan jika kalian mengambil semua uang suamiku, aku tidak akan pernah tahu. Maka dari itu sekali lagi terimakasih." ucap Zahira membuat haru semua orang.
"Kami akan bekerja sebaik mungkin, dan jangan lupa bahwa kami juga saling memantau. Jadi kami tak akan berani mengambil apa yang bukan milik kami. Kami berharap Kedua Tuan Muda cepat besar dan sehat selalu, agar bisa segera menggantikan posisi ayahnya. Kami sangat yakin mereka akan menjadi pemimpin yang hebat, melampaui Tuan Anggara."
Zahira mengangguk, matanya sedikit berembun dengan rasa hormat dari banyak orang kepadanya. Tentu saja dia juga sudah tak sabar melihat kedua putranya besar, dua pria tampan dan hebat seperti Anggara. Walau masa itu masih sangat lama, tapi sekedar berharap, bermimpi bahwa masa depan yang indah untuk keduanya pasti akan tiba. Tentu tak akan ada lagi duka ketika melihat mereka dewasa nanti.
Hanya menunggu waktu, walaupun begitu sulit melewati waktu.
Zahira keluar dari ruangan rapat, menuju ruangan khusus yang di sediakan makanan di sana.
"Nyonya, apakah sebaiknya makan di luar saja?" sebagian Dari asisten mereka masih terbiasa dengan panggilan Nyonya.
"Lebih baik di sini, bukankah sudah lama kalian tidak makan bersama suamiku di sini." Zahira membuka pintu ruangan tersebut.
"Bukan seperti itu, ini ruangan khusus." ucap seorang lagi.
"Ya, khusus untuk kita semua." Zahira tak mau di tolak. Namun ponsel wanita tersebut berdering, membuat ia harus mengangkat terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sayang." suara Reza Mahendra langsung terdengar.
"Ya Mas." jawabnya sedikit heran dengan nada yang tak biasa.
"Kau sedang apa?" tanya Reza lagi seperti canggung dan serba salah.
"Di kantor, akan makan siang." jelas Zahira menjawab apa adanya.
"Oh." singkat dan aneh, itu benar-benar tak biasa bagi Zahira.
"Ya sudah, aku lapar." Zahira ingin mengakhiri panggilan teleponnya.
"Ya, makan yang banyak. Aku akan segera pulang." ucapnya terdengar sedih, membuat Zahira semakin berpikiran aneh.
"Kau baik-baik saja Mas?" tanya Zahira penasaran, biasanya dia akan bercanda, menggoda dan merayu.
"Tidak, aku hanya merindukanmu." terdengar dia sedang mencoba tersenyum.
"Baiklah, aku lapar sekali." suara Zahira membuat Reza gemas, tentu dia tahu wanita itu sedang menahan lapar, jika tidak dia tak akan sampai mengatakannya dua kali.
Sedangkan Zahira masih terpaku melihat layar ponselnya. "Ada yang berbeda." gumamnya.
"Apa yang berbeda?" suara seseorang membuatnya menoleh.
"Radit." ucapnya menyimpan kembali ponsel ke dalam saku jasnya.
"Ayo makan." Radit masuk keruangan Zahira tanpa menunggu jawaban. Mau tak mau wanita cantik itu mengikuti Radit dengan menoleh ruangan di belakangnya, rasa lapar dan bingung harus melangkah kemana, tapi akhirnya mengikuti Radit.
"Ada apa?" tanya Zahira takut ada yang penting, mengingat akhir-akhir ini pria itu tak pernah bersikap manis padanya.
"Tidak ada apa-apa, Mama memintaku mengantar makanan untukmu. mungkin beberapa hari ini Mama akan tinggal di rumah." jelas Radit meletakkan makanan di atas meja.
Zahira langsung membuka kotak berisi makanan tersebut, tak perduli Radit memandanginya ia langsung makan dengan lahap. Hingga sudah setengah makanan miliknya masuk ke dalam perut.
__ADS_1
"Ada apa?" Zahira baru menyadari pria disampingnya menatapnya nyaris tak berkedip.
"Kau kelaparan?" tanya Radit masih menatapnya.
"Hem." jawabnya melanjutkan makan. "Mengapa kau tidak pulang?" tanya Zahira sudah hampir selesai.
"Kau mengusirku?" Radit masih tak mau beranjak.
"Tidak, hanya aneh." jawabnya pelan.
"Aneh karena sudah terbiasa ditemani Reza Mahendra?" Radit mengangkat alisnya, namun tak terlihat marah.
"Tidak." Zahira menunduk, malas sekali membahas hal seperti itu dengan Raditya.
"Dia sedang mengantar nenek sihir ke London. Jadi harap sabar, atau tidak usah dekat dengannya. Karena anak tak akan bisa memutuskan hubungan dengan ibunya." ucap Radit santai.
"Aku tidak memintanya memutuskan hubungan dengan ibunya!" tentu Zahira tak melakukan itu.
"Aku tahu, tapi itu akan terjadi jika kau tetap mau menikah dengannya." ucapan Radit tak merubah posisi duduknya.
"Kau pikir aku sudah berpikir untuk menikah?" Zahira menutup makanannya.
"Kalau tidak menikah apalagi? dia sudah senekat itu tentu tujuannya ingin menikahi mu."
"Aku masih ingin fokus mengurus anak-anak." jawab Zahira tak mau melanjutkan perdebatan mereka, memilih jawaban yang mungkin Radit bisa mengerti.
"Jangan jadikan anak-anak sebagai alasan, jika kau bersedia menikah katakan 'iya, kalau tidak ya katakan tidak! Agar dia tidak berharap banyak padamu."
"Sudah ku katakan jika aku masih ingin mengurus anak-anak. Itu bukan alasan dan memang benar adanya."
"Bagi kami para laki-laki itu cuma alasan!" tegas Radit.
"Ya, karena kau tidak tahu rasanya menjadi janda yang punya anak. Coba kau menikah! lalu punya anak, kau pasti akan paham bagaimana rasanya menyayangi mereka dan tidak kan memikirkan apapun lagi termasuk menikah menggantikan ayahnya."
__ADS_1
Hening
Radit tak lagi mendebat, tatapannya berubah sendu.