Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
82. Sah


__ADS_3

Mata coklatnya berbinar dengan senyum manis mengembang tanpa dia sadari, gadis itu terlihat sempurna dengan riasan juga pakaian yang membalut tubuh kecilnya. Dia seperti Ratu, duduk dengan perlahan dan menunduk sedikit tersenyum dan tak mau melihat pada orang yang akan mengucapkan ijab pada penghulu.


Ijab kabul di mulai


"Saudara Galih Anggara Putra, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Zahira Putri Bramastya binti Aldo Baramastya dengan mas kawin seperangkat perhiasan berlian di bayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Zahira Putri Bramastya binti Aldo Bramastya dengan maskawin tersebut di bayar tunai!"


Sah


sah


sah


Alhamdulillah, senyum dan syukur terucap dari semua orang yang hadir. Tak terkecuali pria yang baru saja mengucap ijab dengan yakin sekali, dia tersenyum menoleh istri cantiknya yang belum berani menatap hingga beberapa detik berikutnya.


Tangan lembut itu meraih jemari halus yang selalu setia menghibur dan menemaninya, sebuah kecupan mendarat di punggung tangan yang selalu membuat hatinya bergetar, jiwa dewasanya memberontak ketika membayangkan tangan halus nan hangat pria itu menyentuh dirinya.


Dan tak lupa kecupan hangat dari bibir tipis itu mendarat di kening Zahira, seketika rasa damai menyelimuti jiwa gelisahnya. Ah lagi-lagi bulu di sekitar bibir pria dewasa itu seakan mengelitik memberikan kehangatan pada hati yang selalu berharap setiap malamnya.


"Selamat Bapak Anggara, akhirnya anda mengakhiri masa lajang dengan seorang gadis muda dan sangat cantik sekali." salah satu rekan bisnis yang sengaja di undangnya ikut berbahagia.


"Terima kasih." jawab Anggara segera berjabat tangan, di ikuti banyak ucapan selamat dari yang lainnya.


Suasana hangat dan bahagia menyelimuti ruangan luas bak istana, suara tawa dan puji-pujian dari banyak relasi juga bawahannya terdengar silih berganti.


"Kau pandai sekali memilih istri, jika masih ada yang seperti itu aku juga mau." canda seorang pria yang merupakan pria dewasa namun belum memiliki pendamping hidup, bedanya dia seorang Casanova.


"Mana ada gadis seperti itu mau menikah denganmu!" salah satu yang lain ikut serta menyahut.


"Ah kau ini, jika aku menemukannya aku akan berhenti menjadi Casanova." ucapnya tertawa sesekali melirik Zahira yang duduk bersama Bibi.


"Sayang sekali itu sudah terlambat." sahut yang lainnya juga menciptakan gelak tawa.


Anggara hanya mendengar dengan tersenyum seperti biasa, wibawanya sebagai penguasa begitu terlihat di manapun dia berada, sosok tampan dan sedikit pendiam itu selalu mendapat tempat untuk di hormati.

__ADS_1


"Atau dia memiliki saudara kembar?" tanya pria itu lagi masih sangat penasaran.


"Tidak ada, dia unlimited." Ricky menyahut sambil membawa piring makanan duduk santai di tengah-tengah mereka.


"Dia sangat tidak sopan, harusnya kami yang lebih dulu makan." kehebohan mereka terus terjadi.


"Ambil saja sendiri, kalian sudah besar, punya tangan dan kaki." Ricky tak peduli dan terus menikmati makanan di piringnya.


"Aku rasa Anggara sering makan hati gara-gara dirinya."


"Enak saja, aku asisten andalannya, tanpa aku hidupnya tidak akan sempurna." Ricky tak mungkin mengalah.


"Makanlah dan nikmati hidangannya." Anggara buka suara.


"Baiklah, aku sudah lapar."


Mereka semua menikmati suasana kekeluargaan itu, santai dan hangat begitulah acara yang Anggara inginkan, tak banyak orang yang tahu, hanya sebagian kecil yang mendapat undangan sekedar memberi tahu bahwa pria kaya itu telah melepas masa lajangnya. Dengan begitu tak akan ada lagi anak pengusaha yang meminta di jodohkan padanya.


"Makan apa sayang?" Anggara mendekati Zahira yang terlihat sudah melepas hiasan di kepalanya.


"Enak." ucap Anggara mengunyah kentang yang di berikankan istrinya.


"Lagi?" tanya Zahira senang karena Anggaran datang mendekat.


"Makanlah, aku bisa makan nanti." jawabnya tersenyum manis sekali.


Beberapa menit berlalu setelah ijab kabul itu terlaksana langsung menghebohkan seluruh pengusaha, baik kalangan atas, menengah juga ke bawah. Tak terkecuali David, Ayu juga Anwar yang sangat penasaran seperti apa istri seorang pembisnis besar seperti Anggara.


"Anggara menikah, tapi dia tidak mengundang kita." David membaca pesan dari rekan bisnisnya yang hadir di pernikahan Anggara.


"Mungkin dia masih kesal atas kepergian Zahira, aku sempat bertemu dengannya beberapa Minggu lalu, dia tidak menyapaku." Ayu bercerita.


"Dia sangat menyayangi Zahira sejak bayi, wajar saja jika dia kesal pada kita." David menatap Ayu dengan pikiran entah kemana.


"Dia sedang tidak menyukai keluarga kita." ungkap Ayu sedikit kecewa.

__ADS_1


"Bukankah kau masih punya kerja sama dengan salah satu perusahaannya?" David ingat saat itu mereka makan bersama.


"Iya, aku sendiri jadi serba salah." Ayu menunduk sedih.


"Dia bukan orang yang jahat, entah jika dia memiliki ketersinggungan pada kita, seperti halnya kehilangan Zahira." David mencoba mengingat bahwa Anggara memang tak pernah kejam dalam berbisnis.


"Dia sangat menyalahkan kita David." jawab Ayu lagi.


David terdiam dengan pikiran entah kemana.


Sementara di tempat lain, di sebuah Cafe tak jauh dari sebuah apartemen itu dua orang beda usia sedang bertemu. Pria paruh baya itu menatap gadis muda yang sedang mengandung dengan tak berkedip.


"Jika kau sudah tidak tahan lebih baik menyerah saja." ucapnya pelan.


"Tidak Papa, aku sudah sejauh ini. Lagi pula ibu mertuaku sudah mulai luluh dan perhatian padaku, aku tak akan menyerah sampai Radit pulang dan hidup bersamaku." jawabnya masih begitu bersemangat.


"Papa tidak bisa membantumu." ucap pria itu lagi.


"Aku akan menjalaninya sendiri, lagi pula Zahira sudah mati." ucapnya begitu kasar.


"Zahira?" tanya pak Anwar.


"Ya, wanita yang sangat di cintai Radit Papa." jelasnya tersenyum penuh harapan.


"Mengapa namannya sama dengan istri Tuan Anggara, dia baru saja menikah dan membuat heboh semua media. Dia melarang media menyebut nama istrinya tapi papa mendengar dari rekan kerja papa yang hadir di sana menyebut nama Zahira adalah istrinya." pria tua itu terlihat berpikir.


"Itu tidak mungkin orang yang sama, Zahira sudah hangus di dalam mobil bututnya." jelas wanita itu lagi.


"Bagaimana kalau dia belum mati?" tanya Anwar dengan raut wajah serius.


"Dia sudah di makamkan Papa!" dia sangat yakin.


"Karena Tuan David dan Nyonya Ayu juga tak di undang Merry, padahal selama ini mereka sangat dekat." Anwar menatap wajah Merry dengan khawatir.


"Mana mungkin Papa!" dia tidak mau percaya, namun sedikit hati kecilnya mulai resah.

__ADS_1


"Seingat Papa, Tuan Anggara begitu menyayangi gadis itu bahkan dia adalah salah satu yang mengajari wanita itu bekerja. Dia rela meninggalkan rapat demi mengajari gadis itu di kantornya. Papa salah satu peserta rapat itu ketika satu tahun yang lalu!" pria itu mulai di serbu berbagai pikiran.


__ADS_2