
Anggara tetap tak menjawab, hanya tatapan mata sendu yang terlihat dari sisa tenaga yang kian melemah.
"Bertahanlah Mas, ingat ada aku yang tidak bisa hidup tanpamu. Ada Sadewa dan Satria yang butuh Ayah yang hebat seperti dirimu." tangis Zahira semakin menjadi, tak pernah putus air mengalir di sudut mata.
"Kita akan segera sampai." ucap David yang sejak tadi diam tak kuasa bicara. Juga Radit yang tak mengucap sepatah katapun, mata sipitnya tak pernah berpaling dari Zahira yang menangis pilu. Walau sesekali ia menatap lurus jalan di depannya, tapi sungguh sudut matanya tak bisa lepas dari Zahira yang tampak begitu hancur menatap wajah pucat Anggara, laki-laki yang sudah memiliki wanita tercinta.
Ya, dia benar-benar memiliki Zahira dengan utuh, tak hanya raga dan status, tapi hati dan jiwanya tanpa tersisa nama Radit di dalamnya.
"Kita sudah sampai" David berucap lagi.
Zahira mengusap air matanya, mencoba menyingkirkan air yang menghalangi penglihatannya, meskipun lagi dan lagi, air rasa asin itu kembali menghalangi.
Anggara langsung di bawa ke ruang Operasi setelah dokter melihat adanya luka tembakan.
"Ibu tunggu di luar!" seorang suster melarang.
"Tapi Sus, aku takut suamiku pergi." tangisnya memohon untuk mendampingi Anggara.
"Sebentar Bu. Sabar ya!" Suster itu menutup pintu ruang operasi.
"Suster!" teriaknya dalam tangis. Tangan lentiknya meraba pintu yang tertutup rapat itu, hingga duduk merosot dengan hati yang sakit.
Ayu mendekati Zahira, mengajaknya berdiri dan duduk di kursi tunggu tak jauh dari mereka. Ia sengaja menemani Zahira yang kini menyandar lemas dengan nafas naik turun, dadanya terlihat sesak.
"Ibu." suara Sadewa membuyarkan lamunan diantara tangisnya.
Zahira menoleh, tampak wajah polos itu sedang menatapnya dengan sendu, juga Satria, anak laki-laki yang terlihat berani itu kini menunduk.
Zahira meraih keduanya dalam pelukan, sangat dalam membenamkan wajah-wajah tampan anak-anak kesayangan suaminya. Anak-anak yang selalu membuat pria itu bangga dengan segala kecerdasan seperti dirinya. Pelukan hangat dari dua pasang tangan kecil itu sungguh menghangatkan hati, juga wajah-wajah halus itu terasa mendamaikan jiwanya yang kini sangat ketakutan.
"Apa ayah akan sembuh?" tanya Satria menatap ibunya yang masih menangis.
__ADS_1
"Ya, Ayahmu pasti sembuh Sayang. Kalian harus doakan Ayah." ucap Zahira dengan derai air mata.
Tangan kecil Sadewa terangkat, jari kecilnya menghapus air mata Zahira. Wajah teduh itu mirip sekali dengan Anggara, sehingga air mata yang sempat terhapus itu kembali mengalir malah semakin deras.
"Ibu!" panggilnya seakan memohon untuk tidak menangis.
"Ibu hanya sedang khawatir, Ibu-, Ibu takut."
"Ibu!" Mereka menghambur kembali memeluk Zahira, mereka menangis berpelukan.
Ayu membuang pandangannya dengan air mata tak mampu dibendung, ia merasa dadanya berat dan sulit bernafas mendengar tangisan sedih memilukan.
"Sini ikut Kakek!" David mendekat dan mengelus kedua cucunya yang masih memeluk Zahira.
"Tidak mau Kek, aku ingin bersama Ibu." jawab Satria menggeleng dalam pelukan Zahira, juga Sadewa hanya diam memeluk ibunya.
"Kakek di sini Sayang, kita hanya duduk menjaga Ibu juga Ayahmu. Biarkan Ibu beristirahat sejenak, Ibumu sesak dan lelah Sayang." David membujuk Satria dan Sadewa.
"Anak pintar." David memeluknya dan membiarkan Satria menyandar di bahunya. Sedangkan Sadewa masih bersama Zahira, mengelus pipi ibunya dan memeluk tak mau beranjak.
"Minumlah Sayang." Ayu menyodorkan air mineral pada Zahira. Walau ia menggeleng dengan air mata kembali jatuh. "Lihatlah mereka, Satria dan Sadewa butuh dirimu Nak! Kasihan mereka." Ayu membujuk.
Akhirnya Zahira meraih dan meminum air mineral itu sedikit. Walau hanya sedikit tapi cukup membuat Ayu lega, paling tidak seteguk air sudah melewati tenggorokan putrinya.
"Ma! Bagaimana Om Anggara?" Radit baru saja mengurus beberapa orang bodyguard Anggara yang terluka bersama Jia. Juga beberapa orang bayaran Daniel yang terluka parah, kini di rawat dan di jaga polisi.
"Dia masih di dalam."Jawab Ayu hanya melihat ruangan yang tertutup rapat.
Radit duduk di samping David, pria itu tak henti menatap Zahira yang lemas dan sembab. Ingin berbicara tapi ia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa. Pria tampan itu memilih diam duduk dengan rambut lurusnya terlihat kusut.
"Sadewa, sini bersama Bibi!" Jia mengajak Sadewa yang tak mau lepas dari pangkuan Zahira.
__ADS_1
Sadewa menggeleng, mata cokelatnya menatap sendu wajah Zahira.
"Ibu tidak apa-apa, hanya sedang bersedih, sama seperti Kakek, Nenek, dan semuanya." Jia membujuk.
Akhirnya Sadewa menurut, tentu ia tahu jika yang paling bersedih di sana adalah ibunya, bukan Kakek, bukan Nenek, bukan juga yang lainnya. Tapi yang di katakan Jia ada benarnya jika ibunya sedang sangat bersedih, mungkin sedikit ruang untuk bernafas lega. Ia duduk di pangkuan Jia, dengan mata tak lepas dari Zahira yang kini menunduk menutupi tangis dan air mata.
Diluar sana, berita tertembaknya Anggara menyebar cepat, semua media menjadikan berita itu paling teratas, mereka menyebutkan dan menjabarkan hal sama tapi dengan judul dan bahasa yang berbeda-beda.
Mereka mengambil keuntungan dengan adanya kejadian itu, seolah sedang menemukan tambang emas di lahan sendiri, mereka menggali dan mengejar asal sumber kejadiannya. Halaman rumah pribadi Anggara tampak ramai, rumah yang terbakar juga sangat ramai, di jalan menuju bandara tak kalah ramai, di kantor dan hotel semuanya terlihat sibuk dengan banyaknya wartawan yang datang.
Rumah sakit, di luar rumah sakit juga kini berdatangan jurnalis dengan kamera bermacam-macam jenis, ingin mengetahui seperti apa keadaan sang konglomerat yang masih tergolong muda.
Jia sibuk mengubungi rekannya yang lain, ia khawatir mereka masuk dan menganggu kenyamanan majikannya.
Pintu ruangan operasi terbuka, setelah sekian jam akhirnya dokter keluar. "Keluarga Tuan Anggara?" Dokter itu melepas masker diwajahnya.
Zahira segera berdiri. "Saya Dok! Bagaimana suamiku?" tanya Zahira dengan wajah sedih dan penuh harap.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dan berhasil mengeluarkan peluru di dadanya. Tapi-"
"Tapi Apa Dok?" tanya Zahira histeris, ia menggeleng dan menangis.
"Kita bicara diruanganku" Dokter itu meminta untuk mengikutinya.
"Dok?" panggil Zahira pelan, ia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan suaminya.
"Duduklah Nyonya!" perintahnya halus.
Zahira duduk perlahan, bersiap dengan apa yang akan di dengarkannya.
"Suami anda mengalami koma." Dokter itu berhenti sejenak. "Jantungnya bocor dan harapan untuk hidup sangat tipis."
__ADS_1