Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
161. Lima Tahun Kemudian


__ADS_3

Lima Tahun Kemudian......


Seorang laki-laki berusia 24 tahun menarik kopernya dengan pakaian rapi dan style-nya yang mahal. Kaca mata hitam tak lupa terpasang menutupi mata tajamnya dengan rambut lurus hampir menyentuh bingkai kaca mata. Perawakan yang gagah, bahu lebar dan dada bidang jelas terlihat dengan kemeja berwarna putih dengan satu kancing terbuka di bagian kerahnya. Ia menoleh kesana-kemari mencari seseorang di bandara internasional tersebut.


"Akhirnya kau pulang Nak, Mama sungguh merindukanmu." Ayu memeluk tubuh gagah itu dengan penuh rindu.


"Mama, aku juga merindukan Papa dan Mama." membalas pelukan hangat sang mama.


"Kau semakin tampan saja setelah Lima tahun tidak pulang." David memeluknya erat setelah Ayu.


"Tentu saja, aku anak Papa dan Mama." tawanya memperlihatkan gigi berbaris rapi.


"Artinya sudah siap menaklukkan dunia." David tersenyum bangga dengan perubahan putra semata wayangnya yang tampak lebih percaya diri, tenang dan tampan sekali.


"Ya!" Radit membuka kaca mata hitamnya. "Aku memang kembali untuk itu." mata yang menyipit itu tampak tenang namun terdapat keyakinan yang tinggi di sana.


Menempuh pendidikan sekolah menengah selama delapan bulan, dan mengambil Dua jurusan di perguruan tinggi sekaligus selama Empat tahun membuat Radit sangat sibuk, Negeri Melayu itu tak membuatnya berubah dalam bahasa dan kebiasaan namun banyak merubah karakternya dalam menjalani kehidupan. Semakin dewasa, semakin berani, mendapatkan gelar Dua sarjana adalah modal Raditya untuk memimpin perusahaan besar milik sang Mama. Ingin berkuasa, ingin mendapatkan perhatian dunia, dan banyak lagi keinginan jiwa muda yang masih semangat untuk bekerja.


"Lima tahun tidak ada yang berubah di dalam rumah ini." ucapnya setelah sampai di rumah David.


"Hanya merasa nyaman dengan suasana ini, Papa tak mau merubah apapun." jawab David ikut berdiri sejajar dengan putranya.


Mata tajam Raditya tak henti memandangi tangga, di sana banyak sekali kenangan yang indah bersama seseorang bahkan pelukan hangat di anak tangga itu masih terasa.


"Istirahatlah." David mengerti akan raut wajah itu, wajah rindu yang tak mampu di sembunyikan oleh Radit ketika memikirkan Zahira.


"Aku akan mulai bekerja hari ini." Radit duduk di meja makan dengan meraih roti dan susu di pagi itu.


"Ya, jika kau sudah tidak lelah. Bahkan belum Dua puluh Empat jam kau pulang ke rumah ini Sayang." Ayu melihat wajah putranya sangat bersemangat.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku merindukan suasana di kantor." jawabnya sambil mengunyah roti.


"Hari ini ada rapat tahunan di hotel Anggara utama."


"Aku akan datang." sahutnya cepat.


David dan Ayu saling berpandangan, mereka sama-sama memikirkan sesuatu namun diam saja membiarkan Raditya bekerja dengan sejuta semangat di dalam dirinya.


Pakaian rapi dan berkelas, langkah tegap, tampan dan muda. Begitulah kesan yang terlihat ketika ia memasuki aula besar Hotel mewah Anggara, banyak sekali wanita-wanita muda yang melirik seorang Radit, bibir merah dengan kulit putih dan rahang tegas membuat para gadis ingin menjerit, terlebih lagi jika melihat dari dekat, hidungnya yang mancung membuat mereka rasa ingin menggigit.


Brugghhh


"Ah." suara anak kecil itu sepertinya sakit. Terjatuh karena berlari kencang dan menabrak Radit.


"Kau baik-baik saja?" Radit mengulurkan tangannya.


"Hey, mari ku bantu." Radit lebih menjongkokkan tubuh jangkungnya. Radit seakan pernah melihat anak kecil itu tapi entah dimana, mata bening tajam dengan kulit putih bersih, rambut lurus seperti dirinya dan lesung pipi itu terlihat walaupun ia tidak sedang tersenyum.


Anak kecil itu tak mau di bantu oleh Radit, ia berdiri sendiri dengan wajah tanpa senyuman, merapikan pakaiannya yang berkelas dan gaya seperti seorang Bos kecil. 'Menarik sekali' itu kesan pertama yang di lihat Radit.


Anak kecil itu berlalu dengan gaya sombongnya bahkan tak mau menoleh Raditya.


"Anak siapa?" gumam Radit dengan senyum tipis, ia berpikir jika anak kecil bergaya seperti itu akan sangat sulit di taklukkan.


Dan satu lagi anak kecil berlarian, tapi lebih berhati-hati dan sempat berhenti sebelum menabrak seseorang.


"Hey, hati-hati." ucap Radit pada anak kecil yang usianya sama dengan temannya bermain. Ah iya, mereka sedang bermain, tapi siapa yang membawa anak-anak pada rapat tahunan ini?


"Maaf." ucapnya sangat sopan, wajah tenang dengan mata cokelat yang penuh wibawa. kulit putih dan rambut rapi sedikit kasar, bibirnya tipis dan hidung meruncing.

__ADS_1


"Mengapa aku jadi seperti pernah mengenal anak-anak itu?" Radit tampak berpikir sejenak menoleh anak-anak tadi sudah menghilang. "Sepertinya otakku sedang bermasalah." ucapnya lagi memakai kaca mata dan melanjutkan langkahnya.


Seperti biasa, rapat besar dipimpin oleh Anggara sebagai orang paling berpengaruh di dunia bisnis, juga orang yang selalu rutin memberikan sumbangan pada sejumlah lembaga. Pria itu masih saja terlihat tampan dan berwibawa setelah Lima tahun tidak bertemu, sesekali mata mereka beradu pandang dengan pikiran masing-masing saling menilai.


Rapat berakhir dan semua orang berjabat tangan, terutama para senior yang sudah berumur, mereka punya bahasa dan ucapan tersendiri untuk mendapatkan simpati seorang Anggara. Namun tidak dengan Radit, ia tak perlu meminta perhatian Anggara, ia sudah mendapat perhatian dari konglomerat tampan tersebut.


"Selamat atas keberhasilan pendidikanmu." ucap Anggara ketika mereka berjabat tangan.


"Terimakasih. Kau juga masih saja sehebat dulu, rasanya aku ingin mengalahkanmu." Radit tersenyum dengan gurauan namun terdengar seperti keinginan yang kuat.


"Kau akan mengalahkan aku, tapi kau tidak akan mampu mengalahkan dua orang putraku." jawab Anggara juga tersenyum bangga.


"Benarkah? Mereka masih terlalu kecil, mereka tak akan bisa berbuat apa-apa." Radit berkata dengan yakin.


"Kau butuh Dua puluh tahun untuk benar-benar mengalahkan aku, tapi tak butuh waktu selama itu untuk membuat mereka menjadi pemimpin yang tidak tertandingi." jelas Anggara lagi.


"Kau selalu saja yakin."


"Hidup memang harus selalu yakin." jawabnya tenang.


"Datanglah ke rumahku nanti malam, aku ingin melihat bagaimana hebatnya putra-putramu yang akan menjadi pemimpin hebat itu. Atau aku akan menculiknya sebelum dia dewasa." Radit berlalu dengan senyum dan tatapan yang lebih tenang. Dia sungguh berbeda setelah Lima tahun yang lalu memperlihatkan wajah sedih di hadapan Anggara.


"Bilang saja mau bertemu istriku." gumam Anggara tak suka.


Radit tersenyum tanpa menoleh, ia masih bisa mendengar kata-kata tak suka dari Anggara. Memang benar adanya jika Radit ingin sekali bertemu Zahira, ia benar-benar rindu melihat wajah cantik itu.


'Berdosakah jika merindukan istri orang?' tentu saja Iya!


'Dahulu dia yang mengagumi dan mencintai istriku diam-diam, aku juga bisa.' Radit semakin tersenyum membuka pintu mobil dan kembali melaju menuju kantornya.

__ADS_1


__ADS_2